Sunday, January 28, 2007
extremely cold!
It has been cold since yesterday. It tortures me a lot, the temperature is around 15 F. This morning I went to the Parish with Francois by bus. Fortunately, we didn’t have to spend a lot of time for the bus. I guess it was the coldest day I’ve ever had here in Chicago. Double jackets and all winter stuff didn’t work at all. It was interesting actually to talk about weather. Almost all people I met this morning talking about it. “It is cold, isn’t it?” And a “yes" answer was expected. It is the most common thing to start the conversation. I draw their attention when I was telling them about Indonesia with tropical climate. They thought that I suffer a lot in this kind of weather. But actually what is going on is just simple thing. I don’t like going out, once I go out in a cold weather of course I’ll complaint a lot. To talk about it with the Americans is always interesting. I met so many people. I really had a nice day. In the ministry, I presented the Sunday reading and invited people to share their own experience. By asking some simple questions such as feelings, insights and ideas, they were triggered to be open to others. I myself will present “the salvation in other religions”. One told me that she is going to invite her friends to join us. It will be great especially I have more time to prepare my own presentation. My challenge is how to make the presentation is interesting. I am looking forward to that blessed moment!


Saturday, January 27, 2007
Menunggu Pagi
Aku di sini, di ruang ini, ketika bayang semumu kembali melintas. Engkau hadir dalam keheningan malam. Ada apa denganmu, bidadariku? Bukankah engkau berjanji menuggu pagi saat mentari menepati janjinya. Bukankah aku telah melepaskanmu, membiarkanmu bebas terbang melintasi awan-awan. Hadirmu menguak cerita lama, sebuah cerita tentang kita yang tak pernah usang! Akankah kau hadirkan kembali hari kemarin dalam bingkai kekinian?

busyet......kembali aku bermimpi!


Tuesday, January 23, 2007
nothing to say....
.......can't resist !

it's....apple pie I guess!


My father says "Never give up"


Soto Betawi....just imagine!



Tuesday, January 16, 2007
Yang Nyata dan yang maya III
dan..... diskusipun berkembang! Yang maya harus menjadi nyata! Fenomena ngeblog membawa kita akan arti sebuah "penyingkapan" atau disclosure. Kita (blogger) adalah kaum pengintip (ceile) yang meneropong obyek dengan segala keterbatasan. Data yang kita terima dari kegiatan "mengintip" sangatlah terbatas. Terbatas karena indera kita tidak menangkap secara utuh obyek, terbatas karena obyek yang kita data dan intepretasikan adalah sejauh obyek tersebut menjelaskan dirinya. Dalam istilah fenomenologi (wah apaan tuh), dikenal istilah "membiarkan diri tersingkap" dan itulah yang kita terima sebagai data.
Kita adalah "pengintip"? Tahu kan pengintip? Seorang pengintip tidak harus minta ijin untuk masuk daerah privat orang. Dia menjadikan "yang lain" sebagai obyek demi kepuasan pribadi. Yang diintip nggak boleh marah lho....tidak semua orang suka diintip, tapi di dunia maya orang senang diintip. Menjadikan diri sebagai "obyek" bagi yang lain secara tidak langsung juga memerangkap orang. Kamu telah masuk dalam perangkapku, teruslah mengintip. Aku yang semula menjadi "obyek" kini berbalik menjadi "subyek". Kemudian antara "obyek" dan "subyek" tidak lagi jelas. Ini satu kemungkinan saja.
Ada kemungkinan yang lain. Image "rumah" menjelaskan fenomena ini. Aku punya rumah, akulah pemiliknya. Rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal, tapi sebagai tempat di mana aku berada, bercerita, beraktivitas dan di mana aku menjadi diriku yang sebenarnya. Makanya aku suka menghias rumahku, melengkapinya dengan berbagai peralatan agar tamu merasa welcome. Silahkan mampir, silahkan bertamu, you are most welcome. Tidak harus mengetuk pintu, kamu bebas di sana, bisa apa saja. Kamu bisa menikmati seluruh obyek rumah, mengaguminya atau bahkan mengkritiknya. Sebagai tuan rumah tentu saya memiliki harapan: secara eksplisit aku bertanya: Gimana kesan kamu atas rumahku ini? Aku senang kaalu kamu berkunjung dan saya berjanji akan kunjungi kamu balik, tolong ya kasih alamat yang jelas.
Yang maya menjadi Nyata!
Penyingkapan adalah proses lanjutan. Melalui sharing secara tidak langsung kita menyingkap diri kita, siapa kita sebenarnya. Perasaaan, ide (gagasan) dan wawasan yang kita tuangkan menyingkap who we are. Dalam dunia maya data tentang "yang lain" kita terima sejauh mereka bercerita. Data satu-satunya yang bisa kita akses adalah what you tell me. Data itu kemudian kita intepretasikan. Sangat riskan distorsi! It doesn't really tell who you are for basically it is not meant to be like that. Kalau yang nyata saja sangat riskan akan distorsi apalagi yang maya. Proses penyingkapan yang pelan dan penuh kejutan memang menjadi trend orang jaman ini. Kenikmatan yang tersingkap secara pelan dan penuh kejutan banyak dicari orang. Dunia yang semakin instant ini tidak sepenuhnya mengikuti logika instant serba cepat. Dalam dunia maya.....yang maya tersingkap melalui cerita....terus tersingkap dan tersingkap sampai akhirnya.....aku ingin melihat kamu! Kamu yang "nyata" bukanlah akhir dari sebuah penyingkapan tapi bisa jadi sebagai 'sebuah awal' bagi penyingkapan yang tiada henti. Semakin lama prosesnya semakin nikmatnya terasa!
akan terus berlanjut........
(bagaimana dengan fenomena "komunitas dunia maya"?)


Saturday, January 13, 2007
Yang Nyata dan yang maya II
Kembali ke tema ngeblog. Mungkin ada perspective lain yang bisa menjelaskan fenomena ngeblog. Salah satu kemungkinan adalah pentingnya relasi intersubyektif manusia. Menurut kodratnya manusia itu perlu berhubungan dengan orang lain. Eksistensi kita menjadi semakin nyata bila berhadapan dengan orang lain. Mungkinkah fenomena ngeblog berasal dari kebutuhan dasar ini? Bisa jadi! Artinya hubungan intersubyektif berkembang bukan hanya pada tataran individu-individu "nyata" (tangible) tapi hubungan timbal-balik individu-individu "maya". Yang "maya" sebenarnya "nyata". Ia atau mereka hanyalah berada pada suatu "raung" dan "waktu" nan jauh di sana. Waktu dan jarak akhirnya terkompres, terjembatani oleh apa yang disebut teknologi. Teknologi telah memadatkan jarak dan waktu. Jarak dan waktu bukan lagi halangan yang significant untuk berelasi. Kalau kemudian ngeblog dipahami dalam framework demikian, maka ngeblog adalah sebuah pilihan alternatif bagi sebuah relasi timbal balik: pilihan untuk berelasi dan memilih individu-individu. Atau bisa juga ekstensi relasi, artinya pilihan untuk memperluas wilayah relasi. Nah kita bertanya sekarang apakah kemudian ngeblog mengalienasikan kita dari orang-orang di sekeliling kita? Apakah ngeblog membuat kita lebih memilih individu-individu "maya" jauh di sana daripada orang-orang di sekitar kita?
Blog ternyata bukan hanya tentang sang "aku" sebagai pelaku utama, karena kenyataannya ada berbagai jenis blog. Blog yang kita klaim sebagai about me sebenarnya bercerita tentang juga individu-individu di sekitar kita. Saya salut kepada mereka yang mau cerita tentang suami, istri dan anaknya di blog! Bagi mereka individu-individu "nyata" di sekitarnya tidak terabaikan "keberadaanya"!
Masih dan akan terus bersambung.............


Tuesday, January 09, 2007
Yang Nyata dan Yang Maya!
Mengapa saya nge-blog? Sudah hampir dua tahun saya ngeblog. Sejak dari permulaan adanya blog ini hanya sekadar "iseng" dan mungkin sampai sekarang saya masih iseng ngeblog. Saya sadar bahwa apa yang saya tulis di blog ini pada akhirnya akan "lepas" dari genggaman saya. Ia akan menjadi milik siapa saja. Sejujurnya saya pun tidak rela bagian dari diri saya lari lepas kendali. Karena itulah di blog ini saya tidak pernah merasa nyaman menulis tentang diri saya secara utuh. Di blog ini pun saya jarang sekali menulis hal-hal yang serius, kalaupun menulis pasti hanya seputar permasalahan umum.
antara yang nyata dan yang maya
Blog bisa berakibat positif dan negatif, seperti layaknya teknologi seperti pedang bermata dua. Saya lebih melihat efek positifnya, yaitu melatih kita untuk setia menuangkan gagasan-gagasan yang muncul dari pengalaman keseharian. Pengalaman itu bisa sangat sederhana menyangkut apa yang kita lakukan hari ini. Saya punya teman yang setia menuliskan detail keseharian yang ia jalani dan saya selalu kagum dengan orang yang bisa melakukannya. Ketika pengalaman-pengalaman itu dituangkan dalam tulisan ia akan langgeng bahkan bisa dihadirkan kembali seolah-olah baru saja terjadi ketika kita membacanya kembali. Apa yang kita omongkan akan hilang yang kita tulis akan langgeng: VERBA VOLANT SCRIPTA MANENT.
Tetapi di sisi lain kita tidak bisa lagi membedakan yang nyata dan yang maya. Eksistensi tidak lagi kita pandang sebagai obyek kasat mata tetapi lebih pada respon atau tanggapan yang kita terima. "Adanya" subyek lain tidak harus terepresentasikan dalam ruang dan waktu sebagai obyek yang bisa disentuh, tetapi sebagi "yang lain" di sana. Selama "kamu" merespon saya cukuplah bagi saya untuk mengganggap kamu sebagai "nyata". Dalam chatting hal ini berlaku. Pengalaman saya membuktikan bahwa bagi sebagian orang menjawab "hi" cukuplah untuk membuktikan "keberadaan" seseorang. Saya sering iseng bertanya "Benar kamu percaya bahwa saya ada?". Bagi sebagian orang berteman lewat dunia maya lebih mengasyikkan. Mengapa? Mungkin saja karena fenomena berikut: kehadiran orang lain di sekitar kita selalu menuntut tanggung jawab dari pihak kita. Setidaknya kita harus merespon dia atau mereka dengan kata dan gesture, kita memberi ruang khusus terhadap orang di sekeliling kita. Tanggung jawab yang lain mungkin lebih merepotkan kita: makanan, minuman dan waktu. Apakah kemudian "kehadiran" tidak penting lagi? Apakah orang tidak lagi menyukai tanggung jawab? Kehadiran selalu mengikat. Kita tidak bisa lari darinya. Jadi permasalahannya terletak pada tingkat tanggung jawab kita terhadap orang lain. Dalam dunia maya kita mau lebih bebas. Tanggung jawab itu menjadi permasalahan privat, aku yang mengikat dan aku yang melepaskannya. Aku mengkontrol semuanya. Sementara dalam "kehadiran" kontrolnya adalah lebih publik, aku, kamu, kita dan mereka!
masih akan bersambung..........kapan-kapan!


Friday, January 05, 2007
Divine providence and chance - Elizabeth Johnson!
How to express our expression of faith in ways coherent with the fundamental scientific insight? Johnson argues that God’s providential activity can be affirmed in a world where chance plays a more essential role. Currently, science is understood as the interplay of law and chance. Is there any possibility for God’s providence? God’s action in the world can be explained in many different ways. According to Johnson, Aquinas’ insight into how God acts in the world can help us explain how God’s providence comes about. The idea of participation (God who shares God’s Being to what is other than Godself) can be seen in the God-world relation. How does it work? The creating God is the redeeming God who involves in the history of the world by emptying God’s self in the Incarnation. Therefore divine perfection is a perfection of relationality and love rather than of self-sufficiency and control. Several images of God are available for this kind of God namely dynamic wind, fire and water. Chance here is not a rival!


Tuesday, January 02, 2007
Happy New Year 2007
Happy New Year 2007
Many things have to be done in 2007. Thanks be to God for the grace of health, for God's guidance in my entire life. I never walk alone in the ups and downs of my life. It's a time to make a resolution, a commitment to be better.