Monday, March 30, 2009
Mimpi 2
Aku terbang lagi
tinggi menembus awan

tak pernah sirna rasa yang terus bergusar ini
terulang bak refren madah pagi
mimpiku pada malam itu
tinggalkan degub tak berkesudahan

haruskah aku membenci sang malam?


Sunday, March 29, 2009
Starbucks 5
Deret kursi berjajar di ruang memanjang
di remang dian di ujung jalan
sejurus mata ini memandang
pada sang pemilik wajah bundar dan jari lentik

nikmatnya melepas dahaga
hangat berselimutkan canda
semenjak canda kita berlanjut
yang selalu berakhir koma

akankah kita lalui saat-saat hangat
yang tak pernah menjadi harap yang mengkristal?
ah......seandainya waktu tak cepat berlalu
kan kubawa cerita sang cinderela di balik jendela
dan kisah lelaki kuyup diterpa saang hujan!

(waktu hampir jam 11 malam!)


Friday, March 27, 2009
Tentu aku takkan lupa!
Tentu aku takkan lupa, juga pada kamu sang penunggang badai, karena ingatanku takkan lepas begitu saja. Lima tahun boleh berlalu tapi kenangan itu takkan hilang karena lembaran-lemaran lusuh itu masih tersimpan rapi di laciku. Pagi ini kubuka lagi lembaran-lembaran bisu itu.

Tentu aku takkan lupa, juga pada kisah menunggu senja, berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang dan berderak bersama sang ombak, serempak kita bersorak mendapati lumba-lumba berarak ke tepian. Kita menari, menari bersama alam yang tak pernah bosan bersenandung ketika hari mulai senja.

Tentu aku takkan lupa, juga pada kisah sampan di tepian sungai, ketika ombak menerjang tanpa ampun sampan kita. Yah....alam tak sajikan keindahan waktu itu pun laut yang mengumbar kemarahan kecut sesaat. Lalu kita bernazar pada sang laut, tunggu aku besok pagi karena kita adalah sahabat. Dan benar kita telah bersahabat dengan laut karena memang kita tidak pernah membencinya. Ratusan kilo kita lalui dan berakhir pada sebuah gugusan pulau di sebelah barat pelabuhan. Yah...kita menari lagi bersama sang ombak!

Tentu aku takkan lupa, juga pada nyanyian sore hari di panggung sebelah rumah. Tak pernah lelah kita berzabur memuji sang Pencipta. Aku akan berdiri di mesbah kayu tua dengan kata-kata dan kamu akan duduk di ujung cendela dengan mata nanar. Ah....sejurus mata memandangmu kata-kataku hadir begitu saja!

Tentu aku takkan lupa, juga pada frase terakhirmu terucap di bawah menara. "Pergilah sahabat raihlah mimpi-mimpimu, aku akan mendoakanmu!"

"Telah kau raihkah mimpi-mimpimu?"

(kubalasemailmusedetikyanglalu)


Monday, March 23, 2009
Meredam masa
imagi hadirkan ingat
merayap senyap
hadirkan keutuhan naluri
janjikan kehadiran nyata

degub itu masih ada
tetaskan bulir-bulir rindu

kembara sang budi
menembus ingat sang imagi
bingkainya semakin nyata
dalam lubuk rapat tersimpan

menembus ingat kita
adaku adalah keniscayaan
adamu adalah afirmasi
tiada negasi di keduanya

Ini ingatan kita!

tapi rinduku adalah milikku!


Friday, March 20, 2009
Solilokui 9
Kata jujurmu hempaskan aku dalam keraguan. Ia telah menjebakku dalam perangkap rasa. Aku tenggelam dalam kekelaman! Aku berpikir semalaman: "Mungkinkah aku mengulangi skenario lama, membingkaimu kembali dalam ruang imajiku?

Malam ini ketika kutelusuri kembali jalan berkelok tak berujung yang kita lalui, aku ingat akan sebuah janji tak terucap waktu lalu. Janji yang telah lewat tertelan waktu itu telah menjadi setitik asa bernyawa. Mengapa engkau tetap memeliharanya? Mungkinkah kau mengingatnya sebagai prasasti kepastian?

Malam ini aku mencoba tidak bermimpi. Aku telah bosan kemayaan dirimu yang membawaku jauh ke angkasa kepada rembulan, bintang dan awan.

Maafkan aku,
Kepastian fajar pagi telah usang oleh keraguanku. Juga senja yang tak janjikan apa-apa. Tak mungkin kujalani kehidupan tak bertuan. Tak mungkin lagi kuberpaling pada jalanan terjal yang telah terlampaui.

Maafkan aku,
Api telah menyala dan membakar diri ini. Mungkinkah kau biarkan aku hangus karenanya? Tahukah kamu semalaman aku lelah menunggu tarian magismu berakhir?

Maafkan aku,
Aku tutup lembaran tak berjudul ini.

Biarlah cerita kita berakhir prematur!


Monday, March 16, 2009
Solilokui 8
Sudahkah kauhapus selaksa “seandainya”?
Sudahkah kaubuang impian penuh kesiaan?
Sudahkah kaulenyapkan kisah penuh kesemuan?
Sudahkah kaututup nostalgia penuh tipu daya?

terbanglah tinggi ke angkasa!

Biarlah cerita kita lenyap
Biarlah cerita kita hangus
Tinggalkan manuskrip tak bertuan
Diterpa sang masa yang berlari

dan...jangan panggil aku kembali!


Solilokui 7
Dari menara tak bertuah di tepian telaga kupandang dirimu berjaga. Aku berdiri di antara ketinggian yang tak terbayangkan. Dan aku memandangmu jauh di sana di antara selaksa ketidakmungkinan. Tidak mungkin aku membawamu kemari karena kau jauh dari jangkauanku.
Tidak mungkin aku menghapusmu karena kau tak lepas dari pikirku.
Tidak mungkin kau bersamaku karena kau bukan takdirku.
Dari semula aku tak pernah menyulam cerita kita karena kehadirannya menyerupai hantu di malam kelam, hadir begitu saja ketika senja tiba! Setiap pernik plotnya menghempaskan daku pada kenihilan. Yah...menysusuri ketikmungkinan bersamamu adalah hampa dan terus berjalan di dalamnya hanya mencipta ilusi sesaat.

Kita sudahi saja!


Friday, March 13, 2009
Buatmu Sahabatku!
Seandainya pijar itu kembali buram
jangan lihat kembali ke belakang
ke saat cahya benderang di masa silam

jangan biarkan ketersilaman menyurutkan hasratmu
hingga tak lagi berbinar wajahmu di temaram hari yang kian hangat
percayalah ini hanyalah setitik nila yang akan hilang pada waktunya

kamulah sang empunya arah
takkan goyah dalam pusaran waktu tak bersabahat
karena kamu tetaplah batu karang berdiri tegak di hempasan gelombang!