Wednesday, April 22, 2009
EUREKA sang pengembara!
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Tidak terasa waktu berlalu dan aku pun larut dalam keberlaluan itu. Ada saat-saat mencengangkan ketika kejutan-kejutan terjadi bak rentetan skenario tak bertuan. Ada saat-saat sendu ketika peristiwa-peristiwa berlalu lepas dari pemaknaan. Semuanya berbaur dalam ketegangan abadi. Inilah seni hidup ketika aku berdiri tegak di antara realitas paradoksal.

Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali akan sebuah mimpi. Mimpi akan sebuah hidup dalam kebermaknaan saat derita lenyap dan surga menjadi nyata. Aku suka bermimpi akan Dia yang datang dalam segala kebesaran-Nya dan menghapuskan segala derita dunia. Dia hadir dalam cakap solilokui, dalam bisik lembut! “Engkau akan menjadi duta-KU”. Pikirku mengembara ke kisah sang Krisna dalam Baghavad Gita “Mungkinkah Engkau mengutusku sebagai duta untuk meyakinkan bahwa dunia adalah tempat berpentas? Atau menyakinkan sang Arjuna tentang dharma?”

Dan hidup tetaplah misteri!

Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali kategori pikirku tempat aku memasukkan persepsi dan pemahamanku. Ibarat bejana disanalah aku mengurung Dia, Dia yang selalu lepas dari pikirku. Aku sempat meragukan-Nya, sempat berpikir membuang-Nya dan menggantikannya dengan berhala.

Namun Ia tak rela melepaskanku dalam keremangan hidup!

Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku.
DIA adakan aku dari ketiadaan!

EUREKA! Engkau ADA !

Terima kasih TUHAN !

(catatan lusuh yang tak pernah lantak setahun yang lalu)


Saturday, April 18, 2009
Celoteh Pagi
Hari ini terasa beda
pagi merekah
indah
tak akan ada lagi hitungan menuju senja

mimpiku akan terasa sempurna!


Friday, April 17, 2009
Musim semi telah tiba!
(1)
Musim semi telah tiba!
Akan kutepati janjiku mengarak langkah pongahku ke seberang danau membiru, membius diri dalam hangat sang mentari dan semilir angin yang berhembus. Ah.....tak sabar lagi kakiku menginjak kerasnya jalanan di tepian air beriak, tak sabar lagi mataku memandang ke titian berkelok, tak sabar lagi tanganku berayun ke arah bola berpendar di ujung jalan sambil berharap sirnanya kebiruan yang menghantu ini.

(2)
Musim semi telah tiba!
Lupakani cakrawala sang petang yang telah menjadikan malam terasa semakin panjang. Dan...lihatlah undangan pesta sang siang dalam cahayanya yang tak pernah redup. Sang siang dan petang tunjukkan wajah yang bersahabat.

(3)
Musim semi telah tiba!

ah....di mana kusimpan sepatu bolaku?


Monday, April 06, 2009
Chicago masih dingin
Chicago masih dingin!
Terima kasih atas sapa-sapamu yang selalu mengejutkan. Engkau selalu hadir di pagi hari ketika hari masih malas beranjak, ketika aku masih goyah didera rasa kantuk yang tak tertahankan. Engkau hadir bersama sang penanda pagi mengiringi langkahku menuju mesbah Sang Kalik. Yah aku ingat sekali kata singkatmu malam itu untuk membawa nama-nama bisu di hadap-Nya.

Chicago masih dingin!
Daun-daun hijau pun masih enggan menampakkan diri. Pun angin tak bosan berhembus.
Masih dari bilik berpenghangat dan di bawah temaram dian ini aku daraskan masmur-masmur pagi, menuliskan solilokui diri dan berangan tentang mendaki gunung Zion. Aku selalu berharap engkau menyambut pagi dengan senyum seperti pernah engkau janjikan di waktu lalu.

Semoga kau baik-baik saja!


Thursday, April 02, 2009
Madah Pagi 2
Ada yang tertinggal
yang masih kusimpan erat
dan tak pernah terkatakan
namun Engkau tahu

masih pada sudut yang sama
di bawah temaram dian di pagi yang dingin
kuhitung sapa dan hardik-Mu
seperti pagi-pagi sebelumnya

aku rebah
aku lelah
aku gelisah

Tuhan...aku masih di sini!


Surat kepada Tuan-Tuan!
Tuan-tuan yang terhormat,

Tuan-tuan tidak usah berpikir yang aneh-aneh tentang tarian jari-jariku di notes ini. Jemari saya hanya menari dan frasa-frasapun terbang ke angkasa. Saya berharap diri ini ikut terbang bersamanya. Tidak ada maksud sama sekali untuk mewartakan diri dan melambungkan rasa yang terlanjur menyeruak dan berhimpit-himpitan menembus sukma. Kalau tuan-tuan berpikir bahwa inilah kedirian saya yang seutuhnya maka tuan-tuan telah berpikir melampaui harapan saya. Tapi sah-sah saja karena saya telah membuangnya dan tuan-tuan bebas memungutnya.

Tuan-tuan juga tidak usah berpikir bahwa saya patut dikasihani karena kekerdilan diri yang terus berlitani berolah rasa, antara putus asa, kerinduan, nostalgia dan cinta. Bukankah semuanya wajar saja ketika diri ini masih terbungkus daging dan darah? Juga kata-kata saya yang tidak juga berubah seolah mewadah dalam masokisme dan narsisme. Tuan-tuan harap mengerti kalau saya bernazar untuk tidak menyimpannya dalam diri ini dan menjadikannya manuskrip bisu tak berguna.

Tuan-tuan yang terhormat,
Tuan-tuan boleh saja menerka-nerka dan bermain dalam seribu satu kemungkinannya tentang tarian jari-jari saya. Saya berharap tuan-tuan pun bisa menikmati dan bersatu degannya.

sekian dan terima kasih!