Saturday, October 29, 2005
Sebenarnya sudah sejak dahulu kala orang mencoba merenungkan "state of nature" manusia. Mengapa ada kecenderungan negatif dalam diri orang yang kadang termanifestasi secara kolektif? (misalnya korupsi dari tingkat atas sampai RT). Thomas Hobes menyebutnya sebagai Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala bagi yang lain. Kecenderungan negatif itu liar, dan eksis di dalam setiap orang karena itu disebut sebagai state of nature. Teori kontrak sosial lahir justru dilatar belakangi oleh kecenderungan liar manusia. Kebutuhan untuk survive mendorong orang untuk merelakan kebebasan dirinya untuk diserahkan kepada individu besar yang disebut LEVIATAN. Kita boleh tidak setuju dengan Hobes tapi betapa Hobes telah membuat begitu rasional kenyataan negatif manusia tersebut. Hobes hanya mengungkap satu sisi dari banyak sisi manusia. Tapi betapa kecenderungan manusia itu telah menjadi biang keladi bagi hancurnya peradaban dan maraknya tindak ketidakadilan.
Menurut aku ( terinspirasi Hobes), hanya suatu komitment bersama bisa menyelamatkan kita. Lihatlah negara-negara maju, semua pasti memberlakukan hukum secara adil kepada siapa saja! Ingat manusia itu liar...tidak ada teman dan musuh abadi yang ada adalah kepentingan abadi. Hanya dengan "memaksa" orang tunduk pada hukum kita bisa melangkah bersama. Nah..bagaimana menegakkan hukum? Kembali kita berhadapan dengan struktur yang tercipta sekiam lama. Maka hanya dengan masuk struktur juga kita bisa berbuat. Kalau kita punya kesempatan masuk dalam struktur di mana ada power, kita punya kesempatan. Tapi apakah kita cukup berani melakukannya?
Wednesday, October 26, 2005
I just wanna see you going away from my heart. But the more I try to forget you, the more I remember you. I'm talking about my own tendency. I wanna stop thinking and I fail. Perhaps because of that I'm not creative, my mind is filled with thoughts to solve the problem, to do this or that. When I try to forget something at the same time I remember something as well. That's a tricky thought. Sometimes I just need to think in simple way, take for granted something and that's enough. But I always question everything, why this one goes like this or that. To be simple guy ehm...I wanna try to do that. Behave guy....calm down!
Anyway today I had class in the evening, that's so bad. First of all, it was very cold outside, so I had to wear sweater and gloves, going to school by bicycle, passing through the dark road. Oh...my gosh while winter is coming, windy and cold....never never have evening class anymore. BTW, the class ended at 08.30 because the White Sox is playing. Go..go..Sox! People screamed in the class. The professor knew what it meant! That's cool. Actually I should have watched the game but.....ehm I don't like baseball. But...it's good to support the White Sox! Go..go...Sox!
Tuesday, October 25, 2005
Sunday, October 23, 2005

Menika gambar kula kalian Mas Anton ugi Pak Yudo wonten ing kalodangan Peken Senggol ing Chicago. Wonten ing kalodangan menika kita sami nguri-uri kabudayan kanthi kekudungan Jawi: Stasiun Balapan, Jaranan, Rek ayo rek, Perahu Layar. Kabetahan kangge kempal kalian sesami saking Jawi saged dados jampi kangen. Mangga sami ngidung suka parisuka!
Wednesday, October 19, 2005
Dear God, sometimes I get angry so easily. Things go wrong, people don't act the way I want them to, someone's words rub me the wrong way. Help me, God, to control my anger, to keep it from spilling out, hurting those around me. Remind me that usually, when it comes right down to it, I'm angry simply because I can't have my own way. Give me the strength to accept whatever You send into my life. Amen! That is my prayer today when I get upset of myself and everyone around me. I feel as if I didn't have enough power to win in every race of my life. Whenever I try to focus everything on the right way according to what I have scheduled, at the same time, the temptations are coming to draw my attention. And...I lose completely! Hm....Teach me God when I feel tempted to run immediately to You, so that each temptation becomes the point where I immediately draw near to You, a knot that ties me even closer to your presence. Amen!
Sunday, October 16, 2005
Seorang teman berkeluh kesah setelah melihat keadaan Indonesia yang semakin parah saja dari hari ke hari. Saya pun merasa sedih mendengar berita-berita negatif tentang Indonesia. Kenaikan BBM, Bom Bali, Korupsi adalah beberapa kasus besar yang membuat saya semakin pesimis akan masa depan Indonesia. Saya bermimpi kapan bisa mendengar berita baik tentang Indonesia. Semua keadaan membuat saya gelisah, betapa irasional kenyataan ini. Jangan berhenti berharap kata seorang teman. Yah...harapan selalu menjadi obor di tengah kegalauan. Tetapi betapa susah menciptakan harapan di tengah situasi yang menyesakkan.
Kenyataan irasional tersebut membuatku ingat apa yang dulu pernah kami diskusikan di ruang kuliah STF Driyarkara. Adalah Imanuel Kant, seorang filsuf Jerman, "mencipta" sebuah negara sebagai "republik setan-setan". Setan pun bisa mencipta sebuah bangsa asal mereka bertindak rasional. Tesis dasarnya buatlah komitment bersama di mana setiap individu di dalamnya harus tunduk pada komitment bersama tersebut. Ketertundukan pada komitment menjadi mutlak dan harus selalu diteliti setiap saat dalam tatapan publik. Sikap licik atau menguntungkan diri sendiri justru akan mencipta disorder pada komunitas karena orang lain pun secara diam-diam akan melakukan hal yang sama. Sederhananya, daripada kebutuhan survival saya terancam lebih baik saya bermain fair dengan mematuhi segala tuntutan bersama. Publik selalu menjadi kontrol, dan revisi terhadap komitment selalu dilakukan ketika kesepakatan mulai kelihatan tidak relevan.
Dalam konteks Indonesia, kita bisa belajar dari "setan-setan jahanam yang rasional" ala Kant. Permasalahannya adalah bagaimana kesepakatan bersama (baca: hukum) menjadi alat untuk mengkontrol setiap warga negara. Ingat manusia bebas tapi terbatas, batasnya adalah kebebasan orang lain. Hukum di sini merupakan kesepakatan bersama sehingga kita (aku dan kamu) tetap survive. Hukum yang lemah membuat orang akan bertindak sesuai dengan interestnya masing-masing. Lemahnya penegakan hukum menjadi awal bagi "persekongkolan" setiap warga negaranya. Sederhananya, tegakkanlah hukum sebelum menyelesaikan permasalan-permasalahan yang lain. Hukum di sini bukan berdasar nilai moral kelompok tertentu tapi moral universal. Moral universal mencakup semua orang. Selama hukum belum tegak, lupakanlah segala bentuk penyelesaian praktis terhadap permasalahan bangsa. Menurut Kant, rasionalitas dan ketertundukan pada komitment bersama cukup untuk mencipta sebuah bangsa, bahkan oleh setan sekalipun yang notabene bejat. Manusia yang rasional seharusnya lebih bisa lagi.
Beberapa minggu yang lalu saya terima email dari seorang teman tentang bagaimana pemerintah China memperlakukan hukum mereka bagi para koruptor. Tiada ampun lagi bagi para koruptor. Penegakan hukum dan perlakuan yang sama terhadapnya "memaksa" orang untuk tidak menyalahgunakan kebebasannya. Kita lihat China sekarang menjadi negara yang tingkat perkembangan ekonominya paling menakjubkan. Kapan ya giliran Indonesia!
Friday, October 14, 2005
Kalau yang privat di publikkan apakah ia masih privat? Ehm...sebuah pertayaan filosofis dari
Angela yang perlu dikaji secara kritis. Kita memang harus sepakat apa arti privat dan apa arti publik. Kata pada hakekatnya adalah sebuah konvensi. Orang mengatakan sesuatu sebagai "gelas" karena kita sepakat untuk menamainya "gelas". Maka bila suatu ketika orang membuat kesepakatan baru misalnya menggantinya dengan "piring" maka yang semula "gelas" akan menjadi "piring". Analogi yang sama bisa diterapkan dalam kata "privat". Saya kira kita sepakat privat adalah ruang subyektif yang terbatas untuk diakses. Atau sederhananya "ruang di mana hanya saya yang tahu". Sementara ruang publik adalah ruang yang mudah diakses oleh banyak orang. Contohnya, bertanya tentang usia kepada orang Amerika dianggap tidak sopan. Karena apa? Karena urusan usia itu masuk dalam ruang privat, jadi terbatas untuk diakses, kecuali si subyek "merelakan" ruang privatnya di publikkan. Begitu juga dengan orang berdandan. Alasan mengapa ia berdandan bisa jadi privat (jadi jangan tanya) tetapi kemudian menjadi publik bila intensinya biar diliat orang karena kemudian bisa diakses oleh banyak orang. Ruang privat dan ruang publik juga hasil konstruksi masyarakat. Yang privat di Amerika mungkin menjadi ruang publik di Indonesia. Begitu juga yang privat bagi saya mungkin jadi bukan privat bagi kamu. Konsep hak milik adalah contoh paling sederhana adanya ruang privat. Konsep otonomi pribadi, hak asasi menjadi jelas dengan pembedaan dua terminologi tersebut.
Ruang privat yang dipublikkan apakah masih privat? Tentu saja tidak karena mudah diakses oleh siapa saja. Tetapi pem-publik-an ruang privat tidak dengan sendirinya mengubah esensi ruang privat. Yang privat tetap privat selama kita sepakat itu hal privat. Ada konsep privat yang subyektif dan ada konsep privat yang obyektif. Yang satu konstruksi subyek yang satu hasil konvensi masyarakat. Yang subyektif tergantung pada tiap individu, yang obyektif dilindungi hukum positif. Jadi up to you mau mempublish apa saja di blog karena itu urusan subyektif kamu. Tapi jangan mencuri karena anda telah masuki ruang privat orang. Yang satu menyangkut etiket, yang satu menyangkut hukum positif.
Thursday, October 13, 2005
Satu hari setelah posting tentang etika perblogan, saya membuat kesalahan. Adalah
Angela Riwu Kaho, teman baru diblog yang mengingatkan bahwa saya tidak meninggalkan url waktu berkunjung ke blog dia. Saya salah karena kurang hati-hati waktu menulis alamat url. Masalahnya tidak saya cantumkan http://. Reaksi Angela dengan mempertanyakan pernyataan saya adalah sebuah feed back yang baik. Secara moral saya harus membenarkan kesalahan yang saya buat. Syukurlah Angela memahami keteledoran saya.
Kembali berpikir tentang blog. Dalam per-blog-an dunia privat dan publik menjadi tipis jaraknya. Kalau artis begitu menjaga privasi (tentu saja ketika ruang privatnya sudah habis terkomersialkan) maka para blogger secara tidak langsung menawarkan dunia privatnya kepada publik. Apakah ini hanya trend? Kemudian saya bertanya tentang makna kehadiran. Adakah makna kehadiran kemudian tereliminasi? Artinya "ada" nya kamu secara faktual dalam ruang dan waktu yang bisa diindera tidak lagi penting. Kehadiran faktual memang "meresahkan" kadang kala. Kehadiran selalu menuntut tanggungjawab dalam bentuk respon, baik respon negatif maupun positif. Saya "harus" jujur, tersenyum, memperhatikan kamu yang hadir dalam relasi timbal-balik. Tuntutan seperti itulah itulah yang tidak ada di blog. Jadi dalam arti tertentu aku bisa lebih bebas di blog tanpa harus "bersandiwara" tanpa harus merasa bertanggung jawab terhadap kamu. Ketika aku marah di blog aku tidak akan melempar kursi atau membanting piring. Karena kehadiran kamu bukan dalam ruang dan waktu yang bisa diindera, aku akan mengetik di keyboard dan mulai menulis (mungkin dengan banyak tanda seru atau simbol-simbol yang lain). Dalam era teknologi dunia seakan berlari dan kehadiran bisa dimanipulasi. Jarak tidak lagi menjadi masalah. Semua serba instant.
Saya hanya menunjukkan satu sisi dari berbagai sisi yang ada dalam per-blog-an secara kritis. Kalau kemudian saya menjadi blogger tentu saja ada kenyataan lain yang tidak bisa dipungkiri bermanfaat. Dari blogwalking saya memperoleh banyak insight baru, teman baru. Dari sekadar pengalaman remeh-temeh sampai yang ilmiah semua tersedia. Teknologi memang seperti pedang bermata dua. Sebagai manusia yang berpikir kita harus mengkontrolnya dan bukan sebaliknya!
Tuesday, October 11, 2005
Movie Summary
The movie is based on a true story situated in the 1994 Rwandan conflict in which a million souls were murdered. A brief introduction to the story is provided on the CD jacket.
“As his country descends into madness, five-star-hotel manager Paul Rusesabagina sets out to save his family. But when he sees that the world will not intervene the massacre of minority Tutsis, he finds the courage to open his hotel to over 1,200 refugees ..(with).. only his wits and words to keep them alive another hour…another day…”
The movie opened with Paul confident and comfortable in a world largely ruled by money and power. But as the horrific ordeal begins to unfold, Paul finds this world unreliable even hostile to the safety of his family, his neighbors, and those seeking shelter at the hotel. As these refugees are progressively abandoned by local, national and international authorities, Paul’s commitment to fight for the survival of all of them regardless of cost grows. In the end, largely through Paul’s actions, 1,268 lives are saved.
The Operative Major Themes or Values:
The story itself is a contest between many values. In this it offers the classic struggle between light and darkness, good and evil. But while the movie offers many values from each side; it is not neutral in the conflict. The virtue of human love is the ultimate value in this story. It is a love that rises above all manner of evil and hatred. Accordingly the movie’s message is that all people and all things only realize their true nature when they operate in a manner consistent with sincere love. For example, the movie shows that it is less than human to pursue money and power as an end in itself. Conversely, the movie shows Paul using money and power as tools to serve, protect, and save all of those that come into his care, thus showing Paul to be the most human and worthy of any of the authority figures that appear in the movie. Further it shows Paul earning his authority not through armed strength, or wealth, or political power but through his actions to live out his love for others. His behavior is particularly noteworthy since he consistently rejects any opportunity to secure his own well being in favor of pursuing safety for all of those around him. In fact his behavior in this movie seems to be an exposition of Saint Paul’s description of love in I Corinthians (chapter 13), as the manager is consistently patient, courageous, unselfish, hopeful, persevering, faithful, and loving.
The Source of the Values:
Given the situation portrayed in the movie, the traditional sources of values (family, society, institutions) are largely inoperative. So initially Paul seems to draw his values out of himself, his immediate family and his interaction with others. In doing so Paul seems to sense that all people share a common dignity. Conversely, he also believes that the selective application of dignity is not possible, that the principle is invalidated if it is invalidated. Given that Paul has no obvious human mentor or teacher in the movie, it appears that his awareness of this dignity is an innate gift from his creator, God. That is, his love for others is a gift from God. Paul clearly understands the seriousness of the overall situation and the personal risks he takes in his response. Therefore, he must draw on something or someone outside himself for guidance. These selfless acts of love can only come from God.
The Operative Theology:
The theology in this movie is harmonious with Christian beliefs and values. It is a theology of love, of hope, of healing, of salvation. Paul appears to take on the role of a Moses in saving his people from a hostile political power. Likewise, he appears to be a disciple of Jesus in his selfless search to heal, sustain, and save those he chooses to be responsible for. And, similar to both Jesus and Moses, he does not come to this realization all at once. It is a role that he discerns and grows into with each decision within each situation. It is also a forward looking theology, open to new situations and demands, and energized by hope. After Paul secures everyone’s safety, he is attentive to their healing. And he remains inclusive through all stages of the story. At the very end of the movie when he and his family are making their way to safe territory, he is told that there isn’t sufficient room on the buses provided for the journey. His calm and confident reply to this is based on the same principle he followed throughout the movie. “There’s always room.”
Day by day, I feel dizzy considering how to manage my time. I need 32 hours a day not 24 hours actually to be prepared in my courses. I have to read before class and make short note to memorize and make corellation of some important points. Otherwise, I will be lost during class. And, that happened so many times. Perhaps, I'm a prefectionist in study, to know exactly everything. I have a lot of papers to be submitted this coming week. But....everything is going well. At least, twice a week I go to Gym to play badminton. The Gym belongs to the University of Chicago. It is not far away from my base camp. Go..go...guy!
Monday, October 10, 2005
Three days ago I had discussion in group. My group consists of three Americans, one African and one Asian. The discussion itself was great. The fact that we are from different cultures really enriches me because I can see sexuality in different perspectives. The diversity in the group also points out that there are some differences as well as similarities how to understand sexuality in many cultures in the world. Every culture has its own world-view regarding sexuality. In Islamic perspective for example, it is influenced by the way the Muslims interpret the Koran. The Koran as a main and absolute source sometimes urges the Muslims to apply literally in real life situation. The problems rise because of the different interpretations among them. Some people are so strict and some are moderate. As result, there is a gap between the ideal (what it is written in the Koran) and the reality. The reality sometimes does not portray the ideal (what it is written). I grew up in the Muslims background and I see how injustice and the oppression of the women happen in the society. For example, the practice of polygamy is normal for some Muslims but some absolutely refuse it. In some areas, I see also that there is a significant progress where women take important part in the society as a rector of university even as a president. Although there is different perspective in any kind of cultures, but it can be concluded that there is also kind of general value that exists in many cultures. The idea of procreation, for example, is taken for granted and easily acceptable in every culture. It seems that procreation is the main purpose in sexuality so that it is very highly positive. The continuation of the particular tribe depends on the children that were born. Here, marriage between man and woman is highly recommended. Sexuality therefore is part of state of nature of human being. Also there is always correlation between sexuality and religious beliefs. Not only does sexuality involve our own private life, but also our religious beliefs influence our sexual behavior. In some cultures for example, sexual intercourse is something sacred so we need legitimacy from religious beliefs to do that. In some cultures in Asia or Africa, sexuality is not only something private but also public. By marriage of a couple, they build relationship between two families. In the society that is so traditional, social life takes part in shaping sexual behavior. Social life controls every body to obey the rules.
Sunday, October 09, 2005
Saya buta dunia Blog! Segalanya serba kebetulan dan semuanya masih dalam proses belajar. Ada kalanya muncul dilema dalam diri saya untuk mempublish sesuatu yang privat. Yang privat menjadi publik bila dipublish dan tentu saja menjadi liar karena menjadi milik publik. Saya sering juga berkunjung ke blog orang membaca cerita-cerita mereka dan kadang meninggalkan pesan. Tahu apa yang saya buat waktu meninggalkan pesan? Saya selalu cantumkan alamat URL saya. Maksudnya adalah to be fair. Saya telah memasuki dunia privat orang (meskipun mereka telah menjadikannya publik) maka secara moral saya pun harus menunjukkan jati diri saya. Kalau tidak, saya kemudian menjadi seorang pengintip. Seorang pengintip selalu menjadikan obyek yang diintip. Mereka yang diintip "dikonsumsi" habis! Meskipun saya, sebagai pemilik blog, "merelakan diri" diintip tapi kenyataannya ada harapan (sadar atau tidak sadar) bahwa orang menaruh perhatian terhadap apa yang saya tulis. Seorang blogger pernah mengeluh karena orang hanya meninggalkan pesan tanpa membaca isi blog. Hal itu ketahuan dari isi pesan yang tidak ada hubungan sama sekali dengan isi blog. Hal itu membuktikan bahwa memang ada harapan dan tujuan orang mempublish sesuatu. Pertanyaan saya adakah etika di perblog-an? Etika di sini dimengerti dalam arti yang sangat sederhana sebagai konvensi bersama di antara kita Blogger misalnya untuk mencantumkan alamat url-nya bila punya! Maksudnya agar kita bisa saling kunjung dan menyapa!
Thursday, October 06, 2005
Kehidupan di Amerika membuatku berpikir kembali tentang bagaimana peran agama dalam kehidupan sosial. Sungguh di luar dugaan bahwa agama yang diperkirakan kehilangan rohnya di era modernitas ternyata memiliki power yang luar biasa di Amerika. Buku klasik Max Weber "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" mencoba mencari hunbungan antara sekularisasi dan protestantisme. Tapi nubuat Weber menurutku tidak berlaku di Amerika. “Peculiaritis” dalam pemikiran Weber mengacu pada suatu kekhasan atau kekhususan yang terdapat pada masyarakat Barat. Letak kekhasannya adalah pada perkembangan masyarakatnya yang diwarnai gerakan ke arah yang lebih rasional yang membawa pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Menurut Weber pada masyarakat Barat terdapat suatu fenomena yang khas yang tidak terdapat dalam kebudayaan manapun, dan kalaupun ada pada kebudayaan lain pastilah dalam tingkat yang lebih rendah dari kebudayaan Barat. Misalnya ia menyebut sejumlah negara (India, Cina, Babilonia, dan Mesir) yang mempunyai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, tapi pengetahuan itu tidak sebanding dengan yang ada di Barat, artinya nilai rasionalnya masih kurang dan tidak membawa kemajuan yang berarti pada masyarakatnya. Pada bagian pendahuluan bukunya nampak sekali Weber memuji rasionalitas masyarakat Barat pada bidang-bidang keilmuan, misalnya sejarah, kesenian, arsitektur, politik. Kekhasan pada terletak pada aplikasi rasionalitas pada tatanan ekonomi yang praktis, di mana segala sesuatunya diatur dan ditata dalam kerangka “rasional”. Inilah yang menciptakan masyarakat kapitalis pada masyarakat Barat. Kapitalisme Barat menurut Weber identik dengan pengendalian atau pengekangan, atau setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari suatu keinginan-keinginan rasional. Tetapi kapitalisme juga secara pasti identik dengan pencarian keuntungan (profit) dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya, dengan usaha-usaha kapitalis yang rasional dan yang dilakukan secara terus-menerus. Selanjutnya Weber ingin melangkah lebih jauh dengan meneliti pengaruh ide-ide keagamaan tertentu (terutama Protestan dan sekte-sektenya dan Katolik) terhadap perkembangan suatu semangat ekonomi yang disebutnya sebagai etos suatu sistem perekonomian. Ada suatu hubungan antara ekonomi modern dengan etika-etika rasional protestantisme asketis yang bergerak dalam suatu evolusi. Selanjutnya pada Bab I, Weber melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kelompok Protestan dan Katolik dalam ekonomi. Weber mau menekankan bagaimana keunikan/kekhasan mental dan spiritual yang diperoleh dari lingkungan keagamaan mempengaruhi cara berlaku (realitas sosial) masyarakat Barat. Dari sudut sosiologi terdapat perbedaan yang menyolok antara kaum Protestan dan katolik pada tempat yang tertentu dalam perilaku ekonominya, misalnya sebagian besar pelaku bisnis adalah Protestan. Jadi “peculiarities” dalam buku Weber memang mengacu pada kekhasan budaya tempat di mana obyek penelitian Weber dilakukan (Barat) yang dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan lain (Cina, India, babbilon dan Mesir). Ide kapitalisme adalah khas Barat yang membara dan –juga membakar- masyarakatnya, yang mungkin debu-debunya menyebar ke luar. Bagian bab II bukunya, Weber menguraikan tentang arti semangat Kapitalisme bukan dengan suatu definisi konseptual tetapi melalui deskripsi sementara. Menurutnya usaha untuk menjelaskan arti semangat kapitalisme adalah dengan suatu individual historis, yaitu suatu struktur elemen yang berhubungan dengan realitas historis, yang disatukan menjadi suatu keseluruhan konseptual dari suatu pandangan mengenai pentingnya kebudayaan di dalamnya. Dalam menguraikan tentang semangat kapitalisme Weber menggunakan ilustrasi dari Benyamin Franklin yang baginya merupakan dokumen yang merangkum semangat kapitalisme, sebagai elemen-elemen esensial sikap kapitalisme dengan cara yang khas. Ungkapan-ungkapan seperti, “waktu adalah uang”, “kredit adalah uang”, “pembayar gaji yang baik adalah tuan dari dompet orang lain”, adalah khas kapitalis. Yang diungkap dari pernyataan Benyamin Franklin bukanlah suatu cara untuk membuat jalan seseorang menuju kesuksesan di dunia, tetapi merupakan etika yang khusus, juga bukan suatu kecerdikan bisnis, tetapi suatu ETOS. Sikap moral Franklin adalah utilitarianme, yang diwarnai kejujuran (karena menjamin kredit), ketepatan waktu, sikap rajin dan hemat. Semua itu merupakan suatu kebajikan dalam menjalankan praktek ekonomi. Kebajikan itu diukur dari nilai manfaat atau gunanya. Superior good dari etika semacam ini menolak segala kenikmatan hidup yang spontan dan tidak eudaemonistik. Usaha untuk mengumpulkan uang dalam tatanan ekonomi modern sejauh hal itu dilakukan dengan cara-cara yang legal akan merupakan hasil dan ungkapan dari kebajikan atau kecakapan dalam menanggapi panggilan (calling). Pendapat Franklin ini menjadi semacam etika sosial kapitalistik yang merupakan dasar fundamentalnya. Ekonomi kapitalistik merupakan suatu wahana raksasa tempat manusia berpentas sebagai individu-individu yang berhadap-hadapan, yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan tindakan kapitalistik. Kapitalisme menyeleksi orang-orang dalam proses “survival of the fittest” dalam bidang ekonomi, mereka yang tidak ikut “bermain” dalam aturan main yang ada pasti tersingkir dari medan laga. Tetapi perlu ditekankan bahwa semangat kapitalisme di sini bukanlah penggunaan kebebasan secara sewenang-wenang (liberal arbritation) melainkan usaha yang rasional. Di sini Weber kembali menampakkan kekhasan dari semangat kapitalisme yaitu sisi rasionalnya. Ilustrasi Franklin menggambarkan suatu logika rasional yang matematis dalam bidang ekonomi. Jika diterapkan dalam praktek perekonomian jelas akan menggeser tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Musuh utama semangat kapitalisme adalah tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Yang khas dalam uraian Weber adalah semakin berkembangnya nilai rasional manusia dalam perilaku ekonomi. Jadi hubungan antara kisah Franklin dengan semangat kapitalisme adalah semakin digesernya nilai-nilai yang tidak rasional dengan yang rasional. Adanya sebuah etos yang mewarnai tinndakan ekonomi seseorang yang semakin tertata rapi dan prosedural.
Hubungan antara asketisme Protestantisme dengan tingkah laku ekonomi dicari dalam praktek-praktek ministerial (kependetaan). Di sini kedudukan sosial orang kristen yang tergantung dari penerimaannya pada persekutuan (communion), clergymen, disiplin gereja dan khotbah, dapat memberikan suatu pengaruh pada pembentukan karakter atau watak nasional. Weber menyebut Richard Baxter sebagai penulis yang paling menonjol diantara penulis-penulis lain tentang etika-etika Puritan, karena sikapnya yang realistis dan praktis. Richard Baxter adalah sorang pendeta Presbyterian dan seorang apologis dari sinode Westminster, yang kemudian menjauhi dogma-dogma Calvinisme yang murni. Dia melayani bagian pemerintahan parlementer di Cromwell. Konsep kaum Puritan tentang panggilan (calling) sangat mempengaruhi perilaku ekonomi penganutnya. Makna kerja yang diakui sebagai sebuah panggilan untuk memuliakan Tuhan menjadi etos yang mempengaruhi kehidupan konkret kaum puritan. Membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip dosa yang mematikan. Kesalahan dalam menggunakan waktu dan kehidupan yang tidak teratur merupakan kesalahan moral yang absolut. Kehilangan satu jam secara percuma berarti kehilangan satu jam kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Kerja dengan demikian dinilai sebagai suatu sikap asketis yang disetujui, seperti yang dikatakan Santo Paulus, “yang tidak bekerja jangalah ia makan”. Richard Baxter misalnya berkhotbah berapi-api dan berulang-ulang tentang kerja yang baik, yang melibatkan keseluruhan mental dan badan secara terus-menerus. Kerja berlaku bagi siapa saja –karena itu menjadi suatu kewajiban- termasuk mereka yang kaya, karena merupakan takdir Ilahi (Providence) yang terungkap dalam panggilan. Konsekuensinya setiap orang kristen (puritan) di tuntut untuk ambil bagian secara aktif dalam panggilan Tuhan dalam kerja, dengan memanfaatkan segala keuntungan dari setiap kesempatan yang ada. Penekanan terhadap pentingnya asketis dari suatu panggilan (calling) yang bersifat pasti telah memberikan suatu pembenaran etis terhadap pembagian spesialisasi modern mengenai kerja. Interpretasi providential dari profit-making membenarkan aktivitas-aktivitas dari para pelaku bisnis. Tetapi perlu ditekankan bahwa asketisme protestan justru melawan kuat kenikmatan spontan akan kepemilikan harta benda duniawi, jadi mau membebaskan perolehan harta benda duniawi dari hambatan-hambatan etika tradisionalistis (melawan penggunaan irasionalitas dari kekayaan yang dimiliki). Menurut mereka yang rasional yang dikehendaki oleh Tuhan. Askese kaum Puritan seperti itu kemudian dibawa keluar dari tembok monastik ke dalam praktek nyata kehidupan setiap hari dan mulai mendominasi moralitas duniawi. Askese itu akhirnya berperan membangun kosmos yang luarbiasa dari tatanan perekonomian modern. Pendapat ini semakin dikuatkan oleh teologi Kitab Perjanjian Lama, yaitu tentang anugerah dan berkat bagi umat yang menuruti petunjuk-petunjuk Ilahi. Puritanisme membawa ETOS organisasi rasional mengenai kapital dan kerja serta menjadi tempat kelahiran manusia ekonomi modern. Salah satu dari elemen-elemen fundamental dari semangat kapitalisme modern adalah perilaku rasional yang didasarkan kepada panggilan (calling) yang lahir dari askese kristen (sebagaimana ditunjukkan Richard Baxter). Dengan demikian askese Protestan memang menyumbang bagi perkembangan kapitalisme melalui etos kerjanya.. Dan ini membenarkan tesis Weber tentang adanya hubungan antara faham keagamaan dengan realitas sosial.
Jubah iron-cage kapitalisme terjadi setelah kekuatan kapitalisme menjadi semakin solid dan menguasai kehidupan manusia. Kekuatan itu membentuk “sangkar besi” yang tidak lagi memerlukan dukungan askese keagamaan. Apa yang dulu dilahirkan dari askese protestan sekarang mengabaikan bahkan tidak memerlukannya lagi. Ketertarikan pada askese dan nilai-nilai keagamaan telah memudar daan bahkan terlepas sama sekali. Pemenuhan panggilan (calling) tidak dapat lagi dihubungkan dengan nilai spiritual, dilepaskan begitu saja dari makna etis dan keagamaan. Ironisnya lagi segala kemuliaan itu dihubungkan dengan keinginan besar yang murni duniawi, dan orang lebih suka tinggal di dalamnya. Arah peradaban Barat berutang pada asketisme Protestan tetapi harus berakhir dengan sangkar besi kapitalisme. Di sini terjadi proses rasionalisasi. Rasionalisasi dalam terminologi Weber-seperti yang telah dibahas pada tugas terstruktur sebelumnya- menyangkut tindakan prosedural, tatanan rapi yang birokratis. Nampaknya sikap rasional ini membawa orang pada “kepercayaaan diri” diri yang lebih penuh pada kemampuan dirinya. Realitas duniawi dipisahkan secara tegas dengan realitas Ilahi, keduanya mempunyai medan sendiri-sendiri. Inilah yang disebut sekularisasi yang meluruhkan pesona magi yang sebelumnya menguasai pemikiran Barat. Sekularisasi merupakan keniscayaan tetapi sekularisme patut disayangkan. Masyarakat ternyata lebih menyukai meminggirkan pesona spiritual dan memilih mengurus dunia dengan kebebasan yang lebih (tidak terikat yang Ilahi). Dalam arti tertentu Weber menangisi kenyataan ini.
Wednesday, October 05, 2005
The more I follow the discussion about the Eucharist the more I become confused. First of all, up to now I have never had problem with my understanding of the Eucharist. I just take for granted whatever the church has taught me. I grew up in the traditional circumstances where popular devotions take important part in daily life. It is amazing to know that many theologians now have different point of view about the Eucharist. I just think the consequences we can draw from their preposition. Whatever the conclusion is, every opinion has its own consequences. Therefore, here I will convey my own opinion regarding the debate and discussion about the Eucharist. To trace the genesis of the Eucharist some theologians go to the Gospel itself. The results are so different among them. Some theologians say that we have to understand the Eucharist as one part of Jesus’ meals. Here, the Eucharist is understood as a community action rather than a cultic action. In my opinion, one thing that is very important in the Catholic Church is tradition. I can say everything we do regarding the liturgy or popular devotions are always formed in the continuation of history. The tradition, therefore, always frames the manifestation of some practices. We cannot simply think that everything comes by itself without process of formation. In this case, we have to stress the process of formation that is how some practices come into being. John Meier is one theologian who stands on this stance. He tries to answer an intriguing question about the Eucharist at the Last Supper, did it happen? I absolutely agree with him when he says that we cannot simply argue that Last Supper is one of meals Jesus did. We have to pay attention as well to the fact that Jesus’ word at last Supper make his attitude toward his death clearer and more specific. If we put the Eucharist just one part of Jesus’ meals, we will lose some theological aspects that are very important. As we know that the Eucharist can be viewed by the point of view of the Old Testament. Jesus is the one who has been prophesied in the Old Testament. If we ignore the importance of the Old Testament in understanding the Eucharist, therefore we lose one source of our reflection. I think some theologian stress too much in the historical Jesus and do not keep in balance with the risen Jesus. This tendency, in my opinion, is influenced by new paradigm to view the Gospel solely as a historical source. The major fallacies we ever do are to seek easy, simplistic answers to terribly complex questions. For example, the opinion that says that the Last Supper is only one part of Jesus’ meal brings consequences among the people of God. It will reduce the deep meaning of the Eucharist. Consequently, some people will question the importance of celebrating the Eucharist in the religious community. The fact that the church has been celebrating the Eucharist for 2000 years proves that the question is not as simple as we think. There is always something precious in the Eucharist, either in the theological meaning or in the practice. Therefore, a new understanding of the Eucharist has to pay attention to the evolution of the Eucharist itself. It means that in tracing the genesis of the Eucharist, we cannot simply discuss about whether Jesus did the Last Supper or not. Most importantly, how far our discussion enriches our understanding in building the community. Do we think the importance of the Eucharist in transforming the world to be better? That is more important I think!
Sunday, October 02, 2005
Today I had a marvellous day. In the morning, I went to China Town to have an Indonesia mass. But first, I attended a cantonese mass as well. It was a part of my concern to know mass in other language. Eventhough I didn't understand at all what was going on in the celebration, I tried to follow every step of the celebration. Fortunately the priest translated in English one part of the homily. After mass we had lunch together. That's the best moment I think to know each other. After lunch I went home with Ignas and Wawan by train and bus. As usual, my weekend passed by very fast while a lot papers have to be done. And again I just wonder why my computer cannot display my blog properly! I have been building my blog to beautify it but unfortunately not every computer can open my blog. Oh....my God help me!
Book: The Banquet’s Wisdom- A short history of the Theologies of the Lord’s Supper
Author: Gary Macy
Pages: 5-14
1. That news is always someone’s news, news in which particular group of people is interested. The pattern here is to ask something and someone else has to explain. From this point, the history can be traced.
2. History is about the past and the present and all we have in the past is in the present. So, here we are deciding. Our interest in the event will influence the way to interpret history.
3. People interpret the present to discover the past. To recreate the past is impossible because we can not go back to the past.
4. History changes and historians try to interpret the source of history with different ways (sometimes with interested parties).
5. There is temptation to interpret the history of the Church according to things, as historians want to be. So every Church has their own interpretation in looking their history according to the most important event in their history. The history of the Eucharist is not the history of one tradition of faith.
6. There is different opinion about the theology of the Eucharist.
From the six points I mentioned above, point (2) and (6) I already knew. It is obvious that our interpretation toward history sometimes is influenced by our own interest. Our interest will direct our mind to the ideal we want to be. In the oppressed regime, for example the government creates their interpretation in history in order to serve their interest. One history that seems very similar could be very different for two different people. The data we have can not stand by themselves but those data are the sources to be interpreted.
The fact that there is different point of view regarding the theology of the Eucharist is not something new. As far as I know especially in the Catholic tradition, Eucharist becomes the most important thing in the Christian life. Other denominations may have different opinion about the Eucharist.
Sometimes we do not pay attention to the importance of tracing history. We very often just take for granted what is fixed today without question it. It will be very dangerous to claim as if we were always right and someone else is wrong. Attention to the history is something new for me especially to remind me to be careful in discerning or evaluating theological issues especially in the term of ecumenism.
Saturday, October 01, 2005
When I was reading that article, I was really struck by the new insights the writer offers to me. My understanding about the Eucharist is influenced by the formation I have ever had in my own culture. The simple understanding I have is the fact that the Eucharist I usually celebrate is a continuation of the Last Supper. Therefore, when I participate in the Eucharist, I recall the salvation from God through Jesus Christ. Here, I understand the Eucharist as a cultic action of the people of God. Jesus really presents in the Eucharist. In the body and blood of Christ, I partake in God’s salvation. My theological understanding of the Eucharist is based on the “official document” from the church. Actually, I never have a deep understanding on the Eucharist. I just follow what the church says in the “official document”.
I think Nathan Mitchell reminds me about the original meaning of the Eucharist. The Eucharist is the table of the needy. That meaning can be traced in the Gospel. Normally, a table’s prime function is to establish social ranking and hierarchy. Normally, a meal is about social identification, status and power. But, the very randomness of Jesus table habits challenged this system of social relations modeled on meals and manners. Mitchell brings new reflection when he shows me the genesis of the Eucharist in the Gospel.
When I consider the Eucharist, I will think about the Last Supper Jesus did with his disciples. I still keep in mind the understanding that Jesus instituted the Eucharist during the Last Supper. However, the new insight I get from the article is to remember that the Last Supper itself is in fact a scandalous tale of incomprehension and betrayal. In fact, the disciples have failed to grasp the significance of Jesus and his ministry. Here, we understand the Eucharist primarily as a community meal that is a time of joyful assembly and care of the needy. The new insights in the article enrich my understanding on the Eucharist. It will help me to appreciate the Eucharist not only as a ritual, but also as a celebration in the community. I think that true understanding helps us to avoid a scandalous action in celebrating the Eucharist. It does not replace my old understanding, but it complements each other in understanding the Eucharist.
I think the Eucharist is something fragile. It is easy to be misunderstood. For example in my own culture, eating is really understood as an occasion to share everything. But, there is always a privileged person we invite as a presider. As a presider he or she has to be a facilitator to bring the attendance to the core of the meal. Here the function of a presider is important. So, priest as a presider in the Eucharist is easily accepted in my culture. Our understanding on the Eucharist is really influenced by our own culture where we grew up. As something fragile, the Eucharist can be understood only as a meal and people can easily forget the deepest meaning. We cannot stop in the meal itself but to go beyond that God invites us in the meal. It is very dangerous too if we cannot distinguish the ordinary meal and the Eucharist. If we did not pay attention to the core of celebration we would make a scandalous meal. My question is how we can view the difference understanding of the Eucharist in our church?