Setelah sempat menjadi polemik panas menjelang Pemilu, sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram bagi Golput, isu Golput kembali mengemuka. Banyak orang salah sangka bahwa Golput dikategorikan sebagai kemalasan partisipasi publik dalam arena demokrasi. Golput berarti orang tidak menyukai pilihan politik yang tersedia dalam pemilu dan memutuskan untuk tidak berpartisipasi. Keputusan untuk tidak berpartisipasi sungguh didasari oleh pemahaman komprehensif tentang: pertama, kemampuan para calon pemegang pemerintahan maupun mereka yang sedang berkuasa dan kedua cara pemilu dilaksanakan. Mereka melihat pihak yang berkuasa maupun para calon-calon legislatif sebagai orang-orang yang tidak mampu membawa perubahan. Para golput ragu dan tidak yakin juga dengan mekanisme pemilu yang mereka anggap tidak mampu melahirkan orang-orang kredible. Jadi ketidakyakinan dan keraguan akan perubahan ke arah yang lebih baik menjadi pemicu utama Golput.
Tentu saja Golput menakutkan bagi para pemegang kekuasaan karena hasil pemiu kemudian menjadi lemah dalam legitimasi tidak merepresentasikan kehendak mayoritas warga.
Kalau Golput dimengerti demikian maka Golput punya makna positif yaitu menjadi katalis untuk perbaikan sistem yang ada atau menjadi koreksi sistem yang kita anut. Golput dalam dengan demikian sangat rasional karena merupakan pilihan sengaja berdasarkan pemahaman yang kritis dan komprehensif atas calon dan sistem yang berlaku. Golput dengan demikian juga bentuk lain dari partisipasi publik namun berada "di luar jalur resmi", karena ia tidak masuk dari bagian kanal resmi (partai-partai politik) yang ditentukan. Bukan berarti saya pendukung Golput tapi menurut saya Golput bisa menjadi kekuatan yang berarti bagi perbaikan sistem. Hal ini menunjukkan bahwa pemilih semakin bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
nah....inilah rasionalitas Golput di Pilpres nanti!
Pertama, jika kita Golput di Pemilu yang lalu sebaiknya juga Golput di Pemilihan Presiden. Karena bagaimana mungkin kita memilih Presiden yang dilahirkan dari orang-orang yang kita anggap tidak memiliki kemampuan? Seklai golput tetap golput!
Kedua, kalau di Pemilu yang lalu kita berpartisipasi maka sebaiknya kita memiilih dan tidak Golput di pilpres nanti. Mengapa? Karena dengan memilih di pemilu, dengan sistem yang berlaku kita sebenarnya sudah tahu kira-kira siapa yang akan maju di pilpres nanti. Dan orang-orang yang ada sekarang adalah pilihan kita juga!
Ketiga...ehm...terserah deh! he...he...he...