Beginilah kira-kira seorang dokter cinta amatiran mencoba mendeskripsikan cinta!
“Kalau aku jatuh cinta pada seseorang, pertama harus aku sadari perasaan itu sampai pada kesimpulan “OK aku jatuh cinta, it’s OK to fall in love”. Tidak mudah karena sebagian orang bahkan sulit mengungkapkan perasaannya sendiri. Pasti kamu tahu rasanya seperti apa orang yang sedang fall in love. Membenci dan mencinta itu bedanya tipis banget. Dalam keduanya rasio seringkali dikesampingkan sementara feeling lebih banyak berbicara. Selanjutnya ada proses discerment, menimbang-nimbang tentang bagaimana aku memanage this feeling. Aku punya pengalaman unik. Demi sebuah pembebasan, aku pernah ngomong jujur kepada seseorang kalau aku suka sama dia. Aku suka karena ada yang unik dalam diri dia yang connect dengan aku. Aku sudah antisipasi beberapa kemungkinan, aku tidak mau gegabah, misalnya tidak penting bagi aku untuk menunggu jawaban darinya, bahkan aku sempat berpikir “Jangan katakan kalau kamu punya perasaan yang sama, aku hanya ingin engkau tahu”. Aku sudah punya komitmen! Sebuah syair lagu membuatnya tampak lebih romantis “ijinkanlah aku mencintaimu”. Kata-kata itu penuh kekuatan melebihi pedang. Dan…. benar, dia akhirnya menjadi teman paling dekatku. Ketika aku mengatakan cinta kepadanya aku telah “telanjang” (wuih…vulnerable) di hadapannya. Oh….sebuah kejujuran dan pengakuan yang mengejutkan. Bisa saja ia menceritakan kepada orang lain sebagai bagian dari popularitasnya tetapi ternyata tidak demikian yang terjadi.
Ehm….aku tidak mau terjebak dalam definisi cinta. Juga kategori eros, filia dan agape. Itu kan kategori cinta dalam tradisi filsafat Yunani yang sulit diberlakukan secara universal. Panggilan moral mengantar kita untuk memasuki cinta filia dan agape. Komunitas mengajari kita untuk mencinta dalam level itu. Tapi eros meamng misteri. Semakin aku mencoba mendiscripsikan cinta semakin aku merasa bahwa lebih banyak hal yang tidak termuat dalam deskripsi itu. Tidak ada satu pun dari kita yang bisa mengklaim bahwa hanya sekali jatuh cinta, sekali untuk selamanya kepada pasangan kita. Cinta itu mengejutkan, datang tanpa dikehendaki. Yang terpenting kemudian bagaimana kita menyadari kehadirannya yang mengejutan itu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan secara psikologis kenyataan bahwa ada sekian orang yang bisa mencintai seseorang sedemikian lama meskipun tanpa harapan: maksudnya cinta bertepuk tangan sebelah. Kebanyakan lelaki akan melakukan segalanya demi jantung hatinya. Tetapi perempuan seringkali lebih dari lelaki, nekat kalau boleh dikata. Mungkin inilah yang disebut cinta buta atau cinta mati. Membanjiri dengan email, telepon, hadiah atau kata-kata indah tentu mengganggu bagi sebagian orang apalagi di tengah kesibukan belajar. Sampai kata sempat keluar “kalau kamu cinta aku biarkan aku berkembang”.
Pengalaman jatuh cinta adalah pengalaman dasar manusia. Kadang cinta seperti itulah yang tidak masuk dalam deskripsi. Kita punya rasio yang bisa memurnikan cinta itu sendiri, bukan sekadar cinta buta.
bagimerekayangsedangjatuhcinta