Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Tidak terasa waktu berlalu dan aku pun larut dalam keberlaluan itu. Ada saat-saat mencengangkan ketika kejutan-kejutan terjadi bak rentetan skenario tak bertuan. Ada saat-saat sendu ketika peristiwa-peristiwa berlalu lepas dari pemaknaan. Semuanya berbaur dalam ketegangan abadi. Inilah seni hidup ketika aku berdiri tegak di antara realitas paradoksal.
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali akan sebuah mimpi. Mimpi akan sebuah hidup dalam kebermaknaan saat derita lenyap dan surga menjadi nyata. Aku suka bermimpi akan Dia yang datang dalam segala kebesaran-Nya dan menghapuskan segala derita dunia. Dia hadir dalam cakap solilokui, dalam bisik lembut! “Engkau akan menjadi duta-KU”. Pikirku mengembara ke kisah sang Krisna dalam Baghavad Gita “Mungkinkah Engkau mengutusku sebagai duta untuk meyakinkan bahwa dunia adalah tempat berpentas? Atau menyakinkan sang Arjuna tentang dharma?”
Dan hidup tetaplah misteri!
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali kategori pikirku tempat aku memasukkan persepsi dan pemahamanku. Ibarat bejana disanalah aku mengurung Dia, Dia yang selalu lepas dari pikirku. Aku sempat meragukan-Nya, sempat berpikir membuang-Nya dan menggantikannya dengan berhala.
Namun Ia tak rela melepaskanku dalam keremangan hidup!
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku.
DIA adakan aku dari ketiadaan!
EUREKA! Engkau ADA !
Terima kasih TUHAN !
(catatan lusuh yang tak pernah lantak setahun yang lalu)
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali akan sebuah mimpi. Mimpi akan sebuah hidup dalam kebermaknaan saat derita lenyap dan surga menjadi nyata. Aku suka bermimpi akan Dia yang datang dalam segala kebesaran-Nya dan menghapuskan segala derita dunia. Dia hadir dalam cakap solilokui, dalam bisik lembut! “Engkau akan menjadi duta-KU”. Pikirku mengembara ke kisah sang Krisna dalam Baghavad Gita “Mungkinkah Engkau mengutusku sebagai duta untuk meyakinkan bahwa dunia adalah tempat berpentas? Atau menyakinkan sang Arjuna tentang dharma?”
Dan hidup tetaplah misteri!
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku. Saat-saat seperti ini aku ingat kembali kategori pikirku tempat aku memasukkan persepsi dan pemahamanku. Ibarat bejana disanalah aku mengurung Dia, Dia yang selalu lepas dari pikirku. Aku sempat meragukan-Nya, sempat berpikir membuang-Nya dan menggantikannya dengan berhala.
Namun Ia tak rela melepaskanku dalam keremangan hidup!
Saat yang kunanti adalah saat aku kembali kebermulaan saat mengagumi misteri kejadianku.
DIA adakan aku dari ketiadaan!
EUREKA! Engkau ADA !
Terima kasih TUHAN !
(catatan lusuh yang tak pernah lantak setahun yang lalu)


