Sederet pertanyaan tentang penderitaan menghampiri pikiran orang jaman sekarang: Mengapa kita menderita? Mengapa ada penderitaan? Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan? Bagiku pengalaman konkrit harian terasa lebih menyakinkan dalam memberi jawaban. Saya kira tidak satupun orang yang mengklaim dirinya tidak pernah menderita, karena penderitaan adalah bagian esensi kita sebagai manusia yang berdarah daging. Kita menderita karena kita manusia. Seperti datangnya pagi dan senja yang adalah sebuah keniscayaan, demikian juga penderitaan.
Sebagai sebuah keniscayaan, penderitaan tidak bisa dihindarkan. Yang menjadikan hidup kita berbeda adalah bagaimana kita berhadapan dengan penderitaan dan apa yang kita pelajari dari penderitaan. Sebagai orang Kristiani aku bersyukur memiliki figur Jesus yang mengajarkan kepada manusia bagaimana menghadapi penderitaan dengan "memikul salib" dan "pergi mengikuti Dia" demikian bunyi Kitab Suci. Salib adalah penderitaan-penderitaan yang kita alami sebagai akibat langsung dari memilih Jesus: penderitaan yang datang karena memilih hidup, penderitaan yang datang karena mencintai keluarga, penderitaan yang datang karena jujur. Ketika kita menderita karena kita memilih Yesus, kita yakin itulah salib yang harus kita pikul. Menjadi murid Yesus kemudian berani menghadapi dengan kepercayaan diri salib tersebut. Salib adalah tanda kebangkitan dan bukan kejatuhan. Kalau kita jatuh biarkan Tuhan mengulurkan tangan dan menuntun kita, kita bangkit bersama Dia.
Bagaimana dengan penderitaan karena kesalahan kita? Atau bencana alam atau kecelakaan yang tak terduga? Sekali lagi Jesus mengajar kita. Kasih Tuhan tiada batas dan Ia menerima setiap orang yang datang kepada-Nya "Datanglah kepada-Ku hai kamu yang lemah lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu". Yesus berdoa di taman Getsemani dengan bergetar sebelum dia menerima Salib. Kepasrahan Yesus dan kesetiaan Dia menjadikan kisah penyelamatan terjadi. Yesus telah memberi contoh cara menghadapi penderitaan, bukan lari darinya tapi setia terhadap kehendak Bapa. Yesus menderita dan kita menderita tapi penderitaan kita tidak sia-sia bila disatukan dengan penderitaan Yesus. Penderitaan kita tidak sebanding dengan Rahmat Tuhan yang berlimpah di kehidupan harian kita. Karena itu bersyukur adalah tanda bahwa hidup kita terberkati. Di sinilah pembebasan sebagai anak-anak Allah terjadi! Bukankah Yesus datang karena cinta untuk membebaskan kita dari belenggu dosa yang menjerat kita?
Sebagai sebuah keniscayaan, penderitaan tidak bisa dihindarkan. Yang menjadikan hidup kita berbeda adalah bagaimana kita berhadapan dengan penderitaan dan apa yang kita pelajari dari penderitaan. Sebagai orang Kristiani aku bersyukur memiliki figur Jesus yang mengajarkan kepada manusia bagaimana menghadapi penderitaan dengan "memikul salib" dan "pergi mengikuti Dia" demikian bunyi Kitab Suci. Salib adalah penderitaan-penderitaan yang kita alami sebagai akibat langsung dari memilih Jesus: penderitaan yang datang karena memilih hidup, penderitaan yang datang karena mencintai keluarga, penderitaan yang datang karena jujur. Ketika kita menderita karena kita memilih Yesus, kita yakin itulah salib yang harus kita pikul. Menjadi murid Yesus kemudian berani menghadapi dengan kepercayaan diri salib tersebut. Salib adalah tanda kebangkitan dan bukan kejatuhan. Kalau kita jatuh biarkan Tuhan mengulurkan tangan dan menuntun kita, kita bangkit bersama Dia.
Bagaimana dengan penderitaan karena kesalahan kita? Atau bencana alam atau kecelakaan yang tak terduga? Sekali lagi Jesus mengajar kita. Kasih Tuhan tiada batas dan Ia menerima setiap orang yang datang kepada-Nya "Datanglah kepada-Ku hai kamu yang lemah lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu". Yesus berdoa di taman Getsemani dengan bergetar sebelum dia menerima Salib. Kepasrahan Yesus dan kesetiaan Dia menjadikan kisah penyelamatan terjadi. Yesus telah memberi contoh cara menghadapi penderitaan, bukan lari darinya tapi setia terhadap kehendak Bapa. Yesus menderita dan kita menderita tapi penderitaan kita tidak sia-sia bila disatukan dengan penderitaan Yesus. Penderitaan kita tidak sebanding dengan Rahmat Tuhan yang berlimpah di kehidupan harian kita. Karena itu bersyukur adalah tanda bahwa hidup kita terberkati. Di sinilah pembebasan sebagai anak-anak Allah terjadi! Bukankah Yesus datang karena cinta untuk membebaskan kita dari belenggu dosa yang menjerat kita?


