Monday, February 23, 2009
Mencintai malam, berteman mimpi hingga pagi menyambut kebaruan. Entah berapa lama aku telah bersolilokui menikmati kedirianku ini. Aku tidak mau beranjak darinya!
Dan pagi ini aku berpacu dengan-Mu mendaki bukit di seberang pulau, ketika awan gemawan beranjak mengejar mentari senja. Engkau yang tak pernah lalu dari setiap gerak langkahku dan tak pernah mengingat nazar bodohku diwaktu lalu, memandangku dengan mata berbinar. Yah....Engkau telah memutuskan untuk menghapus debu di kakiku, membasuhnya dan menuntunku di jalan ini! Langkah-Mu tak pernah goyah dan tangan-Mu tak pernah lelah. Dari pinggiran kota Zion ke bait sucinya telah Kau rangkai harap dan kesembuhan, mewartakan siar benderang. Aku saksi akan semuanya itu!
"Kini aku di sini, berselimutkan kabut tipis, dalam desiran sepoi angin! Aku di sini, bersama Engkau dalam kepenuhan, dalam damai! Bersamanya kidung zabur menggema di angkasa!"
Aku tidak mau beranjak darinya! Aku telah melihat surga!
Thursday, February 19, 2009
Kawan ada saat yang tidak pernah kita harapkan, tapi menyapa kita secara tiba-tiba. Tapi demikianlah kita tercipta dalam kefanaan, waktu telah menempatkan kita pada titik nol dan menariknya ke lintasan ketakberhinggaan. Mari kita menghitung hari-hari kita, saat keterulangan menjadi nyata. Aku berjanji teman saat itu kita akan tertawa dan bercerita betapa waktu telah mencipta ada kita!
Selamat!
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Mzm 90:12)
Saturday, February 14, 2009
Aku tahu kamu pasti menantikan hari ini dan berharap-harap cemas akan datangnya sebuah kejutan. Semoga penantianmu tak pernah sia-sia seperti tahun-tahun yang lalu. Kepada mereka yang menyayangimu telah tersiar kabar yang tak redup tentang dirimu yang terlahir di tanggal unik ini. Juga hari ini ketika kamu menghirup segarnya pagi kamu akan mendapati dirimu yang lain. Ya…bertambah satu umurmu!
Selamat Ulang Tahun!
Semoga engkau membuka pagi ini dengan syukur sambil menikmati secangkir kopi kesayanganmu, pisang goreng dan sebungkus nasi kucing kesukaanmu. Jangan lupa juga dengan pesan-pesan bisu di HP-mu yang nongkrong semalaman, di sana pasti sudah berjejal pesan-pesan manis untukmu. Juga pesan dari si dia, si jantung hatimu yang seharian berpikir tentang sebuah tanda cinta di hari indah ini. Aku berharap hari-harimu ceria! Dan secercah harap itu takkan pernah lenyap dari tatap matamu! Ya....harapmu tak akan sia-sia!
Selamat hari Valentine!
Ingat..... pacu motormu di jalur lambat!
Tuesday, February 10, 2009
Ayah, mimpiku malam lalu tak kunjung usai,
"Aku melihat air bah datang dalam arusnya yang dahsyat, bergulung-gulung menerjang setiap jengkal tanah. Tanah seberang luluh lantak dan aku berdiri di samping gulungan air kecoklatan dalam gemuruhnya. Aku tak melihat gerimis hujan, pun sangkakala hanya kabut kehitaman bergelayut di langit pasi".
Ayah, mimpiku malam lalu tak kunjung usai,
"Lalu kulihat kita dalam kereta besi, melintas jalanan terjal. Laju sang kereta Ayah, mengikuti setiap lekukan jalan berbatu, meloncat-loncat tak beraturan. Dan...tiba-tiba kereta terperosok dalam lubang yang sangat dalam. Aneh bin ajaib, kereta kembali tegak berjalan maju".
Ayah, mimpiku malam lalu tak kunjung usai,
"Aku mendengar kembali kata-kata bijakmu dan datanglah kerumunan orang yang ingin mendengar setiap lantunan kata yang meluncur deras dari hatimu yang lembut"
Ayah, mimpiku malam lalu tak kunjung usai,
dan aku berjanji untuk mengingatnya!
mungkin dengannya sang malam kembali kunantikan!
Monday, February 09, 2009
Rinduku bukan milik siapa-siapa, milikku sendiri. Hanya saja senja berbalut butiran-butiran putih di kota angin di penghujung tahun itu masih susupi setiap malamku. Juga pada pemilik wajah bundar dan mata sayu dalam sapa dini hari.
Rinduku bukan milik siapa-siapa, milikku sendiri. Hanya saja kisah kilat cinderela di waktu lalu sisakan residu prematur. Juga pada pemilik jemari lentik dan senyum berpilin dalam setiap katanya dalam cendela bisu.
Rinduku bukan milik siapa-siapa, milikku sendiri. Hanya saja kurangkai kembalii benang-benang kusut menjadi sejumput ceria. Juga pada pemilik mata sembab dan tawa renyah di ujung sana.
Rinduku milikku!
Wednesday, February 04, 2009
Masih di balik tembok lusuh! Ingatku pada masa yang tak pernah terulang, pada nazar sang pengembara. Masihkah engkau mengingatnya? Sepotong frase tak lusuh termakan usia terikat pada dua tiang tak bertuan: "Sapere aude"!
Tak berubah!
Sayang aku tak pernah bisa panggil engkau kembali selain menemukanmu dalam frase tua ini!
Monday, February 02, 2009
Jakarta masih hujan, tapi rintiknya tak lagi kurindu seperti tahun-tahun yang lalu. Yah...debu dan deru berantuk dan kegerahan menjadi satu aliran tak berpenghujung. Aku tak tergerak sedikitpun untuk sekadar mengayuh langkah ke luar sana menari dalam rintik hujan. Tangan-tanganku telah kaku sementara kakiku tak juga beranjak dari bilik ini. Memang sudah kuhapus cintaku pada sang hujan.....di sini!
Oh....Jakarta!