It was raining when I headed for church this morning. I grabbed my ugly umbrella. The wind blew it and of course broke it. Oh poor umbrella! Actually it was nothing to do with what I am going to say here. It's just simple experience that unpredictable thing can happen. I can't control everything in accordance with my will actually. After being overwhelmed for one week finnaly I could take a break just to refresh my self in the new atmosphere. Three papers were due on the same time. It wasn't good experience but as a student I had to figure out all those stuff. Anyway I was done on time. I am not a person who can live without activity, but then I hate overloaded works that keep me working hard all day long. Being faithful has been my challenge in my daily life, it's just about controlling my desire to be lazy. Ehm....I promise not to criticize myself but then I'm not able to avoid that tendency. Now I'm going to take Master in Bible. Wow...it will be challenging for I have to learn Greek and Hebrew. I'm not good in language but I'll try. Never give up!
Sunday, April 30, 2006
Thursday, April 27, 2006
Friday, April 21, 2006
Sunyinya malam ini mengingatkan aku pada sebentuk wajah yang lama tersimpan dalam lubuk hatiku. Ia sebenarnya tidak lebih dari sekadar masa lalu yang terlalu naif untuk diingat. Aku ingin melupakannya bahkan menguburnya dalam-dalam. Mengingatnya berarti menghadirkan kisah cinderala yang prematur. "Aku akan melupakannya" kataku suatu ketika. Aku lupa bahwa "melupakan" berarti membiarkannya berlalu. Dan aku semakin gila bahwa melupakan berarti juga mengingatnya. Akhirnya aku mencoba untuk tidak melupakannya. Maka jadilah ia password setiap email dan blogku. Aku ingin menuliskannya sesering mungkin yah...sesering aku membuka email. Aku ingin menjadi terbiasa dengannya setiap hari. Mungkin dengan cara itulah aku akan melupakannya.
Sunday, April 16, 2006
Saturday, April 15, 2006
Hari ini aku coba buka-buka kembali disketku waktu aku masih studi Filsafat di Jakarta. Aku sungguh-sungguh kagum dengan beberapa pemikiran yang pernah daku baca kala itu. Aku menyukai Filsafat, setiap saat pikiranku mengelana.
Kegelisahan Wahib: Fides Quaerens Intellectum?Setiap pendapat yang dilontarkan ke lingkup publik berarti membiarkannya terbuka dan tentu saja memicu pro dan kontra. Itu sudah pasti. Begitu juga dengan catatan harian Ahmad Wahib yang banyak mendapat tanggapan. Berbagai tanggapan itu hendaknya dinilai sebagai wacana (discourse) yang merupakan salah satu iklim yang sehat dalam perdebatan filosofis. Setelah membahas beberapa teks Wahib kiranya menambahkan beberapa poin kritis. Pertama, bahwa apa yang disebut sebagai bentuk “kegelisahan” dari Wahib bukanlah fenomen baru, begitu juga dengan perdebatan yang menindaklanjutinya. Pembahasan pemikiran Islam sepanjang sejarah pun diwarnai aneka perdebatan (baca: discourse). Perdebatan yang paling terkenal misalnya terjadi antara Ibn Ruysd dan al-Ghazali. Pembicaraan tentang pemikiran Islam sebagai suatu proses dialektis ternyata terus mengundang pertanyaan-pertanyaan yang menunggu jawaban. Isu-isu seputar moderitas, demokrasi, hubungan agama-negara, liberalisme merupakan isu-isu krusial yang dihadapi pada umumnya.Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan dalam filsafat Islam adalah apakah Islam memerlukan pemikiran dari sumber lain, bukankah al-Quran dan Sunnah sudah mencukupi untuk sebuah bangunan pemikiran? Muncul anggapan bahwa dengan al-Quran dan Sunnah sebenarnya umat Muslim tidak perlu lagi mengadopsi pemikiran dari tempat lain, misalnya dari Yunani atau demokrasi ala Barat. Maka tidak heran bila umat Muslim untuk sekian lama “memandang sebelah mata” pemikiran-pemikiran di luar dirinya. Bahkan konon “pembebasan” umat Muslim tidak dilanjutkan sampai ke daerah Eropa karena daerah itu di pandangnya kurang membawa manfaat selain juga di luar intensi mereka untuk menaklukkan daerah tersebut.Apakah kemudian latar belakang demikian menyebabkan kemunduran dalam pemikiran Islam belum dapat dipastikan. Tetapi telah menjadi kenyataan sejarah bahwa pemikiran Islam untuk sekian lama mengalami kemunduran. Gejala kemunduran ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya menyangkut pertarungan sengit dan panjang dengan otoritas keagamaan. Untuk sekian lama tradisi filsafat dalam Islam mengalami stagnasi yang serius. Bahkan di banyak tempat, filsafat diharamkan untuk dipelajari. Kedua, Wahib adalah salah satu orang yang tidak puas dengan pemahaman Islam yang beku dan kaku, yang semata-mata terpaku pada teks dan mengabaikan kreatifitas budi manusia. Wahib bergulat dengan ketegangan antara rasio dan iman, yang terkenal dengan ungkapan fides quaerens intellectum, iman yang membutuhkan rasionalitas. Pergulatan Wahib memang terasa radikal bila diletakkan pada konteks zamannya yaitu era 70-an di mana misalnya isu-isu menyangkut sekularisasi (isme) sedang hangat-hangatnya dibahas. Maka bisa dimengerti pergulatan seorang anak muda pada zamannya yang merasa “tidak cukup diri” dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang di zamannya. Wahib adalah satu dari sekian anak muda yang menaruh perhatian pada agama yang dicintainya. Pemikiran Wahib merupakan satu di antara pemikiran yang lain yang ikut menyalakan api yang membara dalam pemikiran Islam. Seandainya ia masih hidup kita yakin ia akan gembira ketika melihat pemikirannya mendapat tanggapan yang positif bahkan menjadi inspirasi beberapa orang muda untuk berani berpikir liberal. Dan sebenarnya ia telah mengingatkan para pengkritiknya ketika menyatakan:“Penilaian agamis” (berpahala, berdosa, kafir dan lain-lain) terhadap pribadi lain, tidak tepat bila dipraktekkan oleh manusia karena pengetahuan manusia yang sangat terbatas tentang pribadi-pribadi lain. Karena itu “vonis keagamaan” adalah semata-mata monopoli Allah dan tidak seorangpun yang berhak mengganti jabatan Allah”.
Dari tokoh-tokoh seperti Wahib, pemikiran Islam terus dikembangkan sebagai suatu proses yang belum selesai. Akhirnya generasi sekarang harus belajar dari kegelisahan serupa yaitu kegelisahan yang memicu sikap kreatif. Wahib adalah sosok yang berani menghadapi sebuah kegelisahan, berani masuk pada pencarian penuh ketidakpastian dengan kepercayaan dan harapan. Iman dalam pemahaman Wahib tidak bertentangan dengan akal budi. Semakin orang memaksimalkan peran akalnya dalam memperkuat imannya maka iman pun semakin dimurnikan, FIDES QUAERENS INTELLECTUM
Kegelisahan Wahib: Fides Quaerens Intellectum?Setiap pendapat yang dilontarkan ke lingkup publik berarti membiarkannya terbuka dan tentu saja memicu pro dan kontra. Itu sudah pasti. Begitu juga dengan catatan harian Ahmad Wahib yang banyak mendapat tanggapan. Berbagai tanggapan itu hendaknya dinilai sebagai wacana (discourse) yang merupakan salah satu iklim yang sehat dalam perdebatan filosofis. Setelah membahas beberapa teks Wahib kiranya menambahkan beberapa poin kritis. Pertama, bahwa apa yang disebut sebagai bentuk “kegelisahan” dari Wahib bukanlah fenomen baru, begitu juga dengan perdebatan yang menindaklanjutinya. Pembahasan pemikiran Islam sepanjang sejarah pun diwarnai aneka perdebatan (baca: discourse). Perdebatan yang paling terkenal misalnya terjadi antara Ibn Ruysd dan al-Ghazali. Pembicaraan tentang pemikiran Islam sebagai suatu proses dialektis ternyata terus mengundang pertanyaan-pertanyaan yang menunggu jawaban. Isu-isu seputar moderitas, demokrasi, hubungan agama-negara, liberalisme merupakan isu-isu krusial yang dihadapi pada umumnya.Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan dalam filsafat Islam adalah apakah Islam memerlukan pemikiran dari sumber lain, bukankah al-Quran dan Sunnah sudah mencukupi untuk sebuah bangunan pemikiran? Muncul anggapan bahwa dengan al-Quran dan Sunnah sebenarnya umat Muslim tidak perlu lagi mengadopsi pemikiran dari tempat lain, misalnya dari Yunani atau demokrasi ala Barat. Maka tidak heran bila umat Muslim untuk sekian lama “memandang sebelah mata” pemikiran-pemikiran di luar dirinya. Bahkan konon “pembebasan” umat Muslim tidak dilanjutkan sampai ke daerah Eropa karena daerah itu di pandangnya kurang membawa manfaat selain juga di luar intensi mereka untuk menaklukkan daerah tersebut.Apakah kemudian latar belakang demikian menyebabkan kemunduran dalam pemikiran Islam belum dapat dipastikan. Tetapi telah menjadi kenyataan sejarah bahwa pemikiran Islam untuk sekian lama mengalami kemunduran. Gejala kemunduran ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya menyangkut pertarungan sengit dan panjang dengan otoritas keagamaan. Untuk sekian lama tradisi filsafat dalam Islam mengalami stagnasi yang serius. Bahkan di banyak tempat, filsafat diharamkan untuk dipelajari. Kedua, Wahib adalah salah satu orang yang tidak puas dengan pemahaman Islam yang beku dan kaku, yang semata-mata terpaku pada teks dan mengabaikan kreatifitas budi manusia. Wahib bergulat dengan ketegangan antara rasio dan iman, yang terkenal dengan ungkapan fides quaerens intellectum, iman yang membutuhkan rasionalitas. Pergulatan Wahib memang terasa radikal bila diletakkan pada konteks zamannya yaitu era 70-an di mana misalnya isu-isu menyangkut sekularisasi (isme) sedang hangat-hangatnya dibahas. Maka bisa dimengerti pergulatan seorang anak muda pada zamannya yang merasa “tidak cukup diri” dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang di zamannya. Wahib adalah satu dari sekian anak muda yang menaruh perhatian pada agama yang dicintainya. Pemikiran Wahib merupakan satu di antara pemikiran yang lain yang ikut menyalakan api yang membara dalam pemikiran Islam. Seandainya ia masih hidup kita yakin ia akan gembira ketika melihat pemikirannya mendapat tanggapan yang positif bahkan menjadi inspirasi beberapa orang muda untuk berani berpikir liberal. Dan sebenarnya ia telah mengingatkan para pengkritiknya ketika menyatakan:“Penilaian agamis” (berpahala, berdosa, kafir dan lain-lain) terhadap pribadi lain, tidak tepat bila dipraktekkan oleh manusia karena pengetahuan manusia yang sangat terbatas tentang pribadi-pribadi lain. Karena itu “vonis keagamaan” adalah semata-mata monopoli Allah dan tidak seorangpun yang berhak mengganti jabatan Allah”.
Dari tokoh-tokoh seperti Wahib, pemikiran Islam terus dikembangkan sebagai suatu proses yang belum selesai. Akhirnya generasi sekarang harus belajar dari kegelisahan serupa yaitu kegelisahan yang memicu sikap kreatif. Wahib adalah sosok yang berani menghadapi sebuah kegelisahan, berani masuk pada pencarian penuh ketidakpastian dengan kepercayaan dan harapan. Iman dalam pemahaman Wahib tidak bertentangan dengan akal budi. Semakin orang memaksimalkan peran akalnya dalam memperkuat imannya maka iman pun semakin dimurnikan, FIDES QUAERENS INTELLECTUM
Friday, April 14, 2006
Well, to be consistent is difficult but it doesn't mean that I do nothing for that. Being consistent is one of my struggles recently, not to be perfect actually but to be focused on one thing and do it in the best way. This week I have one week break, called spring break but it's better called easter break. I have to get involved in the parish preparing for babtism. I've been involving in this ministry for several months. It's interesting to know american church in its real way, getting touch with so many people from different cultures. Started with Holy Thursday I'm getting busier. It will be followed by Good Friday and Easter. I just pray..... God comes to my assistance. Actually it's the best time to reflect on my life how it has been going. I like to identify my passion with the passion of Christ not in the bloody event but in the way how to be faithfull. Jesus is absolutelly faithfull to accept his mission from the Father. That's not a popular way to redeem the world but He does beacause of love. My suffering is nothing compared with his sacrifice. So there is no reason actually to gramble and complain in this life rather to stand firm whenever I fall. The way of the cross is about faithfulness and love.
Wednesday, April 12, 2006
Friday, April 07, 2006
Jumat kelabu! Gila harusnya hari jumat tuh menjadi the blessed day....but I spent the whole day for workshop. Judulnya sih heboh banget: public relations and marketing. Yah gue udah bayangin nih workshop will be great apalagi ada bau-bau ekonominya gitu. Eh...ujung-ujungnya yah...relationship lagi. Anyway for me, an Indonesian, relationship is common thing which is the way to live with others. Tapi mungkin dalam konteks Amerika yang notabene sangat individualis kata ini menjadi kata kunci dalam setiap percakapan. Udah gitu untuk lunch harus urus sendiri. Wah... ini benar-benar saat yang tepat untuk mencari pembenaran "makan di luar". So Wawan, Alex and gue menikmati noodles di ETC restaurant. Restoran kecil mungil tapi dahsyat banget (rasa dan harganya juga) dengan mie Vietnam and Chinese food. Kembali ke session ke 2 workshop dengan perut buncit dan pasti aja gue ngantuk berat. Trus pulang ke rumah...wow windy banget, dingin banget! Nyampe ke rumah harus siap-siap ke China Town, gue dapet jatah ngiringin di the station of the cross. Easter is coming soon!
Thursday, April 06, 2006
Sialan! Kemarin tuh gue udah nulis banyak-banyak di blog ini eh..nggak tahunya Blogger masih dalam maintenance jadinya hilang semua. Yah....gue harus inget lagi dong apa yang gue tulis kemarin. Semuanya tentang "aku" atau orang bilang "gue banget", abis gue nggak pernah cerita tentang diri gue. Ehm....ngiri juga sih liat temen-temen bisa cerita dengan leluasa di blog tentang apa saja dari kucing and anjing piaraan sampai hal remeh-temeh. Tapi justru inilah kesulitan gue, cerita yang yang ringan-ringan dalam ruang ini. Mungkin karena itulah banyak orang salah persepsi tentang diri gue, katanya gue orangnya serius banget. That's totally wrong, gue orangnya suka humor, suka ngakak bahkan orang bilang gue orangnya lucu. But anyway gara-gara empat tahun ngobok-ngobok filsafat membuat diri gue jadi agak serius he...he..he. Gue jadi inget waktu gue pulang ke rumah ngomong ama bokap gue jadinya nggak nyambung. Gimana lagi....kata-kata seperti eksistensial, ontologi, inheren, atau an sich sering muncul secara tiba-tiba tanpa gue sadar. Jadinya bokap gue cuma tanya "itu tuh makanan apa sih? Seluruh isi blog gue hampir selalu hal yang serius. Nah kini giliran saatnya menjadi diri sendiri.
I'll be so busy this coming week. Actually I have one week break..called Spring Break but then.....(damn) I have to finish my papers. It's just unbelievable finishing three papers in the same time. The Passion of Christ will be my own passion.









