Monday, November 28, 2005
1. Apa perbedaan antara Etika dan Etiket?
Etika disadari bila manusia dapat berpikir dan berkehendak sendiri, yaitu dengan memasuki dunia moral (tidak menerima begitu saja etiket). Mulai bertanya mengapa kita melakukan etiket tertentu. Sedangkan etiket adalah norma sopan-santun yang diterima begitu saja (dari orang tua atau masyarakat sekitar) ketika manusia tumbuh menjadi dewasa. Etiket lebih menekankan yang lahiriah dan tidak berlaku universal.
2. “Wajib itu mutlak”, apa maksudnya?
Manusia dihadapkan pada suatu perbuatan konkrit yang harus dilakukan atau sama sekali tidak boleh dilakukan. Wajib tidak tergantung mau atau tidak mau kita tetapi tetap menjadi beban diri dengan mutlak, sekalipun kita bisa melanggar. Manusia tunduk pada suatu yang tinggi, yang mutlak (cita-cita kebaikan).
3. Mengapa suara hati bukan hanya rasa saja?
Suara hati merupakan pengertian yang mendalam tentang baik dan buruk yang meliputi seluruh manusia. Tidak hanya mengerti dengan budinya, tetapi mengerti dan mengalami dengan seluruh pribadinya (total).
4. Mengapa Driyarkara menyebut kewajiban ikatan yang membebaskan?
Dengan menjalankan (mengerti dan mentaati) kewajibannya manusia bertindak sesuai dengan kemanusiaannya. Wajib bukanlah paksaan, menerima wajib justru menjadi bebas.
5. Dengan tiga argumen mana Driyarkara menolak pendapat sosiolog Durkheim tentang kewajiban moral?
Pendapat Durkheim : asal dan dasar dari wajib adalah masyarakat, dan hanya masyarakat. Moral hanyalah ikatan dari masyarakat. Ukuran baik dan buruk adalah masyarakat.
Driyarkara menolak dengan tiga argumen:
Manusia itu pribadi, sementara pendapat Durkheim merupakan depersonisasi yaitu memungkiri manusia sebagai pribadi. Pendapat Durkheim tidak sesuai dengan fakta yang terjadi dalam dalam masyarakat dengan adanya perseorangan-perseorangan yang mengajukan kritik dan koreksi. Hal ini tidak mungkin terjadi jika moral sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat. Pendapat Durkheim membenarkan kolonialisme, melanggar Hak Asasi Manusia jika diklaim suatu masyarakat tertentu.
6. Apa hubungan antara sikap moral dan tekad?
Tekad adalah cara berdiri (pendirian) yang diperlukan agar manusia bisa melaksanakan sikap moralnya. Tekad adalah untuk melaksanakan, menentukan, menjalankan sikap moral, meskipun ada kesulitan. Tekad mengandaikan ada keberanian untuk melaksanakan sikap moral dan siap sedia untuk melakukan kebaikan.
7. Apa hubungan antara tanggungjawab dan kemerdekaan?
Sadar tanggungjawab berarti sadar akan kemerdekaan. Kemerdekaan untuk berbuat atau tidak berbuat. Tanggungjawab adalah pendirian yang memampukan manusia untuk menggunakan kemerdekaannya ke arah kebenaran. Bertanggungjawab berarti manusia dengan merdeka menerima keniscayaan kodratnya.
8. Apa pandangan Nietzsche, Scheller dan Driyarkara sendiri tentang kesalahan moral?
Nietzsche :
· Hanya perasaan anak kecil atau budak.
· Kebohongan, penyakit, cara berpikir budak.
· Manusia tidak perlu merasa salah atau berdosa
Max Scheller:
· Keadaan yang tak berharga, tidak bernilai, hal ini terjadi karena manusia yang mampu memandang “aku”-nya sendiri.
Driyarkara:
· Mengkhianati kodratnya yang luhur.
9. Apa hubungan antara suara hati dan Tuhan menurut J.H. Newman?
Suara hati adalah suara dari Tuhan. Tunduk pada suara batin, kita makin mengerti kesempurnaan dan kebaikan dan dalam mengalami sense of duty manusia berhadapan dengan Tuhan. Kesusilaan adalah pelaksanaan perintah Tuhan.
10. Apa hubungan antara sikap moral dan keheningan budi?
Keheningan budi menjadi sikap dasar manusia dalam menentukan/melaksanakan sikap moral secara konkret sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keheningan budi ialah sikap-aktif manusia, dengan mana manusia meneliti dan mengarahkan seluruh proses perbuatannya ke arah sikap moral sesuai dengan tuntutan kodratnya.
Friday, November 25, 2005
Happy thanksgiving for everybody. Thanksgiving is the most important day in the USA. It is time to have a nice moment with family. In the morning we went to China Town to have celebration there.I think it was a multicultural celebration where people from different backgrounds joined and enjoyed the food. There were so many food from different culure, like chinese, Italian, Indonesian and American. Around 100 people came. It was a tremendous celebration. After that we went to suburb, an american family invited us. I went there with Rocco, Alejandro, Valery and Francois. Turkey, mass potato, cranberry, wine, sweet corn were prepared ncely. Wow....I really enjoyed those thing. I almost passed out especally when I tried three different types of wine. The thing that impressed me alot was the hospitality of the host. Since they knew that I would come they learned about Indonesian culture just to make good conversation. They downloaded from the internet all stuff about Indonesia. During meal the host explained the meaning of Thanksgiving day. After meal we still had nice conversation about theological stuff. Time went very fast finnaly we went home at 10.15. I was tired and I went bed directly.
Thursday, November 24, 2005
Saya kira setiap orang mau menjadi bahagia dalam hidup ini. Tentang apa itu arti bahagia setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda. Ada yang merasa yakin bahwa harta membuat orang bahagia, tapi banyak juga orang yang tidak menyakininya. Apakah kebahagiaan adalah kalkulasi dari pleasure atau kesenangan-kesenangan yang kita alami dalam keseharian hidup kita? Kalau ya maka tidaklah sulit untuk menjadi bahagia. Just make easy your life, that's it. Tapi menurut saya yag terjadi tidaklah demikian. Hidup ini bersisi jamak seperti fresko. Kenyataannya hidup ini penuh dengan ketegangan. Ketidakmampuan memelihara atau memanage ketegangan yang terjadi adalah disintegrasi. Disintegrasi adalah sumber ketidakbahagiaan. Orang boleh mempunyai segalanya tapi pribadinya tidak terintegrasi. Coba lihat kasus banyaknya perceraian di antara artis sekarang ini. Adakah yang kurang dalam hidup material mereka? Mereka hampir memiliki segalanya. Apa yang salah dengan mereka? Kebahagiaan merupakan kemampuan kita mengatasi ketegangan-ketegangan dalam hidup kita. Itu berarti mampu memaknai setiap pengalaman baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Itu berarti mampu melihat keindahan dalam pengalaman pahit sekalipun. Jadi kebahagaiaan bukan sekadar perasaan tapi kemampuan dalam memaknai setiap pengalaman hidup. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dikonsumsi atau dikalkulasi dari pengalaman-pengalaman menyenangkan. Ia lebih menyerupai art of life.
Sunday, November 20, 2005
"Dua menit berselang gantian David Trezeguet merobek gawang Roma. Umpan silang yang dilepaskan Gianluca Zambrotta menjadi makanan empuk buat kepala Trezeguet.Trezeguet kembali menebar mimpi buruk untuk skuad Luciano Spalletti. Di awali umpan Nedved kepada Ibrahimovich, pemain Swedia itu mampu melepas umpan silang yang kali ini diceploskan ke gawang Roma dengan menggunakan kakinya." (detik.com, Nov 20, 2005)"
Membaca berita dari Detik.com hari ini sungguh membuat saya senang. Juventus menang besar 4-1 melawan AS Roma. Saya masih ingat waktu di Jakarta dulu setiap hari Minggu nonton siaran langsung sepak bola liga Itali. Setiap orang punya klub kesayangan masing-masing pokoknya setia sampai kapanpun. Tidak jarang karena kefanatikan terhadap salah satu klub terjadi insiden kecil di kamar makan. Saya pun tergoda mengatakan: Juve is the best! yang pasti ditanggapi sinis pendukung Milan. Ehm...detik.com melaporkan kemenangan Juventus dengan sangat luar biasa. Perhatikan empat ungkapan yang fantastik berikut: merobek (memangnya gawangnya dirobek?, makanan empuk (enak dong nelannya?), menebar mimpi buruk (memangnya teroris?), diceploskan (memangnya mudah melakukannya?).
Bagaimanapun juga ada interpretasi dari laporan detik.com. Bisa jadi itu bahasa jurnalis, atau mungkin juga yang nulis pendukung Juve! Saya senang dengan kemungkinan kedua! Bravo JUVE!
Saturday, November 19, 2005
Great wekend! That's the title of my blog today. Since yesterday I have been preparing my self in many things. First of all, I could go to China Town to help Denny with his presiding class. I went to St. Therese Church with some Indonesian guys. I was in charge of palying organ, Ignas took picture and Wawan recorded all activities we did. That's quite well. Well done! Denny did great job by singing some parts of the Eucharistic Prayer. So, to celebrate our big job we went to the chinese restaurant to have supper. Wow...I was starving. Imagine usually we have super at 06.00, and we had to wait for a while. So...we really enjoyed the food...fried rice, soup, mango juice, pork and ehm...what else? After supper we went around the city of Chicago. Wow...that's gorgeous. We took some pictures close to the lake Michigan with high buildings as background behind us. Unfortunately the weather was very cold and windy and I couldn't survive in this kind of weather. Anyway Thanksgiving Day is coming, we will have a nice celebration again. I miss big Turkey..coming soon!
Thursday, November 17, 2005
Teroris bukanlah ilusi, ia ada dan nyata. Mengatakan tidak ada teroris di Indonesia sekarang ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap kenyataan. Lihatlah fakta! Teroris berkeliaran di Indonesia siap seperti singa yang siap memangsa korbannya. Sedikit demi sedikit terungkap modus operandi-nya. Sebagian orang bingung mengapa orang mau melakukan tindakan membunuh orang lain demi sebuah tujuan mulia. Bukankah itu kontradiktif pada dirinya sendiri? Bagaimanakah sebuah tindakan mulia kalau sarananya tidak benar? Saya jadi ingat tentang kekuatan "interpretasi". Apalagi kalau interpretasi itumenyangkut teks suci yang dianggap mengatasi segala sesuatu.
Terorisme lahir dari bagaimana orang menginterpretasikan teks suci. Interpretasi kemudian diabsolutkan menjadi satu-satunya yang paling sahih dan benar. Ia bukan sekadar teks mati dan beku tapi menjadi jaminan kebenaran dan kesahihan bagi sebuah tindakan. Jaminan itu bisa berarti jaminan masuk surga, sebuah impian bagi setiap orang "beriman".
Terorisme lahir karena keinginan untuk mengubah keadaan secepat mungkin dalam waktu kilat. Orang menjadi stress melihat keadaan yang semakin menyesakkan. Terorisme bisa dikatakan "jalan pintas yang disucikan". Ide dasarnya adalah mau mengubah kenyataan secepat mugnkin, baru kemudian dicari pembenarannya dalam teks-teks suci. Teks-teks suci itu harus ekplisit mendukung sebuah tindakan lengkap dengan jaminannya. Maka pembacaan teks terjadi secara literal. Historisitas teks tidak penting. Dua alasan di atas bersimbiosis dan hasilnya bisa dilihat dari berbagai tindak terorisme sampai saat ini. Maka dicarilah orang yang memenuhi dua kriteria, pertama orang yang cenderung menafsirkan teks secara literal dan kedua orang yang berpikir instant.
Di sini kita liat betapa interpretasi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pertanyaannya adakah kriteria tertentu untuk menilai kebenaran sebuah interpretasi? Saya kira ada! Secara nalar kita bisa sampai di sana setidaknya sebuah interpretasi yang benar tidak akan melanggar prinsip moral universal atau hak asasi manusia. Membunuh berarti melanggar hak hidup manusia. Merampas melanggar hak untuk memiliki sesuatu. Ini hanya satu perspektif saja melihat fenomena terorisme! Ada yang lain?
Monday, November 14, 2005

Dalam karyanya yang memberi sumbangan penting untuk diskusi di sekitar modernitas,
The Philosophical Discourse of Modernity (TPDM), Habermas dengan sangat tajam menunjukkan kelemahan para penganut postmodernisme . Dia mengatakan bahwa asal-usul konsep "post-modernitas" sendiri layak diteliti. Konsep ini berasal dari sebuah konsep abstrak dan ahistoris mengenai "modernitas" yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu sosial Barat. Modernisasi disamakan dengan akumulasi modal, teknologisasi, birokratisasi, sekularisasi, dan seterusnya yang bisa diberlakukan secara universal. Dalam ilmu-ilmu sosial, istilah itu menjadi teknis, hingga dilupakan bahwa modernitas berkaitan dengan rasionalisme Barat yang oleh Max Weber dianalisis sebagai rasionalisasi. Kelemahan mendasar pemikiran postmodern adalah lewat pemahaman ahistoris dan netral atas konsep "modernitas" itu, mereka menjadi pengamat yang seakan-akan bisa meninggalkan cakrawala sejarah menjadi "post"-modern. Habermas tetap bertahan bahwa apa yang disebut postmodernisme tersebut termasuk ke dalam modernitas. Karena belum memahami makna konsep modernitas, menurut Habermas, mereka juga tidak bisa mengklaim diri melampaui modernitas itu. Sepanjang bukunya, Habermas memperlihatkan keganjilan-keganjilan dalam pemikiran post-modern tersebut.
Habermas menemukan konsep dialektika pencerahan dari para pendahulunya sebagai semacam arena diskusinya dengan pemikiran postmodern. Sepanjang diskusinya dengan pemikiran Nietzche para ahli warisnya diikuti, dia berusaha memperlihatkan bahwa pemikiran postmodern gagal mengatasi dilemma yang membingungkan itu. Wilayah yang dimasuki Habermas dalam TPDM adalah filsafat, atau lebih khusus lagi problematik kesadaran. Cukup alasan bagi Habermas untuk berdiskusi dan postmodernitas dalam ilmu-ilmu social memiliki basisnya dalam pemikiran filosofis. Jadi, dia sebenarnya mulai dengan problematik modernitas atau dialektika pencerahan itu. Di dalam seluruh diskusinya tampil kecermatannya yang sangat tajam untuk menghadapkan Teori Kritis sebagai ahli waris Hegel dan postmodernisme sebagai ahli waris Nietzsche. Kedua front ini dihadapkan pada masalah yang sama: dialektika pencerahan
Untuk meninggalkan proyek modernitas, Nietzcshe menyingkirkan kepercayaan kita mengeni sejarah dan rasionalitas. Dia memang mulai dengan riset filologis atas dunia mitologis. Namun, refleksi histories itu hanyalah anak tangga yang kemudian ditinggalkan ketika dia sampai ke dalam mitos. Lalu, baginya mitos adalah sejarah dan sejarah adalah mitos. Pembedaan mitos dan sejarah rasional hanyalah sepenggal masa yang diakibatkan oleh Sokrates dan oleh para filsuf Yunani sesudahnya, dan dia menolak percaya bahwa rasionalisasi merupakan proses yang benar menuju kemajuan. Lebih tepatnya bahwa mitos masa lalu mampu membisikkan nubuat kreatif mengenai masa kini, sehingga tak ada batas yang tegas antara mitos dan logos. Karena itu dihadapan Nietzsche tak ada kebenaran.Yang ada adalah kebenaran-kebenaran. Pandangan perpektivistis ini menolak objektivisme ilmiah dan penafsiran bisa dilakukan menurut apresiasi hidup. Yang jauh lebih asli dari rasionalitas adalah kehendak untuk berkuasa. Di satu pihak, Nietzsche masuk ke dalam kontemplasi estetis dengan sikap antimetafisika, tetapi di lain pihak dia tidak meninggalkan filsafat ketika menggali kehendak untuk berkuasa di balik segala pemikiran metafisis.
Friday, November 11, 2005

Selain sebagai seorang filsuf, Sartre juga dikenal sebagai pengarang novel, pengarang drama dan skenario film, kritikus sastra, dan pemikir politik. Oleh karena itu, Sartre termasuk salah seorang pengarang paling terkemuka dalam abad ke-20. Sartre mengaku sejak usia 12 tahun ia tidak percaya lagi akan adanya Allah. Kesusasteraan menjadi agama baru baginya. Sebagian masa kecilnya dihabiskan dalam keterasingan relasi. Ia hidup di tengah-tengah orang dewasa, tanpa adik, tanpa teman sebaya. Sesuatu yang paling akrab dengannya adalah perpustakaan kakeknya. Maka ia mengalami kesulitan ketika harus melanjutkan sekolah di
Lycee Henri IV di Paris. Ia termasuk anak yang pandai sampai akhirnya lulus dengan hasil terbaik. Sebagai mahasiswa dan guru muda Sartre termasuk golongan intelektual yang berhaluan kiri. Salah satu karya Sartre yang terkenal adalah
L’etre et Le neant.
Essai d’ontologie phenomenologique (1943) (Ada dan Ketiadaan. Percobaan suatu ontologi fenomenologi). Pada tahun 1964 dipilih sebagai pemenang Hadiah Nobel bagian kesusasteraan. Tetapi ia menolak dengan alasan penghargaan itu akan mengurangi kebebasannya dan memasukkan dia ke dalam kalangan borjuis / kapitalis.
Menurut Sartre ada dua cara “berada”:
1. Berada-dalam-diri (L’etre-en-soi), yaitu cara berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. ”Berada” di sini mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Tidak ada alasan mengapa benda-benda itu “berada”. Misalnya meja, kursi, pohon, batu, tidak ada alasan mengapa benda-benda tersebut “berada”. Segala yang “berada-dalam-diri” itu tidak aktif sekaligus tidak pasif, tidak meng-“ya”- kan sekaligus tidak menyangkal. Dapat dikatakan beku, padat, tertutup, tidak ada ikatan satu sama lain, tidak berhubungan. Berada-dalam-diri mentaati prinsip identitas (It is what it is). Sartre menyebutnya sebagai memuakkan (nauseant)
2. Berada-untuk-diri (L’etre-pour-soi), yaitu berada dengan sadar akan dirinya, cara berada manusia. Oleh karena itu manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya, ia bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada. Pada manusia dengan demikian ada kesadaran, yaitu kesadaran prarefleksif dan kesadaran refleksif. Menurut Sartre setiap orang memiliki kesadaran yang berciri “menidak” (anneantir) terhadap segala sesuatu yang melekat pada dirinya, bahkan termasuk dirinya sendiri. Tentang “berada-untuk-diri” bisa dikatakan is not what he is. Sebagai contoh, misalnya kalau saya sadar akan sesuatu hal, maka itu berarti bahwa saya bukan sesuatu itu. Maka kalau saya sadar (akan) diriku sendiri maka saya bukanlah “saya” sebagaimana yang saya sadari tentang diri saya sendiri. Bagi Sartre kesadaran berarti distansi, jarak, non-identitas.
Relasi-relasi antar manusia : “konflik”
Pendapat Sartre tentang kesadaran (seperti ditunjukkan di atas) membawa pengaruh pada pandangannya tentang relasi-relasi antar manusia. Aktivitas kesadaran yang khas “menidak” berlangsung juga dalam setiap perjumpaan antara kesadaran-kesadaran. Setiap kesadaran ingin mempertahankan subjektivitasnya sendiri dan dengan demikian menjadikan atau memperlakukan orang lain sebagai obyek. Ternyata orang lain pun berbuat yang sama, berusaha menjadikan saya sebagai obyek. Dalam setiap perjumpaan antara kesadaran-kesadaran terjadilah dialektika subyek-obyek. Nah, kalau situasinya demikian, maka menurut Sartre, setiap relasi antar manusia pada dasarnya berada dalam situasi “konflik” terus-menerus. Menurut Sartre konflik merupakan “inti” setiap relasi intersubjektif. Setiap orang mempunyai tendensi untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai “pusat” atau “subyek” dengan jalan memperlakukan orang lain sebagai “obyek”.Tidak heran kalau sebagai “subyek”, saya akan selalu memperdaya orang lain untuk menjadikannya sebagai “obyek” untuk saya-sebagai-subyek. Maka terjadilah dikotomi subyek-obyek yang berlangsung terus-menerus. Dikotomi ini melahirkan dua kemungkinan:
1. Saya merelakan diri menjadi “obyek” bagi dia-sebagai-subyek (ingat pendapat saya tentang perblogkan?). Misalnya dalam cinta dan masokhisme, saya membiarkan diri dijadikan obyek.
2. Orang lain itu menjadi “obyek” bagi saya-sebagi-subyek. Misalnya dalam sikap benci, marah, perbuatan sadistis, menjadikan orang lain sebagai “obyek” nafsu seksual saya (le desir). Maka bagi Sartre hidup perkawinan memberi peluang lebar bagi pengobyekan ini. Cinta menurut Sartre mau tidak mau berakhir dengan kegagalan, bahkan penipuan (sikap pura-pura: saya menjadi obyek bagi dia-sebagai-subyek, padahal dia juga menjadi obyek bagi saya-sebagai-subyek). Perbedaan antara kedua macam kesadaran ini bisa kita jelaskan demikian: Aku sedang menghitung uang yang berjumlah banyak. Oleh karena itu perhatianku tertuju pada lembaran-lembaran uang yang aku pegang. Bahwa aku sedang menghitung memang aku sadari (sebab aku tidak pingsan ketika menghitung itu), akan tetapi perbuatan menghitung pada waktu itu tidak menjadi pusat perhatianku, hanya disekitar perhatianku. Kesadaran yang tidak ada di pusat inilah yang disebut kesadaran prarefleksif. Tetapi ketika aku sedang sibuk menghitung uang datanglah seorang teman yang bertanya: “Kamu sedang apa?” Aku menjawab: “Aku sedang menghitung uang?” Pada waktu itulah aku sadar bahwa aku sedang menghitung. Bentuk kesadaran yang demikian disebut kesadaran refleksif. Sebagai contoh, misalnya saya sedang mengintip seseorang dari lobang pintu, saya memperhatikan apa saja yang dilakukan orang itu dalam kamar. Dalam hal ini saya menjadikan orang yang ada dalam kamar itu sebagai “obyek”. Tetapi ketika saya sedang mengintip datang orang dan diam-diam memperhatikan gerak-gerik saya. Nah, pada posisi ini saya menjadi obyek bagi orang tersebut.
Thursday, November 10, 2005
Wednesday, November 09, 2005
Robert L. Kinast offers five styles of theological reflection.
[1] One of them that interests me is an inculturation style of theological reflection. Inculturation style of theological reflection pays attention to the human experience in the cultural setting. Inculturation itself is the presentation and re-expression of the Gospel in terms and forms proper to culture. Nevertheless, here I see that the reflection starts from the experience and not from the fixed values such as the natural law or established theology. Inculturation always fascinates me. This word has become the most popular word in my own culture, especially when I have to do theological reflection. I shall present here why I am interested in this theological reflection and I shall offer some example in my own life. I am interested in this method because of some reasons.
First, in this reflection, the human experience in cultural setting is considered as a source of reflection. Human experience is the area where God acts. Human experience is not perfect, because it is flawed by ignorance or sin. Nevertheless, God’s saving action manifests on it. We can not speak of faith outside of our experience. Theological reflection is made always in the dialog of three sources of theology: culture, tradition and experience. In my opinion, inculturation style of theological reflection is one of the most important reflections that I have been doing until now. When I reflect on my faith in Catholic Church, I will face my own identity: Javanese and Catholic. I grew up in the multicultural background. My parents and relatives are Muslim, I have been educated in the catholic school since I was in kindergarten until now. I am a Javanese who is a catholic. This expression sounds strange because normally, Javanese is identical with Muslim. I am a catholic and it does not take me away from my culture. That shows that there is no contradiction at all to be Javanese as well as catholic. Here I show how culture, tradition and experience mix in the theological reflection. Catholic faith and Javanese culture are not two competing quantities that exclude each other rather faith and culture complements each other.
Second, there is dialog between culture and Gospel. In inculturation, human cultures reflect divine truth (semina verbi). It is obvious that in the culture itself there are so many Christian values. The message of Gospel comes not to change the values that already exist in the culture but it will complement each other. Even in the personal level, I can feel how the dialog between culture and Gospel comes about. I pray in my own language and it gives me deep meaning and sense. It will be very different for me if I have to pray in English or other language. I can not translate completely my deep feeling into other language. I consider that experience as a part of inculturation, which is to make correlation between Christian faith and culture. Considering an inculturation style of reflection in the community level, I go back to my own culture in responding to the Gospel. May be it is better to go back to the succinct history of Christianity in Java. Christianity in Java started when some missionaries from Holland translated the message of the Gospel in Javanese language. That happened before the promulgation of the Vatican Council II. From that point, people were interested in becoming Catholic. People understood better the message of the gospel and discerned that christianity was valuable. The symbols and codes they were using compatible with the values of the Gospel. From that starting point, many people joined Catholic Church and be baptized. Here we can see how powerful theological reflection that being used by missionaries. My reflection here just wants to show how inculturation style of theological reflection is important in the context of dialog between culture and Gospel.
Third, inculturation style enables me to be familiar with my own circumstances. My daily life and everything I see in the society are the source theological reflection. Whatever I experience in daily life can bring me to the deep reflection. Daily life itself is not something special sometimes but the capacity to give value toward it brings me to deep reflection. Theological reflection is very useful in the society where the tradition is valuable and still plays important part in the social life. God’s revelation and salvation manifest in the culture. It is interesting that the idea of inculturation is one reason why I finally decided to be a catholic. I feel comfortable when celebrate mass in my own language. I never lose my identity as a Javanese. There is no superior or inferior, winner or loser in the inculturation. Here there is an appreciation to the local community.
Fourth, in the inculturation style it is easy to evaluate directly the harmonious between culture and Christian belief. There are many values that are harmonious with christian belief. The Eucharist is the most important thing in the Christian life. In my own culture, the idea of community in the Eucharist already exists. So to accept the Eucharist as a celebration of the community is not something difficult. How do I as a Javanese reflect on the Eucharist? Let me tell my story when I celebrated the Eucharist for first time. I was baptized when I was thirteen years old. Before I was baptized, I used to take part in the Eucharist. The Eucharist was celebrated once a month in the house of parishioner in alternate. I was really impressed by the participation of people during celebration. Everybody was singing during mass and the Eucharistic prayer was recited in dialog with the people. Usually we sat down around the table and the priest presided the mass in our own language. It was amazing because the priest himself was Dutch but he could speak Javanese fluently. After mass, we had meal together. I consider that the atmosphere we created was similar to the first community in the Acts of Apostles. Shortly, the way to celebrate Mass is very familiar with my own custom. Therefore, I can say that it is Javanese Church.
Fifth, inculturation style of reflection avoids the colonialism of one culture to other culture. Colonialism in the religious is real experience we have ever had in history. The usage of Latin language during mass for example obstacles people to express themselves. Let us think about the idea of martyrdom. The terrorists understand martyrdom from the point of view that they sacrifice themselves for “god”. In the name of “god” they kill others. In my opinion, what happen with the terrorists is that because they take for granted everything from others without critical understanding. They let themselves to be colonized by other values. To kill others is prohibited in traditional value. It is clear that the original value is important in shaping people to conduct in accordance with universal value. In the context of my faith, I can see that there is also imposition of European Theology and religious practice. Some symbols we use in the Eucharist for example do not make sense for some people. The cloth for priest in the Eucharist describes the authority rather than ministry. We have to import candles from other place although we have our own symbol. In my opinion, symbols that do not speak directly to people are not symbols anymore. Those symbols are useless and out of date. There is a process of listening in the inculturation style of reflection. When I go the other culture that is totally different with my own, this process is working. In the theological reflection, listening is part of discernment. It is not an easy process. Very often that we come with conviction that our value is the best. It can happen that we colonize the culture by pushing and forcing our own value. When I came to the USA for first time I could not concentrate during mass especially because I did not understand the language they were using. By process of listening finally, I am able to grasp the meaning of celebration.
Sixth, inculturation style of reflection does not take for granted all values from the culture but it modifies the culture or even corrects the culture. It can be done if there is dialog between culture and Gospel. For example, in Javanese culture, women do not have significant involvement in the social life. That influences in the liturgy as well. Christian faith contributes the precious value that man and woman are equal. Christian value here tries to correct the culture. This process happens although it takes long time. In the case of modification, I have experience when I did my pastoral ministry in Mentawai Island one year ago. In the Mentawaian’s original belief they acknowledge the existence of God called Taikamanua. When the Missionaries from Italy came to Mentawai for first time, they just changed that Taikamanua is God in the terminology of Christian belief. I just present the six reasons why I choose an inculturation style of theological reflection as my way of doing reflection. I do believe that God reveals in the culture and our task is to discover and affirm the seeds of truth and to challenge everything in the culture. There we shall find the full manifestation of God’s truth and love.
[1] Robert L. Kinast, “What Are They Saying About Theological Reflection”, Paulist Press, NY 2000
Tuesday, November 08, 2005

It is very interesting to read the last part of book the Banquet’s Wisdom: So Now What?
[1] Garry Macy articulates nicely how to bring the Eucharist in the context of ecumenism. There are some important points.
First, there is tendency among the churches to blame each other. Among the early church writers did not agree themselves on the issues that concerned the reformation. Here it seems that there is partiality in the disputes. There is no single interpretation.
Second, the major difficulty in the reformation disputes involved the clericalization of the sacrament. Worship happened fully in the liturgy and those who could do that were priest and bishop. In this moment, the priest had privileged to celebrate the Eucharist. The real question, not “what is the Eucharist?” but “who is in charge?”. Historically the church developed by adopting some materials from the culture (Greek, Jewish). In any sense, something that divides the churches has more to do with authority that with the Eucharist.
Third, the problem of God becoming more and more distant from the ordinary person not only in practice but in theory. Macy notices that all the theologians were trying to say that they really experienced the risen lord in the liturgy. The following question is what does “really” mean in that sense? Finally fourth, the presence of the risen Lord is that he is present and experienced but not physically. The risen Lord is present in the whole lives. The dispute about the Eucharist is one of many disputes the churches ever had. Others disputes such as the interpretation of Trinity, the idea of collegiality, how to interpret bible etc, have become the part of the church’s history. According to those points above, I can say that the disputes actually happened in the high level (popes or theologians). We do not know exactly how those disputes practically influenced the religious practice in the grass-root level. From the history of the church, we know that some controversial issues that happened in the church actually were about interpretation. The church had very limited established doctrine. Therefore, many theologians tried to articulate some important issues. Interpretation came about when some questions were raised and people tried to give an answer. The disputes we have ever had in the history of the church have contributed us in understanding our situation now. We have to acknowledge that we are different in our understanding of the Eucharist, even in the same church. Should we have the same idea about the Eucharist? How can we do that? The debate regarding the Eucharist by questioning the way God present in the Eucharist is irrelevant. God can do everything! We can move forward by developing the reflection of the Eucharist. How can we keep something controversial in our lives? Or how we can put thing in the center of our lives if that thing is controversial? The idea that the risen Lord is present in our daily lives is the bridge to unite the churches. We can not separate our daily lives with our worship in the liturgy.
In my opinion, it is better to develop our reflection on the Eucharist. We could look at the fruit of the Eucharist. How far can the presence of the risen Lord transform the world to be a better place? Here we can ask simply, “How can our daily lives influence the way we worship God? By developing the question into practical reflection, we will know that God is present through us. That understanding will be fruitful in our lives.
[1] Gary Macy, “The Banquet’s Wisdom”, NY:Paulist Press, 1992. pp.189-201.
Monday, November 07, 2005
I still have the same group as we did in the last discussion. It was an alive discussion, first of all every body took part actively according to his or her point of view. The fact that we are from different backgrounds really flavors the group. Fortunately, all articles were read by at least one person. It helped me to look at the problem from different point of view. I myself was interested in two issues regarding justice and feminist studies. I was enriched by the discussion especially I realize now that the moral issues are complicated. In addition, culture plays important part as well in shaping some moral values in the society. In the discussion, I found that there is always tension between the vision in moral life and the fact especially when we are talking about sexuality. From the discussion, some issues came up such as how to underline relatedness and interconnection in evaluating moral issues. I think the tension is going to exist in every moral issue. The idea of interconnection is important to see problem not just something static but dynamic. Some people mentioned the importance of social justice in sexuality. The idea of social justice will come up if we discuss the sexual ethic in the human experiences. Moral problem is going to be complicated especially in the modern world. Feminist perspective has contributed the idea of justice in enriching moral reflection. In my opinion, we never really figure out our all-moral problems. Whatever paradigm we use, that just gives us kind of guidelines to make moral choices. In my group, for example nobody refuses the idea of life-giving and love-giving in sexuality. Those ideas are taken for granted. However, the problem comes up when we are talking about specific case in real life situation. I think Ethics become relevant because of that tension, to give reason to every moral decision me make. I find also the tendency to look at the moral problem from the human experience. We need the general rules (as we understand the natural law) like the teaching of church or bible foundation to our conviction. But we cannot apply all those rules directly when we face moral problem. The way to apply the rules should be considered as part of bringing culture of life and charity. It impossible that the law excludes each other, it should be in line. When we talk in the level of vision it seems that we have no problem. We agree with some visions that fit with Catholic Church. But we have different approach when we look at the reality.
Sunday, November 06, 2005

Weekend is going fast. There is no reason actually to waste time by doing something useless. I think I try to use my time properly. But the more I have time the more I have no idea. I'm a great proscrastinator, doing something in the last minute. I don't want to curse myself anymore. Stop thinking and you will be creative in your life. My mind is filled with many things and those things disturb me to be creative. I spend one hour to read and then I will change my mind suddenly because there is new idea comes up in my mind. I have to write this idea right now.....and you know what I have published in my blog actually is part of my that process.I just published philosopical stuff that came up in my mind. That's not too bad first of all I still keep in mind what I have studied. I'd like to thank Angela who supports me to publish philosophical stuff. Without discussion everything is going to lose easily. I like discussion, kind of way to figure out together some problems. The more I know something the more I know nothing.
Saturday, November 05, 2005

Dewasa ini manusia mulai menyadari dirinya sebagai "makhluk yang mendunia". Bersamaan dengan itu manusia juga "memanusiawikan dunia" melalui keterlibatan praktisnya dalam dunia. Manusia memahami dirinya bukan sebagai roh murni yang menghuni segumpal daging, bergerak dalam dunia dan menghadapi sejumlah obyek. Manusia juga bukan obyek diantara obyek-obyek yang lain. Manusia itu "mendunia" dan karena itu juga menghayati dunia.
Maurice Merleau-Ponty adalah salah seorang pemikir yang berusaha mengungkit penghayatan-penghayatan pra-reflektif manusia mengenai diri dan dunianya. Karya pemikiran Maurice Merleau-Ponty dalam bukunya yang termasyur
"Phenomenology of Perception" berbicara tentang "tubuh" sampai pada kesimpulan: Manusia "Berada-di-Dunia".
Titik Tolak pemikiran : Masalah dualisme
Masalah dualisme, pemisahan jiwa dan badan menjadi masalah abadi dalam dunia filsafat. Perbincangan filosofis mengenai dualisme terus mewarnai tradisi filsafat Barat sampai saat ini. Ada tendensi untuk membuat pemisahan yang tegas, misalnya di awal masa modern, Rene Descartes, merumuskan manusia sebagai l’homme machine (manusia mesin), di mana badan dikemudikan oleh substansi lain, yaitu jiwa. Hasil akhir pemikiran tentang dualisme ini berkisar pada dua kemungkinan, yaitu mengasalkan manusia pada materi (realisme) atau mengasalkan manusia pada kesadaran (idealisme). Maurice Merleau-Ponty berusaha mengatasi masalah dualisme melalui suatu usaha sistematis dan metodis.
Fenomenologi sebagai Metode
Dalam filsafatnya Merleau-Ponty menggunakan metode fenomenologi secara ketat. Fenomenologi Merleau-Ponty berdiri pada jalur yang sama dengan Husserl. Sebagai alat analisis fenomenologi memiliki kemungkinan luas dalam merumuskan struktur-struktur penghayatan yang belum dirumuskan melalui refleksi ilmu-ilmu. Fenomenologi merupakan metode yang berusaha melukiskan apa yang tampak secara langsung bagi kesadaran, yaitu fenomen. Kenyataan dipahami sebagaimana adanya, yaitu kenyataan yang belum ditafsirkan oleh ilmu-ilmu positif dan filsafat. Ada tendensi kuat dalam sejarah pemikiran Barat untuk memandang kenyataaan hanya dari satu sudut pandang saja, yaitu sisi "ilmiah" saja. Tendensi ini muncul ke permukaan dalam sejumlah aliran pemikiran, misalnya positivisme dan naturalisme. Cara penafsiran model positivisme dan naturalisme membuat makna manusia sebagai eksistensi menjadi kurus, terabaikan dan hanya mengungkap "segi luar" saja. Husserl kemudian mengganti pemahaman itu dengan istilah Lebenswelt (dunia-kehidupan) yaitu dunia sebagaimana kuhayati, dunia sehari-hari. Dunia di sini bukan dunia "real" menurut kategori-kategori filsafat sebagaimana ditunjukkan oleh idealisme dan realisme, melainkan suatu dunia yang belum ditafsirkan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Dunia ini disadari secara pra-ilmiah, pra-reflektif, pra-falsafi, yaitu suatu dunia yang non-tematis. Dunia semacam ini telah lenyap tertimbun penafsiran-penafsiran ilmiah dan filsafat sementara itu untuk menemukannya kembali diperlukan jalan reduksi, yaitu menempatkannya diantara tanda kurung setiap bentuk penafsiran sampai akhirnya muncul suatu dunia dalam kesadaran atau benda pada dirinya sendiri. Husserl berkata "kita hendaknya kembali kepada benda-benda itu sendiri". Dunia yang hilang itu ditemukan kembali melalui intuisi atau kesadaran langsung yang menangkap dunia itu. Menurut Husserl kesadaran itu mampu menangkap dunia secara langsung karena kesadaran selalu terarah pada dunia. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran selalu memiliki dua kutub yaitu sesuatu yang menyadari (noesis) dan yang disadari (noema). Kesadaran sendiri tidak pernah sebagai kesadaran pada dirinya, sebagaimana dipahami oleh Descartes, melainkan bersifat intensional. Kenyataan itu "menampakkan diri". Fenomenologi Husserl di atas diikuti oleh Merleau-Ponty. Namun demikian ada beberapa perbedaan dasariah. Perbedaan itu terletak pada pendiriannya tentang intensionalitas dan reduksi fenomenolgis. Menurut Merleau-Ponty intensionalitas dipahami sebagai relasi ontologis pada taraf eksistensial, yaitu menyangkut totalitas cara berada manusia di dunianya, sementara Husserl menempatkan intensionalitas pada pengenalan epistemologis. Menurut Merleau-Ponty hubungan antara manusia dengan dunianya bersifat pra-sadar oleh karena itu intensionalitas juga bersifat pra-sadar. Merleau-Ponty menolak reduksi eidetis yang dikemukakan oleh Husserl. Husserl mengembalikan kenyataan-kenyataan konkret pada hakekatnya. Merleau-Ponty memahami eksistensi sebagai suatu hakekat, meskipun bukan suatu tujuan melainkan hanyalah tahap peralihan atau sarana untuk mencapai tujuan yang sebenarnya, yaitu memahami eksistensi yang dihayati.
Tubuh dan Persepsi
Melalui konsep persepsi, Merleau-Ponty yakin telah mengatasi masalah dualisme jiwa dan badan. Persepsi di sini lain sama sekali dengan pemahaman empirisme dan intelektualisme. Menurut Merleau-Ponty persepsi merupakan suatu intensi dari seluruh ada kita, yaitu suatu cara mengada yang terletak dalam dunia pra-obyektif, yang disebutnya Etre-au-monde. Persepsi menunjukkan bahwa manusia itu mendunia, berada-di-dunia. Dengan memahami persepsi sebagai intensi dari seluruh cara mengada kita di dunia ini, tubuh manusia dipahami sebagai tubuh-subyek (le corpsujet) dan bukan tubuh-obyek atau badan. Manusia bertubuh adalah cara mengadanya di dunia. Tubuh itu milikku, merupakan bagian dari eksistensiku sendiri. Tubuh milikku kuhayati dan karena itu aku mendunia. Bagaimana hubungan antara tubuh dan persepsi ? Tentang hubungan persepsi dengan tubuh, Merleau-Ponty menggunakan sebuah ilustrasi tangan-kaki hantu (phantom limb), suatu gejala aneh yang dialami oleh seorang pasien yang tangan dan kakinya diamputasi tetapi tetap merasakan adanya penginderaan pada bagain yang telah diamputasi itu. Bagaimana gejala ini dijelaskan? Gejala ini tidak hanya bersifat fisiologis juga tidak hanya bersifat psikologis. Fisiologi menjelaskan gejala itu sebagai kehadiran (presensi) aktual dari suatu representasi. Dengan demikian fisiologi memandang tubuh sebagai obyek, yang merupakan tubuh pada dirinya sendiri, tubuh pada umumnya, yaitu yang terlepas dari fakta kesejarahan pasien. Inilah yang disebut sebagai en-soi. Cara pikir ini memilih suatu pemikiran yang impersonal, yaitu suatu pemikiran yang tidak bersituasi. Pemikiran ini memiliki suatu keyakinan bahwa pemisahan antara situasi peneliti dan sifat-sifat obyek dalam penelitian mungkin dilakukan. Dalam arti ini tubuh menjadi tubuh pada umumnya. Sementara itu Psikologi menjelaskannya sebagai representasi dari suatu kehadiran (presensi) aktual, yaitu sebagai ingatan, persepsi akan adanya tangan atau kaki yang telah hilang itu. Dalam kedua penjelasan ini ada perlawanan kontradiktoris yang tidak memberi kemungkinan ketiga. Baik psikologi maupun fisiologi gagal menjelaskan gejala ini secara memuaskan, karena adanya fakta kontradiktoris yang saling berhadapan yaitu antara rasa kehadiran (presensi) dan rasa absensi yang tidak memungkinkan adanya kemungkinan ketiga. Gejala ini bersifat jasmani sekaligus rohani. Menurut Merleau-Ponty fenomena kaki tangan hantu di atas harus dipahami sebagai suatu kesadaran yang hadir di dunia dengan menubuh. Orang yang mengalami fenomen ini mirip dengan pengalaman seseorang yang masih merasakan kehadiran seorang sahabat karib meskipun sahabatnya itu telah lama meninggal. Pengalaman itu mungkin karena dihayati dalam cakrawala kehidupan subyek, yaitu dalam Lebenswelt-nya. Menurut Merleau–Ponty, tubuh adalah wahana dari cara mengada manusia yang disebutnya Etre-au-monde. Tubuhku menunjukkan bahwa aku dan duniaku saling terlibat. Melalui tubuhku aku mengenali obyek-obyek di sekitarku, aku memeriksanya dari segi yang satu ke segi yang lain sehingga dengan cara itu aku menyadari duniaku dengan perantaraan tubuhku. Tubuhku adalah subyek, karena melalui tubuh sikap-sikap subyektifku kukenali sendiri. Melalui tubuh aku mengungkapkan eksistensiku, karena aku dikenal sebagai subyek melalui tubuhku. Melaui tubuhku aku memaknai dan memberi bentuk kepada obyek-obyek. Suatu kubus kukenali sebagai kubus, suatu bentuk yang bersisi enam dan identik satu sama lain, karena aku memeriksanya dari segi-ke-segi dengan tubuhku. Akhirnya , tubuhku adalah subyek karena melaui tubuhku itu aku mengada di dunia. Tidak dapat dibayangkan sebuah kehadiran tanpa tubuh.
Ambiguitas Etre-au-monde
Menurut Merleau-Ponty, Etre-au-monde sebagai cara mengadaku di dunia mengandung paradoks. Paradoks ini terlihat dari pertautan antara en-soi (benda) dan pour-soi (kesadaran murni) yang terjadi secara dialekstis. Untuk menjelaskan hal ini Merleau-Ponty menggunakan sebuah ilustrasi tentang tubuh yang "mengalami penginderaan ganda". Jika aku menyentuh tangan kananku dengan tangan kiriku, maka tangan kananku bertindak sebagai pihak yang "disentuh" (sebagai obyek) sedang tangan kiriku sebagai yang "menyentuh" (subyek). Tetapi jika keduanya kusilangkan bersamaan, hal itu tidak berarti telah terjadi dua penginderaan yang terjadi bersamaan karena persepsiku terhadap dua obyek yang berdampingan, melainkan suatu ambiguitas : kedua tangan beperan sebagai yang "disentuh" dan "menyentuh" secara bergantian. Pada suatu saat tangan yang satu merupakan en-soi dan pada saat yang lain pour-soi. Dengan demikian, tubuh yang merupakan cara mengadaku di dunia ini, merupakan perpaduan antara en-soi dan pour-soi. Tubuh merupakan kehadiran subyek di dunia.
Manusia : Berada-di-dunia
Dengan ambiguitas tubuh-subyek, Merleau-Ponty bermaksud menunjukkan bahwa eksistensi yang berpersepsi bukanlah eksistensi pada-dirinya-sendiri dan juga bukan kesadaran murni. Manusia adalah badan yang menjiwa dan jiwa yang membadan, dan dengan cara ini manusia itu mendunia. Dengan demikian manusia tidak samasekali bebas menjadi tuan-bagi dirinya-sendiri, seperti dibayangkan oleh Descartes. Merleau-Ponty menilai manusia sebagai kemungkinan akan suatu kehidupan yang bermakna. Manusia adalah suatu persetubuhan dengan dunia, yaitu eksistensi manusia yang bertautan erat dengan dunianya. Manusia: Berada-di-dunia.
Friday, November 04, 2005
Filsafat Kant disebut sebagai Kritisisme, yaitu filsafat yang lebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Kritisisme Kant mau menyelidiki terlebih dulu syarat-syarat kemungkinan pengenalan kita. Kritisisme mau dilawankan dengan "dogmatisme" yaitu filsafat yang terlalu percaya pada kemampuan rasio tanpa menguji batas-batasnya. Menurut Kant, filsuf-filsuf sebelum dia disebut sebagai dogmatis, yang terbesar di antaranya adalah Wolff. Kata "kritik" dipahami sebagai pengujian kesahihan pengetahuan (segi ilmiahnya).
Filsafat Kant disebut juga "transendentalisme", yaitu mau menyelidiki ataupun menemukan asas-asas a priori dalam rasio (diri subyek) yang berkaitan dengan obyek-obyek dunia luar, yang disebutnya sebagai syarat-syarat kemungkinan (the condition of posibility) bagi pengenalan manusia. Dalam penyelidikan itu Kant bertanya: "Apakah metafisika itu mungkin atau tidak untuk memperluas pengenalan kita tentang realitas? Lebih lanjut ia bertanya : "Apakah metafisika mampu memberi kita pengetahuan yang pasti akan keberadaan Allah, kebebasan manusia dan keabadian?
Kant berusaha mencari jawab pertanyaan-pertanyaan di atas melalui pembedaan dua macam putusan (judgment), yaitu putusan analitis dan putusan sintetis. Menurut Kant, keputusan disebut analitis bila predikatnya sudah terkandung dalam subyek. Misalnya pada putusan : "Semua badan adalah keluasan". Konsep "keluasan" (P) tidak menambah sesuatupun pada konsep "badan"(S), karena "keluasan" sudah terkandung dalam "badan". Putusan itu bersifat a priori murni, tidak memerlukan pengalaman lebih dulu untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Selanjutnya disebut putusan analitis a priori. Sementara itu putusan disebut sintetis bila predikatnya tidak termuat dalam subyek sehingga menambah sesuatu yang baru pada subyek. Misalnya pada putusan: "Tubuh itu berat". Konsep "berat" (P) tidak termuat dalam konsep "tubuh"(S), dan karena itu menambahkan sesuatu pada konsep "tubuh". Konsep "tubuh" memberi informasi baru bagi konsep "tubuh". Untuk sampai pada kesimpulan itu bahwa "tubuh itu berat" kita memerlukan pengalaman lebih dulu, misalnya ternyata kita menemukan tubuh yang tidak berat. Jadi putusan ini aposteriori maka disebut sintesis aposteriori.
Lebih lanjut Kant memunculkan jenis putusan ketiga yang disebutnya sebagai putusan sintetis a priori. Misalnya pada putusan: "Semua peristiwa memiliki sebab". Putusan ini disebut sintetis tetapi a priori. Disebut sintetis karena "memiliki sebab" (P) tidak terrmuat dalam "semua peristiwa" (S), oleh karena itu, predikatnya ("memiliki sebab") memberi informasi baru pada subyeknya ("semua peristiwa"). Disebut a priori karena kita tidak perlu menyelidiki semua peristiwa lebih dahulu untuk sampai pada kesimpulan itu.
Selanjutnya Kant memberikan bukti bahwa putusan sintetis a priori ini berlaku secara berhasil pada matematika. Misalnya dalam putusan 7 + 5 = 12 adalah sintetis a priori, karena konsep "12" tidak termuat dalam 7 + 5. Untuk sampai pada konsep "12" kita tidak memerlukan pengalaman lebih dulu.
Dengan demikian Kant mendamaikan dua aliran filsafat yang berseteru saat itu, yaitu antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mengatakan bahwa sumber pengenalan adalah rasio belaka (a priori), pengalaman hanya meneguhkan apa yang telah ada pada rasio. Sementara empirisme sebaliknya, sumber pengenalan hanyalah yang inderawi saja ( a pos-teriori). Sementara Kant berpendapat pengenalan merupakan hasil sintesis antara unsur-unsur a priori dan aposteriori