Sunday, May 25, 2008
reading the signs of the times

Finally I was able to finish all my papers on time. I finished one of them even before the dead line, the point is that my personal project of life works well. In the beginning of the semester, I promised to work hard and I was convinced that I would be able to do better. The most difficult class was Biblical Methods. This course deals with two major methods in biblical studies: historical criticism and narrative criticism. I elaborate one passage in the Gospel of John (2:1-12) and explores it more deeply. I was happy to find the notes from my professor: "Are you planning to make it as a doctoral thesis? (A+)". Here is the last part of my paper:

“On the third day there was a wedding at Cana in Galilee.” What a way to begin a story! A wedding; the most festive and joyous of celebrations. A wedding; lives joined and futures crossed. It is not an accident that the Evangelist begins Jesus’ public ministry with wedding’s account. It shows something deeper than the actual wedding itself. That is why the Evangelist calls it as “sign”. In many cultures, wedding is one of the most important events in one’s life. It is a public manifestation of commitment between two people, the beginning of a new family with all its promise and a great time of party. A wedding, lives joined and futures crossed. In Javanese culture, wedding is the most festive joyous of celebrations. It is a celebration of new commitment that now two people (man and woman) are creating something new and extraordinary with a strong belief that the future is about hope and happiness. Wedding is a sacred ritual that enables families to know each other. This special moment has to be celebrated! Wedding therefore is “a sign” of a new phase in one’s life that they have to move forward a new life.
The miracle of Jesus is more than just the kind-hearted action of a uniquely-gifted wedding guest. It is more than just the celebration of a marriage union. We might ask why Jesus chose a wedding for the site of his first miracle. When we look through Scripture, it is clear that the wedding metaphor is a commonly-used image for the relationship between God and God’s people. Throughout the prophets, God is depicted as the husband, Israel as his wife. Isaiah, Jeremiah and Hosea are full of this sort of wedding metaphor. The wedding metaphor captures both excitement and its hope: God’s commitment to love human beings and human beings’ response to God’s covenant. In a reciprocal way both are interconnected. The basic excitement for Christians is found in the joy of salvation. The hope for Christians is the reign of God when God manifests God’s self in the world. For some, life seems to be optimistic like a wedding feast, for others it seems to be unattainable, even less seems unimaginable. In that kind of situation, one thing that is certain that Jesus keeps the feast going on by offering a good wine.

Talking about “sign” and “believing” in today’s context, we are reminded of one of the greatest events in the history of the Church: the second Vatican Council. With its famous dictum “reading the signs of the times” the Church came to believe that her mission needed to be renewed. Why do we have to read the signs of the times? Signs not only tell us what to do in order to respond to them, they also call us to go beyond, to believe in God’s ongoing manifestation in the world. To read “the signs of the times” is to reflect deeply on the events unfolding before our eyes and to respond to them out of mature faith. This is always difficult since we are accustomed to react to the challenges of life than interact with them. Over the years we have begun to realize the importance to involve ourselves into social activities. We take faith-based political stands. We continue even to turn a critical thinking to the teachings and traditions of the church. Our faith has matured and our worship has been enriched by reading the signs of the times.



Thursday, May 22, 2008
Aku tidak akan berubah!
Aku biasa hidup dan bergaul dengan berbagai orang dari berbagai suku, bahasa dan gender. Selalu ada yang bisa aku pelajari dari pengalaman bergaul dengan berbagai jenis orang. Aku senang bisa mengenal banyak orang dan aku semakin menyakini bahwa hubungan interpersonal yang sehat membuat hidup ini terasa lebih hidup. Aneka ragam pengalaman berbaur tetapi tetap saja bahagia dan senang menjadi refren utama. Meskipun seringkali ada kesedihan, konflik dan salah paham dalam hubungan interpersonal tetapi semuanya itu mengantar kita ke perkembangan pribadi yang menakjubkan. Kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang!

Dalam hubungan interpersonal kemudian kita sadari kalau kita perlu berubah terlebih setelah melihat betapa banyak kelemahan dalam diri yang perlu dibenahi. Kemudian kita berjanji dan bahkan sampai menyiksa diri hanya untuk sebuah kesempurnaan diri. Salah seorang temanku bahkan berjanji pada Tuhan untuk tidak melakukan ini dan itu. Intinya ingin berubah. Tetapi hasilnya tidak memuaskan, kita selalu jatuh pada kesalahan yang sama: kita tetap ngegosip, kita tetap menjelek-jelekkan orang, egois, menutup diri bahkan tidak peduli sama orang lain. Kalau demikian yang terjadi kita jadi stress "I hate this part of me"!

Kita adalah makhluk yang kompleks. Tradisi ketimuran mengenal konsep yin-yang, filsafat keseimbangan. Kesempurnaan terjadi jika unsur-unsur yang dibutuhkan hadir sesuai ukuran. Keseimbangan di sini tidak selalu mengikuti dogma matematis 50:50. Kalau unsur yang satu meminimalisir unsur yang lain, disorder akan terjadi. Dalam konteks kepribadian, kesempurnaan bukanlah nihilnya sisi-sisi negatif dalam diri kita melainkan kemampuan kita menyeimbangkan antara kelebihan dan kelemahan yang kita miliki. Kelemahan-kelemahan kita adalah fakta faktual, kelebihan-kelebihan kita adalah keniscayaan. Kalau ingin berubah yang kita lakukan adalah bukan hanya meminimalisasi kelemahan-kelemahan kita, misalnya dengan "tidak nggegosip, tidak jelek-jelekin orang, tidak ini dan tidak itu", tetapi dengan memaksimalisasi kelebihan-kelebihan yang kita miliki, misalnya dengan "lebih banyak bicara kelebihan orang, mengapresiasi karya orang, mendukung usaha baik teman dll." Dengan memaksimalisasi kelebihan-kelebihan yang kita miliki akhirnya kita berlatih "mencintai diri tanpa syarat." Kita hanya bisa mencintai dan menghargai orang lain bila kita bisa pertama-tama mencintai dan menghargai diri kita sendiri. Dalam spiritualitas kristiani di kenal "Allah lebih dahulu mencintai kita sehingga kita mampu mencinta". Kita mampu mencinta karena orang tua kita lebih dahulu mencintai kita.

Dulu aku sering berlitani akan kelemahan-kelemahanku, sekarang aku mulai melihat bahwa yang membuat kita berubah bukanlah janji-janji kita untuk "tidak" (tidak nggosip, tidak bicara jelek dll) tetapi kemauan untuk "mau" (mau mendengarkan, mau berkorban dll). Ketika aku berani berkata "aku tidak akan berubah" sejak saat itu "aku telah berubah" karena aku diciptakan Tuhan baik adanya!


Wednesday, May 21, 2008
Dewi Fortuna dalam Sepak Bola!
Rivalitas antaran Manchester United dan Chelsea berakhir dengan kemenangan MU. Detik-detik mendebarkan mulai ketika peluit wasit berbunyi dan kedua tim pun saling menyerang. Kedua tim yang dihuni oleh para pemain kelas wahid dunia mencoba memperlihatkan kemampuan terbaik mereka. Christiano Ronaldo tampil mengesankan di menit-menit awal. Aksi individualnya yang cantik membuat Essien harus jatuh bangun menjaga pemain asal Portugis ini. Malapetaka terjadi di menit ke 27 ketika Ronaldo menyundul bola di kotak pinalti tanpa kawalan berarti, dengan leluasa ia menempatkan bola di pojok kanan Gawang Peter Chech. Kedudukan 1-0 untuk MU. Ketinggalan 0-1 tidak membuat Chelsea kehilangan gairah untuk menyerang. Melalui usaha keras akhirnya di penghujung babak pertama, Frank Lampard menyamakan kedudukan setelah ia menceploskan bola liar di kotak pinalti. Kedudukan 1-1 sampai babak pertama selesai.

Dalam permainan bola kita bisa jadi "pecundang" dan "pahlawan" sekaligus. Hasil akhir akan menunjukkan siapa diri kita di lapangan. Ronaldo adalah pahlawan bagi MU dengan gol tunggalnya, tetapi hampir saja ia jadi "pecundang" ketika gagal mengeksekusi tendangan pinalti. John Terry juga pahlawan ketika membuat penyelamatan gemilang, membuang bola tendangan Ryan Giggs dengan kepala. Tapi Ronaldo punya nasib yang berbeda dengan Terry, meskipun keduanya membuat kegagalan yang sama dalam mengeksekusi tendangan pinalti. Ronaldo tampak ragu-ragu waktu ambil ancang-ancang, sebagai akibatnya arah tendangannya dengan mudah ditebak oleh kiper lawan, seketika itu juga orang seolah lupa akan kepahlawanan dia. Terry bernasib lebih tragis, ia sudah benar mengarahkan bola ke sisi kanan gawang tapi tendangannya terlalu melebar. Terry membuat kesalahan pada "saat" yang tidak tepat. Seandainya ia berhasil menjebol gawang Van Der Sar maka piala champion akan mereka genggam karena ia adalah penembak terakhir. Kesalahan Ronaldo dan Terry pada hakekatnya sama tapi "timing" yang berbeda membuat penilaian atas kesalahan itu berbeda. Kesalahan Ronaldo dengan mudah akan dilupakan, tetapi kisah Terry tetap merupakan pukulan.

Ketika adu penalti digunakan sebagai penentu kemenangan akhir, yang terjadi adalah dua pemandangan yang kontras: sorak-sorai bagi si pemengan dan kisah sedih bagi yang kalah. Kemenangan dan kekalahan adalah keniscayaan dalam sepakbola. Tetapi ketika kemenangan ditentukan lewat adu penalti, kemudian kita terlalu berpegang pada faktor "keberuntungan"atau keberpihakan Dewi Fortuna. Rupanya hari ini di final piala Champion Dewi Fortuna belum berpihak pada Chelsea!


Monday, May 19, 2008
Arti Kesehatan
"Kita hanya bisa menghargai kesehatan kalau kita pernah sakit" demikian temanku pernah berujar. Aku setuju dengan pendapat itu, setidaknya belajar dari pengalamanku selama ini. Sampai saat ini hanya sekali saja aku sakit berat dan itu terjadi justru ketika aku di Amerika. Sakit kepala, flu atau batuk pun sangat jarang. Tiga tahun yang lalu aku tiba-tiba kena demam tinggi dan aku sudah tidak tahan lagi sampai harus dibawa ke rumah sakit. Aku masih ingat aku menderita sakit kepala dan demam luar biasa yang membuatku hampir pingsan. Akhirnya aku dirawat di Mercy Hospital selama tiga hari tapi semua dokter yang ada tidak mampu menemukan penyakitku. Dua belas kali mereka mengambil sampel darahku dan memeriksanya di lab tetapi hasilnya nihil. Aku sendiri mulai curiga kalau aku kena malaria, tapi bagaimana mungkin aku kena malaria di Amerika? Dokter-dokter di Amerika tidak mempelajari secara khusus penyakit tropis yang satu ini. Syukur pada Allah seorang dokter senior akhirnya melihat hubungan antara penyakitku dan sejarah hidupku. Sebelum aku berangkat ke Amerika aku tinggal setahun di Pulau Mentawai Sumbar. Aku kena malaria di sana tapi karena ketahanan tubuhku bagus penyakit itu tidak muncul tapi tetap tinggal di tubuhku. Nah waktu aku kelelahan Malaria itu kembali menyerang! Rupanya aku kelelahan setelah hampir tiga bulan internship di Phildelphia.Ya akhirnya memang ketahuan kalau aku kena malaria setelah setahun di Amerika. Aku jadi sadar akan kerapuhan tubuhku. Selama ini aku selalu merasa kalau aku selalu sehat. Hasil check-up kesehatanku selalu bagus. Tapi semenjak malaria menghinggapi tubuhku aku mulai melihat kalau tubuhku perlu mendapat perhatian khusus. Aku mulai memberi perhatian pada kesehatan dengan olah raga dan makan teratur. Secara teologis tubuh adalah bait Allah, tempat Allah tinggal. Kita memuliakan Allah dengan tubuh kita. "Glorify God with your body" kata Paulus!
Hari ini aku check-up kesehatan di Advocate Christ Medical Center. Aku mau melihat apa yang terjadi pada tubuhku sembari bersyukur kepada Tuhan atas rahmat kesehatan.


Saturday, May 17, 2008
Summer 2008
Lama tidak nulis di blog ini. Bukan berarti absen karena aku aktif nulis di blog lain. Aha.....ada apa nih? Tidak ada apa-apa. Hidup berjalan normal seperti biasa, tapi banyak sekali kejutan-kejutan tak terduga. Kejutan apa nih? Ah...mau tahu saja! Semester sudah selesai dan semua tugas akhir selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Kini aku harus siap dengan summer yang sudah mengintip di depan mata. Summer ini aku akan tetap di Chicago, aku akan melakukan internship di rumah sakit selama hampir 3 bulan. Setiap hari harus drive sekitar 30 menit selama 3 bulan ehm....pasti melelahkan tapi asyik juga karena cuaca pasti akan sangat bagus dan aku bisa melihat keindahan Chicago lagi. Pohon-pohon mulai tampak menghijau, bunga-bunga mlai mekar, angin bertiup sepoi-sepoi dan air danau mulai tampak kebiruan. Saatnya bermazmur ria!
Selamat Datang Summer 2008!