Thursday, March 31, 2005
Menari dalam waktu!
Catatan ini aku tulis di Jakarta tertanggal 27 April 2002 di sudut kamarku ketika aku sedang bergulat dengan "waktu".
"Siapakah dapat memastikan kehidupan ini? Adakah orang yang telah merencanakan semua dan tahu apa yang akan dialaminya kelak? Tak satu pun aku kira. Aku berjalan dalam lintasan waktu. Hari berlalu dan kadang aku pun berpikir, "Hai waktu berhentilah sejenak tunggu aku barang sejenak agar aku dapat menyelesaikan tugas-tugasku sesuai dengan waktu yang kutetapkan." "Hai waktu! Mengapa engkau berlalu bahkan berlari begitu cepat sementara aku masih termangu. Aku bermimpi seandainya aku bisa menghentikan waktu. Bisakah sewaktu-waktu aku mencuri start dan masuk finis paling awal? Hari demi hari semakin kusadari bahwa waktu adalah rentang di mana aku bertanding berhadapan muka dengan realitas, bergumul dengan tantangan. Segala litani tentang waktu adalah tanda aku gentar berlaga dalam pentas kehidupan, ketakutan, bergetar di hadapan lawan-lawanku. Mengapa aku takut?"
Kini tiga tahun telah berlalu dan aku ingin menari dalam waktu.


Mimpi
Saat itu aku termangu
Menatapmu penuh tanya
Di hadapku berdiri seorang bidadari
Mata berbinar menatap tajam
Senyum terkulum seribu misteri
Dalam kebimbangan kusapa sang bidadari
"Engkaukah sang bidadariku?
Sejenak aku terlelap dalam imagi
Engkaukah masa lalu itu?
Kau hadir kembali bidadariku
Dalam bingkai aurora ungu
Masih seperti dulu
(Busyet! aku bermimpi.....di pagi hari)


Tuesday, March 29, 2005
Waktu
Semula aku menyakini waktu adalah hasil kreasi budiku karena itu sebagian catatan harianku tidak bertanggal. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumya ternyata waktu adalah sesuatu yang obyektif ada di luar subyek, jadi ia bukanlah hasil kreasi subyek, bukanlah hasil konvensi. Seandainya toh, aku tidak sepakat tentang waktu, kenyataaannya waktu akan tetap berjalan. Sependapat dengan apa yang dikatakan Anthony Gidden dengan istilah runaway world bahwa dunia ini seakan berlari tunggang langgang, maka aku pun menyatakan bahwa telah terjadi pemadatan (compression) waktu dalam kehidupanku. Tidak ada kehendak dalam diriku untuk menguasai waktu karena waktu berjalan liar di luar kendaliku. Duniaku berlarilah dan daku pun mengejarmu.


Monday, March 28, 2005
Seni Hidup
Hidup bahagia bukanlah kalkulasi berbagai kenikmatan. Juga bukan sepinya hidup dari pengalaman-pengalaman menyesakkan. Karena kalau demikian yang terjadi betapa sederhananya hidup ini. Kenyataannya kebahagiaan terjadi dalam kontinuitas penghayatan hidup dalam berbagai ketegangannya, ambiguitas dan ketidakpastiannya. Kemampuan diri untuk mengelola ketegangan agar tetap seimbang menjadi seni hidup. Akhirnya juga kebahagiaan melibatkan sebuah pilihan untuk mencari makna yang tersembunyi di balik tantangan-tantangan yang ada.


Gelisah
Bagaimana orang hidup dalam kegelisahan terus-menerus? Itulah pertanyaan dasar dalam hidupku. Aku melihat imanku sebagai bentuk kegelisahan tentang Tuhan. Adakah ini kreasi budiku? Aku kira tidak. Kegelisahan budi akan berakhir bila ditemukan jawaban pasti entah melalui analisa matematis atau pun refleksi kritis. Tetapi sebentuk kegelisahan dalam diriku ini bersisi jamak, sebuah kegelisahan yang melelahkan tetapi juga menyenangkan. Melelahkan karena seolah aku berjalan dan bergulat dalam lintasan tanpa ujung (sebuah pencarian yang tidak ada kata akhir), menyenangkan karena tanpa kegelisahan aku merasa cukup diri merasa sepi. Kegelisahan membuat aku kreatif berpikir dan mencari pola-pola keimanan baru. Tetapi sekali lagi kapa kegelisahan ini berakhir? Tuhan semoga kegelisahanku membuat semakin mengimani Engkau!
Aku tidak tahu kapan Allah bosan denganku. Yang aku tahu adalah ketidaksetiaanku untuk bersyukur kepada-Nya. Setiap kali Ia menyapaku, setiap kali juga aku mengabaikannya. Allah adalah setia, Ia memberikan apa yang kuminta sesuai dengan usaha yang kubuat. Kalau Dia setia mengapa aku tidak setia? Tuhan berilah aku rahmat kesetiaan.


Oleh-oleh dari China Town
Image hosted by Photobucket.com
Wawan, daku, Petrus, Avent and Denny. Mejeng nih habis kondangan bareng.

Image hosted by Photobucket.com
Daku, Ajeng ama Petrus

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com


Sunday, March 27, 2005
Easter
Happy Easter for all. I celebrated Easter at St.Therese Church last night. It was a tremendous celebration because it was my first time for me celebrating Easter in the USA. one year ago I had Easter celebration in Mentawai where I really participated as a presider of celebration. Only a few of people attended the Easter Mass but it looked very unique because most of them were chinese people. I joined the choir and sang several songs in the balcony. Easter is always something interesting in my life. I remember when I was in Indonesia during Easter season I used to prepare something special such as decorating the church, making kind of cake and so forth. This morning I joined Indonesian mass presided by fr.Michael. After mass we had a nice lunch. Everybody brought their food and put together. There were alot of food, especially chinese food. I like chinese food very much. Today is my last day in chicago (I've been here for four days). Tomorrow I will go back to Franklin. Thanks for all of my friends who help me to enjoy my vacation. See you guys...


Friday, March 25, 2005
I'm Tired
Oh..my God I was so tired today. I went bed late so I didn't enough time to organize myself Imean to arrange my own schedule. Ignas asked us to give him a hand. It was a bad duty to canalize the drainage.....the sink was clogged. I went to China Town with Petrus by car. Wawan drove us. Over there Ignas had been waiting us for a while. But..today was not too bad, actually I like working such as cleaning the floor, washing dishes and so forth. Today I had the station of the cross in China Town. Many Indonesian came so I was able to talk with them. I just to say hi and hello. Tomorrow I'm gonna prepare for Easter celebration especially join the choir. I wanna participate in this celebration even though celebration in Indonesia is always more interesting. Thank Gos for everything You have given to me.


Thursday, March 24, 2005
Numpang lewat.


Image hosted by Photobucket.com

Gelap memang tapi apa boleh buat. Dari kiri ke kanan, Rethar (sacred heart school of theology), P.Eddy Osc (chatolic theological union), P. Kuntoro Adi SJ (marquette university), P.Rudy Osc (CTU). Indahnya pelangi hijau, merah, kuning, biru.



Holy Thursday
It was a nice day that I could spend my time to help some people. This morning I went to China Town with Petrus and Ignas by car. I was tired because last night I played badminton. It was very difficult to adjust myself in this kind of sport after for along time I never played badminton. I gave Michael a hand to prepare Holy Thursday. Holy Thursday is a celebration to recall the last supper Jesus did with His disciples before He died. I decorated little bit the church by hanging some pictures and organized the dinning room while Michael cooked special menu for us. There were plenty of food we could eat. I cooked rice for Indonesian students especially Deny who likes rice very much. Tomorrow it gonna be busier than today because I must prepare many things for Easter celebration. According to the schedule this coming week we gonna have an Indonesian Mass. I hope I still have quite energy to prepare my heart for the presence of Jesus Christ.


Wednesday, March 23, 2005
the power of now
I don't know exactly how many people already opened my Blog. I hope a lot of people enjoy my blog even though I only tell nothing special. Actually I like to write down my experience. Now if I open again my diary when I was in yunior high school, oh..I am so excited. And, sometimes I think..oh I shouldn't have done something stupid like that.I find one story when I fell in love with my classmate who sat close to me in my class. I was so shy at that time so I kept quiet for along time and never told her about my feeling. The time went by very fast and I still didn't have a proper word to say hi or hello. Finally until I graduated I never told her anything. Oh my God...Recently, I tell her honestly my feeling but in the different purpose, because she already got married.I said to her "You know I used to fall in love with you when we were in the same class". She was laughing and she said that actually she had already known at that time. I don't want my past time bind and tie me. I want to do something now. My past time is part of my life and I will never forget it but it remains a track of my life. I believe the power of now.


Monday, March 21, 2005
Salju

Image hosted by Photobucket.com
Indahnya salju.....


Sunday, March 20, 2005
Masak
Makan adalah saat yang paling mengasyikkan apalagi kalau ada temannya. Acara makan bisa menjadi lama karena kita biasa bercerita tentang apa saja di meja makan. Minggu ini aku kebagian masak. Aku sempat berpikir menu beda untuk minggu ini dan minggu depan. Tapi karena keterbatasan pengetahuan tentang masak yah..jadinya sama saja. Nasi dan Pizza wajib untuk hari minggu plus wine dan ice cream baru unsur tambahan yang lain. Hari ini daku masak istimewa hanya sayang cuman makan sedikit karena ada undangan dari teman untuk makan di Restoran China. Wah....jadinya daku pergi ama Ignas dan P. Kun. Asyik banget di sana daku bisa merasakan sedikit rasa Indonesia. Udah kenyang nih....


Saturday, March 19, 2005
Nostalgia
Image hosted by Photobucket.com
Wahai kawan masih ingatkah saat-saat kebersamaan kita? Tidak terasa waktu terus berlalu seolah menambah manisnya kenangan kebersamaan kita. Made di Meksiko, Agung and Walian di Paris. Semoga kita selalu ingat komitmen kita.
Image hosted by Photobucket.com
Agung, Hani, Walian and daku. Indahnya kebersamaan.


Sahabat Sejati


Image hosted by Photobucket.com
Ini nih tiga bidadari turun dari langit, Sendy, Christine dan Natalia. Mereka adalah sahabat sejati, setia sampai mati.
Image hosted by Photobucket.com
Kalau yang ini nih Gaby and Natalia Waktu Valentine kemarin. Smoga aja senang fotonya di publish.



Friday, March 18, 2005
Menjelajahi dunia maya
Dalam beberapa hari ini aku sering mengembara di dunia maya. Melalui shutbox daku coba menjelajahi dunia per-blog-kan. Nggak terasa dua jam berlalu dan aku berpikir bahwa aku telah membuang banyak waktu. Tapi setelah dipikir-pikir tidak. Betapa aku terkesima melihat orang begitu dekat dengan sapaan-sapaan hangat. Aku tidak tahu kalau misalnya kita bertemu setiap hari akankah demikian yang terjadi? Lalu kucoba bikin komentar setelah membaca sedikit pengalaman orang lain. Eh...hari berikutnya dianya balas. Lama-lama aku berpikir asyik juga. Kadang terasa lucu juga bahwa ada seorang yang men-scan soal ujian ekonomi lalu posting. Soal itu dapat aku baca dengan jelas dan tergoda juga aku mengerjakannya. Aku tersenyum ini mah...gampang seperti soal aku dulu waktu di SMU. Lalu ada yang posting foto spaghetti hanya untuk meyakinkan bahwa ia masak spaghetti. Banyak cara untuk mengekspresikan diri dengan jujur. Ada yang share tentang nemu uang dan banyak saran masuk ke shutboxnya. Sebenarnya cukup bagiku untuk menerima realitas tersebut tanpa reserve tapi naluri filsafatku nggak bisa diam untuk merefleksikannya. Daku berpikir tentang jarak dan waktu yang terkompres, tentang makna "kehadiran". Mungkinkah "kata" sudah merepresentasikan "kehadiran" seseorang? Mungkin saja istilah "privacy" perlu direkonstruksi ulang? Posting berarti mem-publik-kan yang privat, ia menjadi milik siapa saja, aku hanya memegang kontrol karena aku punya password.


Thursday, March 17, 2005
Rindu... aku rindu!
Lagi seneng-senengnya posting kali hingga hari ini daku posting beberapa kali. Memang fasilitas di sini sungguh luar biasa segalanya serba pribadi. Daku masih ingat waktu di Indonesia hanya ada satu komputer yang terhubung dengan internet sehingga setiap orang dapet satu hari dalam seminggu. Jadinya harus nunggu seminggu untuk buka email kalau nggak sabar yah...kolusi ama teman atau pergi ke warnet. Eh...di sini mau apa saja tersedia. Entah mengapa hari ini hari yang penuh dengan nostalgia. Saat kupandangi salju turun dari cendela kamarku membuatku kagum, indah sungguh indah. Salju tipis turun menempel di antara pepohonan tanpa daun. Pikirku sempat melayang ke masa kecil ketika daku menanti hujan pertama di musim kemarau. Hujan rintik dengan aroma tanah yang khas membuatku rindu ke masa kecilku. Sempat juga sih berharap ke masa lalu tapi itu mustahil. Sebenarnya daku tak rela meninggalkan masa kecilku. Terlalu indah untuk dilupakan demikian istilah romantisnya. Aku rindu Indonesiaku, rindu masakan ibu yang pedas, rindu pada mie ayam di perempatan cempaka putih, rindu teman-teman di STF, rindu nonton liga Italia, rindu dan rindu. Trus..ingatanku melayang ke masa setahun lalu di Mentawai. Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu Mentawai. Mentawai adalah nama pulau kecil di sebelah barat Padang SUMBAR. Di sana daku tinggal 10 bulan, daku belajar bahasanya, mengenal orangnya, mengarungi lautnya, menikmati hutannya. Seolah tidak ada kisah duka di sana. Yang paling indah di sana adalah acara nembak ikan di laut dangkal. Lutnya masih asli dengan hutan bakau yang masih asli. Daku pergi bersama Matteo dan beberapa turis dari Itali...luar biasa. Daku sendiri nggak berani nembak ikan soalnya takut ama ikan hiu daku cuman mancing. Banyak ikan kami dapat lalu mampir di pulau kecil dan bakar ikan. Luar biasa kenangan itu masih terekam dengan begitu sempurna. Daku bikin banyak foto di sana hanya sayang semua foto daku tinggal di rumah sekarang. Tak terasa masa itu berlalu. In the name of obedience daku tinggalkan Mentawai dan pergi ke Jakarta. Di sinilah kembali daku berjuang. Daku harus ke USA studi....waktu itu daku tahu betapa susahnya ngurus Visa ke Amrik. Datang ke kedutaan pertama untuk ambil formulir di tolak oleh petugas disuruh datang keesokan harinya. Lalu besoknya lagi di tolak karena harus sore harinya. Sore harinya giliran tukang parkir tolak di bayar Rp.500 minta Rp.1000. Baru hari ketiga dapet formulir. Tapi formulir tidak bisa dikembalikan sebelum ada I20, jadi daku harus nunggu I20 dari Amrik. Daku ngurus visa bulan Juli sementara Agustus akhir harus sudah di Amrik. Oh..my God Almigthy. Singkat kata singkat cerita daku akhirnya dapat I20 terus wawancara dan.....thank God berhasil. Daku bisa liburan ke Bali dan Lombok ketemu ama teman lama, sebulan di rumah. Rindu aku rindu tetapi mengingat perjuanganku daku sadar betapa hidupku penuh perjuangan. Aku harus menyimpan rinduku sampai dua tahun lagi.


Call it a day...
Today I have no class so it's the best time to organize my life little bit. Yesterday I borrowed a lot of CD from my school and I hope I can watch it to night. This morning, I went to the Fire Side theatre with Alfredo, Francois, Dominic, Adolf and Valery. I had a lot of fun because I was able to enjoy a terrific lunch...wine and special coffee. After that we went around to look for many things. At 1.30 we watched special performance, titled "West Side Story". It was a sad story, looks like Shakespeare in Love's story. Perhaps, I was the only Indonesian over there, most of them Irish. Remember today they are celebrating St. Patrick's Day. Any way this coming week will be great for me. I plan to travel to Chicago, meet a lot of people and join Indonesian community. Here, I live alone without friend so sometimes I feel lonely.


Di Beranda Ini
Di beranda ini
Aku termangu
Menatap sudut-sudut wajahmu
Terasa membawaku terbang tinggi

Di beranda ini
Kuukir seribu satu pikir
Melintas selaksa asa
Memendam seteguk rindu

Di beranda ini
Aku bermimpi
Bermimpi tentangmu
Saat kusapa lembut namamu

Di beranda ini
Aku menanti
Sebuah kepastian
Lalu.....
Sepi
(waktu itu pukul 13.30 di beranda 36)


Wednesday, March 16, 2005
Sapa Ambigu sang "Aku"
Kubalut wajah ini
di balik warna-warni kemilau
Di balik kata dan sapa memikat
Di balik harum dan semerbak puja
PikirKU "Lihatlah aku!
Betapa baiknya AKU
Betapa mengesankan AKU
Betapa menakjubkan AKU

AKU, siapakah AKU
Hai AKU bukan aku
AKU tidak kenal aku
AKU berbeda dengan aku
Tapi mengapa aku mengikut AKU?
Pergilah aku, AKU tidak mau aku ada di dekatKU
(Tuhan di manakah AKU?)


St. Patrick's Day
Today, St. Patrick's Day is celebrated by people of all backgrounds in the United States. The first St. Patrick's Day parade took place not in Ireland, but in the USA. Irish soldiers serving in the English military marched through New York City on March 17, 1762. Along with their music, the parade helped the soldiers to recconect with their Irish roots, as well as fellow Irishmen serving in the English army. Over the next thirty-five years, Irish patriotism among American immigrants florished, promting the rise of so-called "Irish Aid" societies, like the Friendly Sons of Saint Patrick and the Hibernian Society. Each group would hold annual parades featuring bagpipes (which actually became popular in the Scottish and British armies) and drums. On television we can watch the great parade in New York. During this celebration, everything is decorated by green color. Green....I like this color.....I hope Spring is coming....


Monday, March 14, 2005
Runaway World
Daku orang baru di dunia per-Blog-kan. Swear pertama daku masih takut nulis apalagi yang menyangkut persoalan privacy. Blog menurut daku mempublikasikan ruang privat ke ruang publik. Daku seolah share without frontier, tanpa batas. Posting berarti melepas ke ruang publik sesuatu yang privat. Adakah yang tersisa dari yang privat? Daku salut ama mereka yang berani share masalah yang paling pribadi ke publik seolah tanpa takut. Inikah trend? Ada beberapa bekas murid daku di Jakarta yang heran mengapa daku orang yang mereka kenal sebagai introvert person dan cenderung ortodoks mau posting. Daku kemudian ingat kata Anthony Gidden dalam "Runaway World" bahwa dunia modern diwarnai oleh waktu yang tunggang langgang, berlari lepas kendali. Blog merupakan produk dari waktu yang berlari. Daku bisa "berhadapan dengan orang yang jauh di sana" seolah hadir di layar komputer. Bagi mereka yang mau berbagi, daku hadir untuk anda.


Sunday, March 13, 2005
Kitchen....oh.. kitchen
I just wanna think something fun. I realize that I should be independent in many things. Today I cooked for my community. Cooking for me is not something difficult, I'm accustomed to cooking even though in my culture cooking is the woman's bussines. Now, I'm thinking about kitchen. I like kitchen (I'm not kidding). Normally, every house has a special room where every body is welcome to go inside and do something (of course that is the kitchen). There are a lot of things close to the kitchen like recipes, ingredients, a radio, a telephone, even a television. It's amazing that everybody is welcome in the kitchen. There, I meet others just to make fun conversation. In the kitchen, I can talk about many thing without thinking too much, for example I can learn together how to cook or try a new recipe. Today I cooked chicken and spaghetti. So, obviously the kitchen is the most important room in our house, not only because of its original function, but also because of its flexibility. I'm sure everybody enjoys going to the kitchen. It is something interesting, isn’t it? Actually the kitchen is the place that I go over there very often even during midnight. Oh....I'm starving now.....so let's go to the kitchen guys!


Nothing Special
Weekend kali ini terasa sepi sekali, inginnya sih main ke Chicago tapi dingin bok...trus banyak kerjaan lagi dari sekolah belum kelar. Nggak tahu tuh susah sekali bagiku untuk konsentrasi pada satu pekerjaan. Banyak waktu daku habiskan di depan komputer. Yah...sekadar menghilangkan penat dengan mencari beberapa artikel tentang Filsafat dan Teologi. Blog ini menyita banyak waktu karena daku kurang mahir dalam bidang komputer. Daku paling males di depan komputer karena mata ini nggak kuat. Sebenarnya daku bisa online 24 jam kalau mau tapi during lenten season I need to mortify little bit...Yah akhirnya daku ke Mount Carmel ikut Misa dan bantu old people. Menyenangkan sekali bisa ngobrol ama oma-opa di panti jompo ini. Daku bayangkan kalau daku tua nanti pasti kayak mereka. Anyway nothing special today. I hope tomorrow will be better than today.



Thursday, March 10, 2005
I'm enjoying a rock climbing.


Enjoy
With Brook Haley in alterra coffe Posted by Hello

I'm enjoying a cup of cofee


Wednesday, March 09, 2005
Agama di Amerika
Kehidupan di Amerika membuatku berpikir kembali tentang apa itu sosiologi agama. Sungguh di luar dugaan bahwa agama yang diperkirakan kehilangan rohnya di era modernitas ternyata memiliki power yang luar biasa di Amerika. Buku klasik Max Weber "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" mencoba mencari hunbungan antara sekularisasi dan protestantisme. Tapi nubuat Weber menurutku tidak berlaku di Amerika.
“Peculiaritis” dalam pemikiran Weber mengacu pada suatu kekhasan atau kekhususan yang terdapat pada masyarakat Barat. Letak kekhasannya adalah pada perkembangan masyarakatnya yang diwarnai gerakan ke arah yang lebih rasional yang membawa pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Menurut Weber pada masyarakat Barat terdapat suatu fenomena yang khas yang tidak terdapat dalam kebudayaan manapun, dan kalaupun ada pada kebudayaan lain pastilah dalam tingkat yang lebih rendah dari kebudayaan Barat. Misalnya ia menyebut sejumlah negara (India, Cina, Babilonia, dan Mesir) yang mempunyai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, tapi pengetahuan itu tidak sebanding dengan yang ada di Barat, artinya nilai rasionalnya masih kurang dan tidak membawa kemajuan yang berarti pada masyarakatnya. Pada bagian pendahuluan bukunya nampak sekali Weber memuji rasionalitas masyarakat Barat pada bidang-bidang keilmuan, misalnya sejarah, kesenian, arsitektur, politik. Kekhasan pada terletak pada aplikasi rasionalitas pada tatanan ekonomi yang praktis, di mana segala sesuatunya diatur dan ditata dalam kerangka “rasional”. Inilah yang menciptakan masyarakat kapitalis pada masyarakat Barat. Kapitalisme Barat menurut Weber identik dengan pengendalian atau pengekangan, atau setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari suatu keinginan-keinginan rasional. Tetapi kapitalisme juga secara pasti identik dengan pencarian keuntungan (profit) dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya, dengan usaha-usaha kapitalis yang rasional dan yang dilakukan secara terus-menerus. Selanjutnya Weber ingin melangkah lebih jauh dengan meneliti pengaruh ide-ide keagamaan tertentu (terutama Protestan dan sekte-sektenya dan Katolik) terhadap perkembangan suatu semangat ekonomi yang disebutnya sebagai etos suatu sistem perekonomian. Ada suatu hubungan antara ekonomi modern dengan etika-etika rasional protestantisme asketis yang bergerak dalam suatu evolusi. Selanjutnya pada Bab I, Weber melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kelompok Protestan dan Katolik dalam ekonomi. Weber mau menekankan bagaimana keunikan/kekhasan mental dan spiritual yang diperoleh dari lingkungan keagamaan mempengaruhi cara berlaku (realitas sosial) masyarakat Barat. Dari sudut sosiologi terdapat perbedaan yang menyolok antara kaum Protestan dan katolik pada tempat yang tertentu dalam perilaku ekonominya, misalnya sebagian besar pelaku bisnis adalah Protestan. Jadi “peculiarities” dalam buku Weber memang mengacu pada kekhasan budaya tempat di mana obyek penelitian Weber dilakukan (Barat) yang dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan lain (Cina, India, babbilon dan Mesir). Ide kapitalisme adalah khas Barat yang membara dan –juga membakar- masyarakatnya, yang mungkin debu-debunya menyebar ke luar. Bagian bab II bukunya, Weber menguraikan tentang arti semangat Kapitalisme bukan dengan suatu definisi konseptual tetapi melalui deskripsi sementara. Menurutnya usaha untuk menjelaskan arti semangat kapitalisme adalah dengan suatu individual historis, yaitu suatu struktur elemen yang berhubungan dengan realitas historis, yang disatukan menjadi suatu keseluruhan konseptual dari suatu pandangan mengenai pentingnya kebudayaan di dalamnya. Dalam menguraikan tentang semangat kapitalisme Weber menggunakan ilustrasi dari Benyamin Franklin yang baginya merupakan dokumen yang merangkum semangat kapitalisme, sebagai elemen-elemen esensial sikap kapitalisme dengan cara yang khas. Ungkapan-ungkapan seperti, “waktu adalah uang”, “kredit adalah uang”, “pembayar gaji yang baik adalah tuan dari dompet orang lain”, adalah khas kapitalis. Yang diungkap dari pernyataan Benyamin Franklin bukanlah suatu cara untuk membuat jalan seseorang menuju kesuksesan di dunia, tetapi merupakan etika yang khusus, juga bukan suatu kecerdikan bisnis, tetapi suatu ETOS. Sikap moral Franklin adalah utilitarianme, yang diwarnai kejujuran (karena menjamin kredit), ketepatan waktu, sikap rajin dan hemat. Semua itu merupakan suatu kebajikan dalam menjalankan praktek ekonomi. Kebajikan itu diukur dari nilai manfaat atau gunanya. Superior good dari etika semacam ini menolak segala kenikmatan hidup yang spontan dan tidak eudaemonistik. Usaha untuk mengumpulkan uang dalam tatanan ekonomi modern sejauh hal itu dilakukan dengan cara-cara yang legal akan merupakan hasil dan ungkapan dari kebajikan atau kecakapan dalam menanggapi panggilan (calling). Pendapat Franklin ini menjadi semacam etika sosial kapitalistik yang merupakan dasar fundamentalnya. Ekonomi kapitalistik merupakan suatu wahana raksasa tempat manusia berpentas sebagai individu-individu yang berhadap-hadapan, yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan tindakan kapitalistik. Kapitalisme menyeleksi orang-orang dalam proses “survival of the fittest” dalam bidang ekonomi, mereka yang tidak ikut “bermain” dalam aturan main yang ada pasti tersingkir dari medan laga. Tetapi perlu ditekankan bahwa semangat kapitalisme di sini bukanlah penggunaan kebebasan secara sewenang-wenang (liberal arbritation) melainkan usaha yang rasional. Di sini Weber kembali menampakkan kekhasan dari semangat kapitalisme yaitu sisi rasionalnya. Ilustrasi Franklin menggambarkan suatu logika rasional yang matematis dalam bidang ekonomi. Jika diterapkan dalam praktek perekonomian jelas akan menggeser tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Musuh utama semangat kapitalisme adalah tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Yang khas dalam uraian Weber adalah semakin berkembangnya nilai rasional manusia dalam perilaku ekonomi. Jadi hubungan antara kisah Franklin dengan semangat kapitalisme adalah semakin digesernya nilai-nilai yang tidak rasional dengan yang rasional. Adanya sebuah etos yang mewarnai tinndakan ekonomi seseorang yang semakin tertata rapi dan prosedural.
Hubungan antara asketisme Protestantisme dengan tingkah laku ekonomi dicari dalam praktek-praktek ministerial (kependetaan). Di sini kedudukan sosial orang kristen yang tergantung dari penerimaannya pada persekutuan (communion), clergymen, disiplin gereja dan khotbah, dapat memberikan suatu pengaruh pada pembentukan karakter atau watak nasional. Weber menyebut Richard Baxter sebagai penulis yang paling menonjol diantara penulis-penulis lain tentang etika-etika Puritan, karena sikapnya yang realistis dan praktis. Richard Baxter adalah sorang pendeta Presbyterian dan seorang apologis dari sinode Westminster, yang kemudian menjauhi dogma-dogma Calvinisme yang murni. Dia melayani bagian pemerintahan parlementer di Cromwell. Konsep kaum Puritan tentang panggilan (calling) sangat mempengaruhi perilaku ekonomi penganutnya. Makna kerja yang diakui sebagai sebuah panggilan untuk memuliakan Tuhan menjadi etos yang mempengaruhi kehidupan konkret kaum puritan. Membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip dosa yang mematikan. Kesalahan dalam menggunakan waktu dan kehidupan yang tidak teratur merupakan kesalahan moral yang absolut. Kehilangan satu jam secara percuma berarti kehilangan satu jam kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Kerja dengan demikian dinilai sebagai suatu sikap asketis yang disetujui, seperti yang dikatakan Santo Paulus, “yang tidak bekerja jangalah ia makan”. Richard Baxter misalnya berkhotbah berapi-api dan berulang-ulang tentang kerja yang baik, yang melibatkan keseluruhan mental dan badan secara terus-menerus. Kerja berlaku bagi siapa saja –karena itu menjadi suatu kewajiban- termasuk mereka yang kaya, karena merupakan takdir Ilahi (Providence) yang terungkap dalam panggilan. Konsekuensinya setiap orang kristen (puritan) di tuntut untuk ambil bagian secara aktif dalam panggilan Tuhan dalam kerja, dengan memanfaatkan segala keuntungan dari setiap kesempatan yang ada. Penekanan terhadap pentingnya asketis dari suatu panggilan (calling) yang bersifat pasti telah memberikan suatu pembenaran etis terhadap pembagian spesialisasi modern mengenai kerja. Interpretasi providential dari profit-making membenarkan aktivitas-aktivitas dari para pelaku bisnis. Tetapi perlu ditekankan bahwa asketisme protestan justru melawan kuat kenikmatan spontan akan kepemilikan harta benda duniawi, jadi mau membebaskan perolehan harta benda duniawi dari hambatan-hambatan etika tradisionalistis (melawan penggunaan irasionalitas dari kekayaan yang dimiliki). Menurut mereka yang rasional yang dikehendaki oleh Tuhan. Askese kaum Puritan seperti itu kemudian dibawa keluar dari tembok monastik ke dalam praktek nyata kehidupan setiap hari dan mulai mendominasi moralitas duniawi. Askese itu akhirnya berperan membangun kosmos yang luarbiasa dari tatanan perekonomian modern. Pendapat ini semakin dikuatkan oleh teologi Kitab Perjanjian Lama, yaitu tentang anugerah dan berkat bagi umat yang menuruti petunjuk-petunjuk Ilahi. Puritanisme membawa ETOS organisasi rasional mengenai kapital dan kerja serta menjadi tempat kelahiran manusia ekonomi modern. Salah satu dari elemen-elemen fundamental dari semangat kapitalisme modern adalah perilaku rasional yang didasarkan kepada panggilan (calling) yang lahir dari askese kristen (sebagaimana ditunjukkan Richard Baxter). Dengan demikian askese Protestan memang menyumbang bagi perkembangan kapitalisme melalui etos kerjanya.. Dan ini membenarkan tesis Weber tentang adanya hubungan antara faham keagamaan dengan realitas sosial.
Jubah iron-cage kapitalisme terjadi setelah kekuatan kapitalisme menjadi semakin solid dan menguasai kehidupan manusia. Kekuatan itu membentuk “sangkar besi” yang tidak lagi memerlukan dukungan askese keagamaan. Apa yang dulu dilahirkan dari askese protestan sekarang mengabaikan bahkan tidak memerlukannya lagi. Ketertarikan pada askese dan nilai-nilai keagamaan telah memudar daan bahkan terlepas sama sekali. Pemenuhan panggilan (calling) tidak dapat lagi dihubungkan dengan nilai spiritual, dilepaskan begitu saja dari makna etis dan keagamaan. Ironisnya lagi segala kemuliaan itu dihubungkan dengan keinginan besar yang murni duniawi, dan orang lebih suka tinggal di dalamnya. Arah peradaban Barat berutang pada asketisme Protestan tetapi harus berakhir dengan sangkar besi kapitalisme. Di sini terjadi proses rasionalisasi. Rasionalisasi dalam terminologi Weber-seperti yang telah dibahas pada tugas terstruktur sebelumnya- menyangkut tindakan prosedural, tatanan rapi yang birokratis. Nampaknya sikap rasional ini membawa orang pada “kepercayaaan diri” diri yang lebih penuh pada kemampuan dirinya. Realitas duniawi dipisahkan secara tegas dengan realitas Ilahi, keduanya mempunyai medan sendiri-sendiri. Inilah yang disebut sekularisasi yang meluruhkan pesona magi yang sebelumnya menguasai pemikiran Barat. Sekularisasi merupakan keniscayaan tetapi sekularisme patut disayangkan. Masyarakat ternyata lebih menyukai meminggirkan pesona spiritual dan memilih mengurus dunia dengan kebebasan yang lebih (tidak terikat yang Ilahi). Dalam arti tertentu Weber menangisi kenyataan ini.


Tuesday, March 08, 2005
Fides Quaerens Intellectum
Hari ini aku coba buka-buka kembali disketku waktu aku masih studi Filsafat di Jakarta. Aku sungguh-sungguh kagum dengan beberapa pemikiran yang pernah daku punya kala itu. Salah satunya tanggapanku terhadap pemikiran Ahmad Wahib seorang pemikir muda Islam yang mati muda. Kadang aku mengagumi pemikiranku sendiri waktu itu dan daku bertanya mengapa aku bisa berpikir sejauh itu. Aku menyukai Filsafat, setiap saat pikiranku mengelana.
Kegelisahan Wahib: Fides Quaerens Intellectum?
Setiap pendapat yang dilontarkan ke lingkup publik berarti membiarkannya terbuka dan tentu saja memicu pro dan kontra. Itu sudah pasti. Begitu juga dengan catatan harian Ahmad Wahib yang banyak mendapat tanggapan. Berbagai tanggapan itu hendaknya dinilai sebagai wacana (discourse) yang merupakan salah satu iklim yang sehat dalam perdebatan filosofis. Setelah membahas beberapa teks Wahib kiranya menambahkan beberapa poin kritis. Pertama, bahwa apa yang disebut sebagai bentuk “kegelisahan” dari Wahib bukanlah fenomen baru, begitu juga dengan perdebatan yang menindaklanjutinya. Pembahasan pemikiran Islam sepanjang sejarah pun diwarnai aneka perdebatan (baca: discourse). Perdebatan yang paling terkenal misalnya terjadi antara Ibn Ruysd dan al-Ghazali. Pembicaraan tentang pemikiran Islam sebagai suatu proses dialektis ternyata terus mengundang pertanyaan-pertanyaan yang menunggu jawaban. Isu-isu seputar moderitas, demokrasi, hubungan agama-negara, liberalisme merupakan isu-isu krusial yang dihadapi pada umumnya.Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan dalam filsafat Islam adalah apakah Islam memerlukan pemikiran dari sumber lain, bukankah al-Quran dan Sunnah sudah mencukupi untuk sebuah bangunan pemikiran? Muncul anggapan bahwa dengan al-Quran dan Sunnah sebenarnya umat Muslim tidak perlu lagi mengadopsi pemikiran dari tempat lain, misalnya dari Yunani atau demokrasi ala Barat. Maka tidak heran bila umat Muslim untuk sekian lama “memandang sebelah mata” pemikiran-pemikiran di luar dirinya. Bahkan konon “pembebasan” umat Muslim tidak dilanjutkan sampai ke daerah Eropa karena daerah itu di pandangnya kurang membawa manfaat selain juga di luar intensi mereka untuk menaklukkan daerah tersebut.
Apakah kemudian latar belakang demikian menyebabkan kemunduran dalam pemikiran Islam belum dapat dipastikan. Tetapi telah menjadi kenyataan sejarah bahwa pemikiran Islam untuk sekian lama mengalami kemunduran. Gejala kemunduran ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya menyangkut pertarungan sengit dan panjang dengan otoritas keagamaan. Untuk sekian lama tradisi filsafat dalam Islam mengalami stagnasi yang serius. Bahkan di banyak tempat, filsafat diharamkan untuk dipelajari. Kedua, Wahib adalah salah satu orang yang tidak puas dengan pemahaman Islam yang beku dan kaku, yang semata-mata terpaku pada teks dan mengabaikan kreatifitas budi manusia. Wahib bergulat dengan ketegangan antara rasio dan iman, yang terkenal dengan ungkapan fides quaerens intellectum, iman yang membutuhkan rasionalitas. Pergulatan Wahib memang terasa radikal bila diletakkan pada konteks zamannya yaitu era 70-an di mana misalnya isu-isu menyangkut sekularisasi (isme) sedang hangat-hangatnya dibahas. Maka bisa dimengerti pergulatan seorang anak muda pada zamannya yang merasa “tidak cukup diri” dengan pemahaman-pemahaman yang berkembang di zamannya. Wahib adalah satu dari sekian anak muda yang menaruh perhatian pada agama yang dicintainya. Pemikiran Wahib merupakan satu di antara pemikiran yang lain yang ikut menyalakan api yang membara dalam pemikiran Islam. Seandainya ia masih hidup kita yakin ia akan gembira ketika melihat pemikirannya mendapat tanggapan yang positif bahkan menjadi inspirasi beberapa orang muda untuk berani berpikir liberal. Dan sebenarnya ia telah mengingatkan para pengkritiknya ketika menyatakan:
“Penilaian agamis” (berpahala, berdosa, kafir dan lain-lain) terhadap pribadi lain, tidak tepat bila dipraktekkan oleh manusia karena pengetahuan manusia yang sangat terbatas tentang pribadi-pribadi lain. Karena itu “vonis keagamaan” adalah semata-mata monopoli Allah dan tidak seorangpun yang berhak mengganti jabatan Allah”.
Dari tokoh-tokoh seperti Wahib, pemikiran Islam terus dikembangkan sebagai suatu proses yang belum selesai. Akhirnya generasi sekarang harus belajar dari kegelisahan serupa yaitu kegelisahan yang memicu sikap kreatif. Wahib adalah sosok yang berani menghadapi sebuah kegelisahan, berani masuk pada pencarian penuh ketidakpastian dengan kepercayaan dan harapan. Iman dalam pemahaman Wahib tidak bertentangan dengan akal budi. Semakin orang memaksimalkan peran akalnya dalam memperkuat imannya maka iman pun semakin dimurnikan, FIDES QUAERENS INTELLECTUM


Monday, March 07, 2005
Dia
Sunyinya malam ini mengingatkan aku pada sebentuk wajah yang lama tersimpan dalam lubuk hatiku. Ia sebenarnya tidak lebih dari sekadar masa lalu yang terlalu naif untuk diingat. Aku ingin melupakannya bahkan menguburnya dalam-dalam. Mengingatnya berarti menghadirkan kisah cinderala yang prematur. "Aku akan melupakannya" kataku suatu ketika. Aku lupa bahwa "melupakan" berarti membiarkannya berlalu. Dan aku semakin gila bahwa melupakan berarti juga mengingatnya. Akhirnya aku mencoba untuk tidak melupakannya. Maka jadilah ia password setiap email dan blogku. Aku ingin menuliskannya sesering mungkin yah...sesering aku membuka email. Aku ingin menjadi terbiasa dengannya setiap hari. Mungkin dengan cara itulah aku akan melupakannya.


Sunday, March 06, 2005
Weekend
This weekend I went to Chicago to attend Peter's perpetual vows. We were three, Valery, Francois and I. We went there by train from Kenosha at 5.50 pm. P. Larry drove us. It was a cloudly day but not in our heart because we were really happy. I needed to relax actually after I worked hard for along time. But....unfortunately we got lost in Chicago. According to the schedule we should have gotten Chicago's station at 7.27 pm, but it didn't came about. We got out one station before the last and it was wrong. Finally we took a taxi to go to downtown's station. Over there Ignaz was waiting for us. I made a mistake because I'm not an angel. Thanks God that You educate me to be a patience person.


Saturday, March 05, 2005
Happy
I think happines is our part of life. I don't know why I always wonder about that. I ask myself why I am happy. I am happy because I can overcome my problem by myself. Everything is going easy. I just need to accept my happines without reserve.


Thursday, March 03, 2005
Waktu
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ingin rasanya aku mengejar waktu bila perlu mendahuluinya. Aku hanya ingin bekata kepada waktu, "Maukah engkau menungguku?. Lihatlah betapa banyak hal tidak dapat aku selesaikan. Aku perlu belajar dari mereka yang tidak pernah punya kepastian dalam hidupnya namun bahagia. Aku ingin belajar dari mereka yang bisa tersenyum dalam penderitaan. Aku ingin.....mungkin lebih baik aku ingin "tidak ingin". Yah...dalam kepenuhan yang ilahi.