Nocturno.
Ledakan besar. Bunuh sang peri waktu. Hingga tak ada lagi serat serat waktu yang terkait. Pilu lindap dalam genangan kenang. Biarkan semua musnah. Hanya senyap mengisi kekosongan tertinggalkan. Tapi lenyapkanlah saja. Biar kita ruangkan jarak di antara keberadaan yang saling menghapus ini. Sebelum jiwa kecil itu kembali ledakkan semesta. Kebodohan yang sia-sia. Dan kembali terikat pada perbudakan sukarela akan keinginan.
Fatamorgana.
Rentang sang waktu antara ada dan menjadi. Rajutannya menyimpan seribu misteri. Misteri yang tak pernah terlupa, terikat erat dalam serat ingat. Raksasa sang jiwa dalam tarian abadi, meliuk-liuk menghamparkan realitas semesta dalam kebermaknaan. Ia telah menjadi arche, keberadaan dan kemenjadian, pencipta sang ruang dan waktu.
Nocturno.
Bara berkeletik. Meloncat dari satu ranting pikir ke ranting pikir lain. Terentang jalan antara tujuh menuju pada nol. Kekariban melingkar menuju keasingan. Di satu titik semua berhamburan. Keterjagaan akan ingat ternafikan. Setan setan liar berkerumun. Tertawa terbahak pada tumbukan terjadi. Lahirkan dendam jelma jadi iblis penghuni jiwa. Haruskah kubunuh atau kubiarkan saja? Karena mereka adalah buah persatuan benci kita.
Fatamorgana,
Kreasi budi menyeruak, melampaui mimpi sang kembara. Ia adalah kenihilan, ketiadaan semu. Kembali ke titik alpha adalah kebermulaan, awal dari sebuah ketakberhinggaan yang mengejutkan. Biarkan sang waktu menari dalam rentangnya. Biarkan sang ruang berdendang dalam gapaiannya. Tarian dan dendang sang malaikat mengantar sang kembara ke peraduan makna.Nocturno.
Merangkak menuju pagi. Diam yang akan bawakan makna jauh lebih berrharga. Lebih baik daripada caci terbungkus ketakutan. Lihatlah rapuh itu demikian besar. Biaskan retak retak kecil di sisi kalbu. Sanggupkah ikatan yang kau hamba bertahan. Ketika ketersinggungan sekejap pada lalu goyahkan pijakan pada kini. Tumbuhkanlah benak di rongga kosong itu. Agar tak lagi hati menjadi pikir dan panah tak bermata menancam tajam pada titik yang salah. Lalu kita bisa berjabat tangan mengucapkan selamat tinggal.
Fatamorgana
Senja sangkakala, logika keindahan yang tak terbantahkan, kekelaman yang mendebarkan. Menunggu pagi adalah asa, ketika kita bersapa dalam sahaja dalam keyakinan sang ada. Taklukkan segala takut tak bertuan dan senyap tak bernyawa. Kita masih dalam ada dan menjadi, menerobos ruang nihilisme, lenyapkan bayangnya. Perjumpaan adalah keniscayaan, ketika adaku adalah adamu dan menjadiku adalah menjadimu.
Nocturno.
Aku akan menjemput matahariku.
Biarkan malam tetap menjadi malam.
Dan mengungkungmu di sana.
Menjadi perhentian terakhir akan kata ‘kita’.
Fatamorgana.
Aku akan menjemput matahari kita
Lewati sang senja usang
Dan menunggumu di sana
Nikmati makna yang tak berkesudahanNocturno Blast (She Devil) -
Fatamorgana Blast (Lelaki Hujan)