Tentu aku takkan lupa, juga pada kamu sang penunggang badai, karena ingatanku takkan lepas begitu saja. Lima tahun boleh berlalu tapi kenangan itu takkan hilang karena lembaran-lemaran lusuh itu masih tersimpan rapi di laciku. Pagi ini kubuka lagi lembaran-lembaran bisu itu.
Tentu aku takkan lupa, juga pada kisah menunggu senja, berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang dan berderak bersama sang ombak, serempak kita bersorak mendapati lumba-lumba berarak ke tepian. Kita menari, menari bersama alam yang tak pernah bosan bersenandung ketika hari mulai senja.
Tentu aku takkan lupa, juga pada kisah sampan di tepian sungai, ketika ombak menerjang tanpa ampun sampan kita. Yah....alam tak sajikan keindahan waktu itu pun laut yang mengumbar kemarahan kecut sesaat. Lalu kita bernazar pada sang laut, tunggu aku besok pagi karena kita adalah sahabat. Dan benar kita telah bersahabat dengan laut karena memang kita tidak pernah membencinya. Ratusan kilo kita lalui dan berakhir pada sebuah gugusan pulau di sebelah barat pelabuhan. Yah...kita menari lagi bersama sang ombak!
Tentu aku takkan lupa, juga pada nyanyian sore hari di panggung sebelah rumah. Tak pernah lelah kita berzabur memuji sang Pencipta. Aku akan berdiri di mesbah kayu tua dengan kata-kata dan kamu akan duduk di ujung cendela dengan mata nanar. Ah....sejurus mata memandangmu kata-kataku hadir begitu saja!
Tentu aku takkan lupa, juga pada frase terakhirmu terucap di bawah menara. "Pergilah sahabat raihlah mimpi-mimpimu, aku akan mendoakanmu!"
"Telah kau raihkah mimpi-mimpimu?"
(kubalasemailmusedetikyanglalu)