Tuesday, February 26, 2008
Monday, February 25, 2008
Kala sepi kembali menghantuimu,
kembalilah pada satu kata sang lelaki hujan
Kata yang terangkai di saat gerimis hujan, di saat dingin menyeruak
"Aku ada di sini"
Gerimisku tak lagi lenyapkan rindumu
Kuyupku tak lagi padamkan hasratmu
Hadirku pun tak lagi lenyapkan sepimu
Karena engkau tetaplah sang perempuan badai
tapi tengoklah aku sang lelaki hujan
akankah aku menjadi sosok tak berbentuk
tercipta hanya dalam anganmu
menjadi aksesori di saat sepimu?
Hapus saja jejakku hai perempuan badai
litanimu tak mampu panggil aku kembali
kembalilah pada satu kata sang lelaki hujan
Kata yang terangkai di saat gerimis hujan, di saat dingin menyeruak
"Aku ada di sini"
Gerimisku tak lagi lenyapkan rindumu
Kuyupku tak lagi padamkan hasratmu
Hadirku pun tak lagi lenyapkan sepimu
Karena engkau tetaplah sang perempuan badai
tapi tengoklah aku sang lelaki hujan
akankah aku menjadi sosok tak berbentuk
tercipta hanya dalam anganmu
menjadi aksesori di saat sepimu?
Hapus saja jejakku hai perempuan badai
litanimu tak mampu panggil aku kembali
Sunday, February 24, 2008
I've been sick for two days! I'm tired perhaps doing various things. I blame the weather first then I realize that I don't really take care of myself. I like to read until midnight, thinking that all materials should be read all. So I push body to follow my ambition, and trust me, my body always tells the truth. When I felt scratchy in my throat, that's the indication that the cold would come soon. I had a high fever and sore throat, difficult to speak and swallow. I spent two days on bed do nothing (I mean sleeping for sure). Now I'm getting better after taking some medicines. Hopefully tomorrow it is gonna be OK. I'm in charge of bringing some materials to discuss in class tomorrow. So if I'm not well enough till tomorrow it's gonna be a catastrophe for me and for my group. This situation brings me to a deep reflection on the fragility of human being. Very often I consider myself as a strong man. But when illness comes then I realize that I need to take care my body. As my friend tells me I need to "EAT, DRINK and REST" a lot. That's totally the same what my mom usually tells me!
Sunday, February 17, 2008
I'm not tired of saying "I've been busy" because it is my situation right now. I'm taking three demanding classes. Each needs a special attention. Can you imagine that I have to spend eight hours a day to prepare one class? Ehm......that is the suggestion from my academic advisor if I want really to go deeply on the subject. I was puzzled when my prof said it once after class "I invest 8 hours a day to prepare the class". My problem is that for him that's OK, as scholar he has to update his knowledge anytime such as doing research on specific area. For me that's just a dream or even a joke. First of all I won't be able to make it. I live in a community with so many things to do and my life is not for study only. I never take it seriously that kind of expression for I know the original purpose of it: first to trigger student to work hard and second to show how serious I am in this manner. BTW, I was a teacher before and I know little bit the trick to energize students to study harder. But for me that sounds strange, that's a terror even. But teachers should say like that to show how serious they are. Yup, if you're in my class, then your've got to fulfill the expectation of that class. What is important is to know my part, my way and my purpose. I'll keep up. I love studying!
Tuesday, February 12, 2008
Hari kedua masuk kelas mulai terasa sekali sisi sulitnya. Ada satu kelas yang membuat aku kerja keras dan harus rela memaku diri di kursi kamarku: John in Greek Text. Membaca Injil John dalam bahasa aslinya sambil mengidentifikasi setiap kata dan terjemahannya terasa sangat sulit. Mungkin ini adalah kelas tersulit yang pernah aku punya selama aku sekolah. Kesulitan terjadi karena paradigma "perfect" yang selalu menghantuiku. Aku memang ingin membaca text asli dan mengerti benar-benar text tersebut bukan hanya asal tebak. Bisa saja aku ke English translation kemudian ke Greek Text dan ke Englis translation lagi. That's the easiest way some American students do, seperti dua students di kiri kananku. Dengan laptop online semua kata akan teridentifikasi dengan mudah apalagi dalam bahasa Inggris tensesnya teridentifikasi langsung di kalimat. Masalahnya adalah kita percaya terjemahan orang lain, kita tidak belajar apa-apa selain tambah vocabularies. Sementara aku masih menyakini bahwa aku harus mampu mengidentifikasi kata dari Greek textnya, artinya dari kata yang ada. Yang terjadi akhirnya "literal translation" tapi memang itulah yang diharapkan dari kelas ini. Ketika tiba giliranku untuk menerjemahkan satu ayat dari John, aku perlu waktu lama dan terkesan kata per kata tapi hasilnya mengejutkan. Seperti misalnya aku menerjemahkan "eis" sebagai "into", ternyata preposisi ini mempunyai peran penting dalam injil John terutama berhubungan dengan "believing". Believing is not something static, melainkan proses menuju "going toward" dan itulah karakter John: keep believing.
Sekarang aku harus kerja extra seperti biasa. Wah....gimana dengan Hebrew ya?
Monday, February 04, 2008
Kebahagiaan telah menjadi hal yang terus mengusik pikiriran dan hati saya selama bertahun-tahun. Atas nama kebahagiaan aku rela "berjudi" dengan kehidupanku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan fundamental manusia seputar arti hidup, kepenuhan hidup, cita-cita dan kebahagiaan membuat hidupku terasa warna-warni. Kadang ada masa di mana aku merasa tidak yakin dengan pilihan hidupku, kemudian aku berpikir betapa aku telah membuang waktu secara sia-sia. Tetapi ada waktu juga di mana segalanya terasa begitu indah penuh dengan seribu satu sukacita. Di antara dua ekstrim perasaan itu aku disadarkan bahwa aku tidak hidup dalam alam peri atau kisah dongeng. Aku hidup di antara ruang dan waktu yang terisi dengan berbagai pilihan. Orang-orang di sekitarku pun adalah makhluk-makhluk nyata yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi keberadaanku. Syukurlah aku hidup dalam dua kutub berbeda yang mengajariku untuk melihat hidup lebih nyata, lebih terang di antara mimpi dan realitas. Realitas tanpa mimpi akan terasa kering dan gersang sementara mimpi tanpa realitas adalah kosong. Aku akanterus bermimpi dan mimpi itu akan menjadi kenyataan karena ia hadir bukan dari kenihilan tapi kerinduan. Aku selalu merindukan makna.
Sepuluh tahun adalah masa yang panjang untuk sebuah pencarian dan perjuangan. Aku hidup dalam bingkai selama sepuluh tahun. Bingkai itu berupa "harapan" yang bukan hanya milikku pribadi tapi milik orang-orang di sekelilingku. Sejak tahun 1996 aku hidup di komunitas dengan seribu satu aturan yang intinya untuk membantu aku mewujudkan "harapan" yang ditumpukan kepadaku. karena harapan itu milikku dan juga mimpiku maka aku pun menikmatinya. Tragedi pun sering terjadi ketika mimpiku menjadi samar, ketika mimpiku menjadi mimpi buruk dan aku ingin lari darinya. Tapi realitas menyelamatkan aku. Aku bukan malaikat, mereka bukan malaikat, kita bukan malaikat. Kita adalah manusia-manusia yang "menjadi". Ketika harapan tidak lagi menjadi milikku kemudian harapan itu menjadi tuntutan dan siksaan. Inilah yang menyiksaku!
Kadang aku menghibur diri "aku telah memulai.........dan aku harus menyeselasikannya!" Yah ego dan ambisiku bersimbiosis bak magma membara. Yah aku bisa menjadi seorang rasionalis yang mencoba memahami segala sesuatu dengan pikiran, bila aku terjebak dalam logika tak beruntut. Tapi aku bisa menjadi sedemikian larut dalam perasaan bila logika tak lagi bisa menjelaskan realitas, ketika upaya pikiran mentok di batas akhirnya.
Harapan itu masih ada di depan dan itulah iman. Iman adalah kepercayaan pada keterkejutan yang bukan kebetulan tapi bagian dari sang Empunya kehidupan. Dan aku masih percaya pada mukjizat!












