Aku sendiri termasuk orang yang punya target jelas ke depan sejak usia 18 tahun. Target adalah bahasa sekularnya, impian bahasa puitisnya dan cita-cita bahasa sehari-harinya. Dalam masa 12 tahun aku ibaratnya masuk dalam kawah candradimuka, sebuah tempat formatio dan hidupku sangat teratur mulai dari bangun tidur, belajar, berdoa, makan dan liburan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri sudahkah aku menjadi pribadi yang "sempurna". Bicara tentang pendidikan formal misalnya aku selalu mencoba yang terbaik. Dari kecil aku sudah biasa belajar giat, dapat nilai bagus dan bangga karenanya. Bicara tentang olah kepribadian sejak kecil hidupku sangat menyenangkan, memiliki keluarga bahagia, bapak dan ibu yang penyanyang, kakak-kakak yang penuh kasih. Aku punya sahabat banyak dari anak kecil sampai kakek nenek. Psikologi menjadi teman abadiku, sejak 12 tahun yang lalu psikolog menajdi teman akrabku, bicara tentang emosi, sikap dan reaksi. Tentang kehidupan spiritual, ehm......sejak 12 tahun yang lalu seolah tidak ada yang kurang: doa, ekaristi, bible studi, spiritual direction.
Krisis hidup juga tidak lepas dari hidupku. Pernah berpikir meninggalkan jalan hidup. Godaan, kesepian, depresi, pengalaman dikianati dan ditinggalkan semua bercampur. Tapi hebatnya selalu ada jalan keluar. Tuhan secara kreatif melepaskan aku dari berbagai cobaan yang akhirnya membuatku yakin kalau Dia lebih besar dari yang kukira. Dan memang Tuhan tidak pernah mencobaiku melebihi kemampuanku.
Seolah hidupku SEMPURNA dan aku bersyukur karenanya!
Tetapi hidup ini bukanlah kalkulasi matematis akan apa yang telah aku lalui, bukan kalkulasi matematis dari apa yang telah aku miliki. Hidup ini berwarna-warni seperti roda kadang di atas kadang di bawah. Semua yang kumiliki berada dalam "bejana tanah liat" yang bisa pecah kalau tidak hati-hati. Hanya kalau bejana itu ada di tangan Tuhan aku bisa jamin tidaka akan pecah.


