Saturday, June 21, 2008
Piknik 2008!

Piknik PWKI 2008!






















































Sate yang kemudian ludes dalam sekejap!


Sunday, June 15, 2008
Nonton Bola lagi!
Setelah satu minggu sibuk dengan training di Christ Medical Center Hospital, akhirnya aku dapat istirahat hari Sabtu - Minggu. Istirahat dua hari cukup untuk melemaskan otot-otot yang tegang akibat berbagai macam informasi yang terus memborbardirku sepekan ini. Aku masih memiliki training seminggu lagi. Satu hal yang akhirnya hilang adalah kesempatan menikmati Piala Eropa. Sepertinya aku akan kehilangan momen-momen mendebarkan perhelatan akbar sepak bola Eropa.
Tapi hari ini aku beruntung bisa menyaksikan pertandingan yang menarik antara Turki vs Republik Ceko. Sejauh pengamatanku logika bola masih berjalan: bahwa bola adalah bundar dan liar. Bola bundar dan karenanya bisa bergulir ke mana saja, bola juga liar karena kita tidak pernah bisa mengkontrolnya seratus 100%. Pertandingan Turki vs Republik Ceko membuktikan logika di atas. Ketinggalan 2-0 tidak membuat para pemain Turki putus asa. Mereka menyakini bahwa bola bundar dan liar dan yang mereka lakukan adalah mengontrol bola sekuat mungkin dan mengarahkan bola ke gawang lawan. Seolah berpacu dengan waktu dan energi yang semakin menipis akhirnya "kebundaran" dan "keliaran" bola berhasil mereka taklukkan. Keadaan pun berbalik menjadi 3-2 untuk Turki. Para pemain Turki patut diacungi jempol, terutama peran dari kapten mereka Nihat. Ia tidak jemu menyemangati teman-temannya untuk terus memacu segala daya dan upaya.

Kemenangan tetaplah tujuan dari pertandingan bola. Kemengangan ditentukan oleh keunggulan gol yang dijaringkan ke gawang lawan. Karena itu banyak tim yang berusaha "mempertahankan" keunggulan gol untuk menjadikannya sebuah kemenangan. Republik Ceko sepertinya berbuat hal yang sama. Ketika mereka masih unggul 2-1 mereka berusaha sekuat tenaga mempertahankan keunggulan tersebut dengan menambah pemain bertahan. Keinginan bertahan para pemain Ceko bersimbiosis dengan naluri menyerang para pemain Turki. Yang terjadi kemudian: BOMBARDIR! Dan malapetaka pun terjadi ketika gol Nihat berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2! Dua menit kemudian sebuah pembalikan terjadi ketika Nihat menjebol gawang untuk kedua kalinya menjadi 3-2!

Cara paling aman mempertahankan keunggulan adalah dengan menambah gol dan bukan dengan mempertahankannya! Aku kira Belanda telah melakukannya!


Friday, June 06, 2008
Tentang RASISME!

Kata “rasis” bagi saya adalah kosa kata lama dengan makna baru. Rasisme ada sejak sejarah manusia mulai, ketika orang menemukan bahwa dirinya berbeda dengan orang lain, kemudian perbedaan itu menjadi sumber pembedaan antara “insider” dan “outsider”. Perbedaan yang ada lalu dijadikan alasan untuk merendahkan atau menafikan keberadaan “yang lain”. Sikap yang tercipta dalam pengkategorian kelompok “insider-outsider” di anut baik dalam tingkat individu maupun kelompok, diwariskan secara turun-temurun dan akhirnya menjadi bagian dari formatio komunitas. Dalam tataran tertentu, rasisme lahir sejak manusia menentukan criteria-kriteria tertentu dalam kelompok bagaimana caranya menjadi manusia (civilized). Kategori paling umum misalnya manusia ‘utuh’ harus: white and Christian! Orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak masuk kriteria sebagai “orang-orang beradap” dianggap lebih rendah dan bahkan bisa exploitasi. Dalam sejarah dunia, rasisme kemudian dilegitimasi oleh state (dan bahkan Gereja) maka lahirlah perbudakan, apartheid dan kolonialisme. Ingat baru tahun 1948 manusia sadar dan secara resmi mendeklarasikan perlindungan akan hak asasi manusia, setelah belajar dari penderitaan dan pahitnya perang. Tapi rasisme tidak hilang karenanya!

Apakah ada orang yang benar-benar tidak rasis? Mungkin beberapa orang akan mengklaim diri mereka sebagai orang-orang yang tidak rasis. Tapi kenyataannya kita memiliki “prasangka’ (prejudice) yang inheren dalam diri kita terhadap kelompok lain, terlebih karena kita adalah produk dari masyarakat dan kelompok tertentu. Menurut saya, prasangka yang muncul karena stereotype tertentu atas kelompok etnik tertentu bisa memacu sifat rasis. Saya sendiri memiliki prasangka terhadap kelompok tertentu. Saya sadari kalau kecenderungan itu ada terlebih karena saya “dicetak” oleh masyarakat di mana saya tumbuh.

Saya lahir dan besar sebagai orang Jawa, kelompok dominan di Indonesia. Dalam adat Jawa ada ungkapan yang menurut saya menjadi “keyakinan akan superioritas” sebagian besar orang Jawa terhadap etnik lain. Kalau orang tidak paham atau tidak bisa melakukan apa yang kita harapkan, kebanyakan orang Jawa akan bilang: “Ora Jawa” (tidak Jawa). Dalam ekspresi spontan “ora Jawa” ada semacam praanggapan bahwa yang pintar itu hanya orang Jawa sementara yang lain “kurang’ atau “tidak” pintar. Tentu faktanya tidak demikian, tapi dari ungkapan “ora jawa” bisa ditelusuri akar dari sifat dasar orang Jawa atas etnis lain bahwa orang Jawa selalu mengangap dirinya superior. Kasus serupa terjadi di Italia antara Italia Utara dan Selatan. Orang Italia Utara selalu mengganggap bahwa Italia selatan tidak benar-benar bagian dari Eropa karena telah bercampur dengan orang-orang dari Afrika. Kategori “pure” dan “unpure” pun lahir.

Sebagai orang yang besar dan tumbuh dari kelompok dominan, tentu perbedaan etnik bukanlah acaman serius bagi saya. Uniknya saya berteman dengan orang dari berbagai etnik group. Teman-teman saya di Jakarta kebanyakan dari etnik Thionghoa. Di komunitas saya di Jakarta saya bersahabat dengan teman-teman Batak, Flores, Manado, Nias, Toraja. Sekarang di Amerika saya hidup berkomunitas dengan orang Amerika, Afrika, Italia dan Meksiko. Uniknya berteman dengan orang-orang dari etnis lain saya tidak pernah mengalami persoalan serius. Mengapa? Pertama, saya meyakini akan nilai-nilai universal sebagai manusia bahwa kita bisa hidup rukun kalau kita ingat akan nature kita. Sebagai seorang Kristiani saya menyakini bahwa manusia adalah citra Allah (the image of God). Kita sama di hadapan Allah. Karena itu rasisme adalah DOSA, sebagai bentuk penolakan akan kodrat manusia sebagai citra Allah. Kedua, saya terbiasa hidup dalam multicultural settings sejak kecil. Teman-teman SMA saya kebanyakan Chinese dan muslim. Ketiga, saya nyaman dengan diri saya sendiri sebagai orang Indonesia dan Jawa. Saya sendiri belum pernah memiliki pengalaman dilecehkan atau direndahkan hanya karena etnik saya. Persahabatan saya dengan orang-orang dari kelompok lain mengingatkan saya akan identitas diri saya dan menjadikan saya empati akan apa artinya menjadi minoritas.

Apakah ada orang yang benar-benar tidak rasis? Ehm…..mungkin tidak ada! Yang ada adalah kesadaran bahwa kecenderungan untuk rasis dalam diri setiap orang selalu ada. Kesadaran semacam itu sudah merupakan langkah maju untuk “tidak rasis”!



Wednesday, June 04, 2008
Jatuh Cinta!
Temanku sempat bilang "Wah udah lupa nih rasanya jatuh cinta"! Kemudian ia mulai memutar kembali lagu-lagu kenangan semasa SMA berharap bisa menghadirkan kembali rasa jatuh cinta. "Aku ingin jatuh cinta kembali" katanya kepadaku suatu ketika. "Jatuh cinta sejuta rasanya" demikian cerita klasik lagu jadul! Aku merindukan "sejuta rasa' yang absen cukup lama dalam hidupku. Tapi jatuh cinta bukan sebuah pilihan yang disengaja. Namanya aja jatuh pasti tidak disengaja dong. Tiba-tiba saja seseorang hadir dengan cara istimewa dalam hati dan pikiranku. Ia enggan pergi dan aku pun enggan melepaskannya. Aku akan menyimpannya! Tak terasa hari-hari pun menjadi penuh warna ada kerinduan, deg-degan, aneka rasa bercampur baur. Kata-kata indah meluncur mewarnai diary dan puisi-puisi indah pun tercipta!

Temanku yang lain berujar "Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta". Sampai sekarang sudah ribuan lawan jenis ia kenal tapi tidak satupun yang nyangkut di hatinya. Tetapi ia bisa mengingat dan menyebut nama-nama istimewa yang pernah nyangkut di hatinya ketika ia masih remaja. Terus bagaimana? Aku terkejut dengan jawabannya "Aku tidak pernah menanti datangnya sang pujaan hati, ia akan datang dengan sendirinya? Ehm....bagi dia mungkin itulah yang membuat hidupnya terasa tanpa beban, karena ia 'tidak pernah berhenti berharap'. Bukan tanpa target lho tetapi berdasar pada keyakinan bahwa datangnya sang pujaan hati tidak identik dengan memilih baju pilihan di toko.

"Aku menunggu saat jatuh cinta hadir kembali" dan saat itulah aku akan memulai sebuah komitmen! Cinta memang bukan hanya perasaan belaka tapi komitmen. Cinta tanpa komitmen ibarat kisah peri dalam dongeng, cinta tanpa perasaan adalah hambar seperti sayur tanpa garam. Manusia memang makhluk paradoks. Ia dicinta dan mencinta tapi sekaligus membenci dan dibenci.

Lupa rasanya jatuh cinta tidak menghalangi kita untuk menjadi orang-orang yang berkomitmen untuk mencinta!

Buat ia yang sedang menunggu datangnya sang pujaan hati!