Wednesday, March 26, 2008
Kesempurnaan hidup!
Aku tidak tahu apa yang orang pikirkan di usia mendekati 30. Angka keramat bagi kebanyakan orang mungkin. Kita bertanya tentang karir, jodoh dan target-target lain.
Aku sendiri termasuk orang yang punya target jelas ke depan sejak usia 18 tahun. Target adalah bahasa sekularnya, impian bahasa puitisnya dan cita-cita bahasa sehari-harinya. Dalam masa 12 tahun aku ibaratnya masuk dalam kawah candradimuka, sebuah tempat formatio dan hidupku sangat teratur mulai dari bangun tidur, belajar, berdoa, makan dan liburan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri sudahkah aku menjadi pribadi yang "sempurna". Bicara tentang pendidikan formal misalnya aku selalu mencoba yang terbaik. Dari kecil aku sudah biasa belajar giat, dapat nilai bagus dan bangga karenanya. Bicara tentang olah kepribadian sejak kecil hidupku sangat menyenangkan, memiliki keluarga bahagia, bapak dan ibu yang penyanyang, kakak-kakak yang penuh kasih. Aku punya sahabat banyak dari anak kecil sampai kakek nenek. Psikologi menjadi teman abadiku, sejak 12 tahun yang lalu psikolog menajdi teman akrabku, bicara tentang emosi, sikap dan reaksi. Tentang kehidupan spiritual, ehm......sejak 12 tahun yang lalu seolah tidak ada yang kurang: doa, ekaristi, bible studi, spiritual direction.

Krisis hidup juga tidak lepas dari hidupku. Pernah berpikir meninggalkan jalan hidup. Godaan, kesepian, depresi, pengalaman dikianati dan ditinggalkan semua bercampur. Tapi hebatnya selalu ada jalan keluar. Tuhan secara kreatif melepaskan aku dari berbagai cobaan yang akhirnya membuatku yakin kalau Dia lebih besar dari yang kukira. Dan memang Tuhan tidak pernah mencobaiku melebihi kemampuanku.

Seolah hidupku SEMPURNA dan aku bersyukur karenanya!

Tetapi hidup ini bukanlah kalkulasi matematis akan apa yang telah aku lalui, bukan kalkulasi matematis dari apa yang telah aku miliki. Hidup ini berwarna-warni seperti roda kadang di atas kadang di bawah. Semua yang kumiliki berada dalam "bejana tanah liat" yang bisa pecah kalau tidak hati-hati. Hanya kalau bejana itu ada di tangan Tuhan aku bisa jamin tidaka akan pecah.


Tuesday, March 18, 2008
Presentasi!
Akhirnya presentasi semalam berjalan lancar sesuai skenario. Aku bersama tiga teman yang lain berhasil membawa suasana kelas menjadi hangat. Kita ada di group dua dan mendapat bagian presentasi di nomor urut 2. Robert presenter pertama dengan gayanya yang khas Amerika memulai presentasi dengan memperkenalkan anggota group. Tema presentasi adalah tentang Atheisme menurut Gaudium et Spes dan Karl Rahner. Group dua memang luar biasa, ada dua orang Amerika satu Polandia dan satu Indonesia. Kita bertiga (Jon, Andrew dan aku) termasuk yang paling muda di kelas, sehingga Robert berkelakar kalau dia merasa beruntung ada di group anak muda. Dia merasa beruntung juga sebagai satu-satunya orang di kelompok yang sudah dilahirkan waktu Gaudium et Spes ditelorkan....ehm Robert has sense of humor btw. Presentasi kedua dari Andrew menjelaskan arti Atheisme dari perspektif Rahner, sementara aku dan Jon membuat kesimpulan dan mempresentasikan hasil diskusi yang kami buat dua hari sebelumnya.
Dua hari sebelumnya kita berdiskusi tentang atheisme. Ini tema yang menarik buat aku karena waktu belajar filsafat dulu tema ini dibahas selama satu semester. Mulai dari eksistesialisme sampai marxisme, dari Feuerbach, Freud, Sartre ke Marx aku kuasai betul. Masih ingat waktu kuliah sama Romo Magnis tentang tema ini. Tetapi inilah kendalanya berbicara dengan mereka yang kurang atau tidak belajar filsafat. Di diskusi misalnya mereka kurang setuju waktu aku menyebutkan kalau "atheisme murni" menyalahi logika. Atheisme murni menyatakan "Tuhan tidak ada". Yah.....aku berangkat dari logika murni dengan mengatakan bahwa pertama "eksistensi Tuhan tidak tergantung dari pengakuan orang" artinya dengan mengatakan "Tuhan tidak ada" tidak dengan sendirinya bahwa Tuhan itu tidak ada. Kedua, orang hanya bisa mengatakan "tidak" kalau terlebih dahulu mengafirmasi "ya". Misalnya aku bisa bilang "tidak makan" kalau konsep "makan" sudah ada lebih dahulu. Artinya pernyataan "positif" selalu mendahului pernyataan "negatif". Jon temanku yang briliant itu paham penjelasanku tapi Robert lebih memahaminya sebagai "judgmental banget". Dalam hati aku berpikir "walah..... ini kan dunia filsafat yang selalu harus membuat judgment". Tapi begitulah aku harus meyimpan ide filosofis ini di kepalaku karena memang perspektifku dari filsafat yang susah dimengerti oleh mereka yang tidak belajar filsafat. Dulu waktu nulis paper, aku sempat dicurigai oleh profesor gara-gara aku menggunakan pemikiran Immanuel Kant dalam menelaah tentang doktrin "incomprehensibility of God". Profesor itu meragukan orisinilitas pemikiran aku. Syukur aku klarifikasi ke dia kalau aku punya degree di Filsafat....ha...h.a....gila American banget!

Syukurlah presentasi pertama berhasil, kini kita menyiapkan satu lagi brief case tapi final papernya dibuat independent. Ini yang kusuka!


Sunday, March 16, 2008
Kembali tentang Bosan

Mengapa aku bosan? Ehm…..cukup lama aku berefleksi tentang pertanyaan yang satu ini. Bebarapa hari yang lalu aku bosan, bosan untuk melakukan apa saja. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi seandainya aku berada dalam kebosanan dalam jangka yang cukup panjang. Bosan dalam jangka panjang akan mengantar pada kesepian dan kekosongan bahwa seolah-olah tiada yang berarti dalam hidup ini. Bila demikian yang terjadi tidak jarang orang menjadi depresi dan bisa berakhir dengan bunuh diri. Walah kok kesimpulannya serem banget sih…. yah ini pendapat personalku. Bosan seringkali disebabkan oleh disorientasi yaitu ketika aku kehilangan arah hidup. Aku tidak tahu kemana harus melangkah karena tujuan hidup menjadi kabur. Mengapa terjadi disorientasi? Di kasus yang aku punya disorientasi terjadi karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri yang membuat aku lelah secara fisik, spiritual dan psikologis. Ada kalanya aku bertindak bukan berdasarkan kemerdekaan yang aku punya tetapi dibawah ekspektasi orang lain. Dan aku semakin meyakini bahwa orang yang selalu fokus ke diri sendiri, yang selalu menilai bahwa nilai hidupnya tergantung dari penilaian orang akan cepat hilang orientasi. Yah…karena ia tidak pernah menjadi dewasa dalam pilihan.
Orientasi atau arah hidup adalah sesuatu yang membuat kita fokus, yang membuat hidup kita berarti. Komitmen adalah kesetiaan untuk tetap fokus pada apa yang telah kita pilih. Yang diperlukan bila bosan adalah “undur diri sejenak” dari kesibukan. Hobi positif adalah salah satu usaha untuk mengusir rasa bosan. Biasanya kalau aku bosan, aku main musik atau pergi olah raga dan sesaat setelah itu spirit yang hilang kembali lagi.
Sekarang spirit hidup kembali lagi, dan sepertinya hidupku mengikuti siklus seperti itu.



Thursday, March 13, 2008
Bosan
Aku lagi bosan nih! Bosan belajar, bosan makan, bosan ngomong, bosan doa, bosan kerja, bosan tidur, bosan jalan, bosan nonton, bosan refleksi, bosan telpon! Ha....ha...ha....semalam main badminton sampai teler main 12 games berturut-turut lawan para Romo (Rm. Andy dan Rm. Tarsis). Berita gembiranya ya menang terus tetapi pagi ini badan terasa pegal-pegal. Bangun pagi terus skip mandi karena semalan udah mandi terus ikut misa harian. Ke sekolah dengerin presentasi teman-teman tentang Biblical Methods kali ini membahas tentang literary criticism. Ehm...bagi saya ini pengulangan dari mata kuliah di Indo, bedanya hanya bahasanya doang. Di sini pakai bahasa Inggris dengan sekali-kali mengacu ke Bahasa Yunani atau Ibrani. Presentasi cukup bagus di mulai dengan tiga American students di lanjutkan profesor yang memberi penjelasan tentang the world within the text. Rm. Tarsis seperti biasa duduk di sebelah aku, sambil sesekali senyum-senyum menunggu giliran presentasi. Ehm......kira-kira kita berpikir hal yang sama semoga nggak nyampai ke giliran kita karena belum siap presentasi. Trus aku bilang ke Romo "Tanya aja macem-macem aja Mo ke prof biar nggak nyampe ke giliran kita...ha...ha.." Aku sendiri udah siap sejak dua minggu yang lalu hanya saja aku sedang bosan presentasi. Gimana nggak bosan aku udah dua kali presentasi minggu ini di kelas yang lain. Habis kuliah langsung deh aku ada ide ajak Rm. Tarsis makan di Thai restoran. Ngomong tentang religious life dan Kalau hari Kamis berlalu lalu hari berikutnya terasa ringan, tetapi Senin telah menunggu dan kembali aku dapat tugas meringkas diskusi sama teman-teman. Persoalannya adalah perbedaan pandangan dan perspektif yang terlalu mencolok. Ada satu anggota di kelompok aku yang udah cukup berusia. Perspektifnya bagus tapi selalu ingin menjadi the main idea of the group while I'm so strong in philosophy maunya bermain ke logika dan critical thinking. Capek deh......

Yah aku bosan! Tapi syukurlah aku tidak bosan bermimpi!



Thursday, March 06, 2008
Sedih!
Saat ini aku sedang merenung tentang apa yang paling membuat aku sedih. Kadang aku bangga dengan hidupku dengan segala sesuatu yang kucapai dalam hidupku. Aku punya cita-cita tinggi dan indah dan kesempatan sepertinya selalu bersahabat denganku. Aku percaya pada mimpi dan setiap hari kujalani dengan optimis. Aku bangga dengan keluargaku, sebuah keluarga sempurna menurutku yang selalu membagi cinta tanpa syarat. Intinya aku memiliki gambaran yang sangat positif terhadap hidup ini. Aku jarang sekali bersedih hati. Aku sedih bila sesuatu yang sudah kurencanakan tidak berjalan sesuai dengan kehendakku. Aku sedih misalnya ketika paper yang kuanggap sempurna ternyata hanya dapet A minus. Tapi kesedihan yang demikian tidak berlangsung lama dan cepat sekali hilangnya. Ya terutama ketika aku sadar bahwa ada yang kurang dengan apa yang telah kukerjakan. Aku sedih bila ternyata orang yang aku percaya mengkianati aku, berdoa semoga murka Tuhan turun atasnya. Tapi aku bukan seorang pendendam dan sehingga seiring waktu berputar aku bisa memaafkan. Aku bersedih bila hal-hal jelek terjadi pada orang yang kucintai. Biasanya aku nangis, berdoa pada Tuhan, please God help me! Tapi mereka yang kucintai terutama keluargaku kenal baik sifatku sehingga mereka tidak pernah mengatakan berita jelek tentang diri mereka kepadaku. Aku masih ingat ketika kakak perempuanku berhenti bekerja di Rumah Sakit tanpa memberi alasan yang jelas, aku menjadi sedemikian bersedih! Atau ketika kakak laki-lakiku diputus pacarnya, aku menjadi sedemikian sedih dan sempat memohon murka Tuhan turun atas mantan pacarnya.
Yah...unsur eksternal lebih mewarnai kesedihanku. Dari dalam diriku sendiri rasanya yang paling membuatku bersedih adalah runtuhnya sebuah harapan. Harapan adalah obor kehidupan, dan bila harapan itu hilang maka tiada lagi arah yang jelas, semua terasa gelap dan tidak berarti. Hilangnya harapan membuatku sedih sekali. Apakah harapan dalam hidupku kini pudar sehingga aku bersedih?

Tuhan adalah gembalaku (Mzm 23). Harapan kepada-Nya tidak akan pudar dan tidak seorang pun bisa mengambilnya dariku!


Monday, March 03, 2008
Aku dan kamu tak perlu takut!
Aku tak perlu takut, takut kehilangan kamu
Karena kamu bukan milikku dan aku bukan milikmu
Kita milikNya

Kamu tak perlu takut, takut kehilangan aku
Karena adamu bukan untukku dan adaku bukan untukmu
Kita ada karena sang Pengada

Mari kita tertawa tentang kata-kata yang terlanjur terlontar
menghentak rasamu dan menghempas adamu
dan kekinian hadir dalam telanjangnya

Kita syukuri detik ini
saat-saat tak bertepi
ketika [antara aku dan kamu] tiada lagi yang tersembunyi

ha..ha..ha...[aku]
he..he..he...[kamu]
ada2 saja [kita]

(padaMu Tuhan aku berharap)