Kehidupan di Amerika membuatku berpikir kembali tentang apa itu sosiologi agama. Sungguh di luar dugaan bahwa agama yang diperkirakan kehilangan rohnya di era modernitas ternyata memiliki power yang luar biasa di Amerika. Buku klasik Max Weber "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" mencoba mencari hunbungan antara sekularisasi dan protestantisme. Tapi nubuat Weber menurutku tidak berlaku di Amerika.
“Peculiaritis” dalam pemikiran Weber mengacu pada suatu kekhasan atau kekhususan yang terdapat pada masyarakat Barat. Letak kekhasannya adalah pada perkembangan masyarakatnya yang diwarnai gerakan ke arah yang lebih rasional yang membawa pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Menurut Weber pada masyarakat Barat terdapat suatu fenomena yang khas yang tidak terdapat dalam kebudayaan manapun, dan kalaupun ada pada kebudayaan lain pastilah dalam tingkat yang lebih rendah dari kebudayaan Barat. Misalnya ia menyebut sejumlah negara (India, Cina, Babilonia, dan Mesir) yang mempunyai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, tapi pengetahuan itu tidak sebanding dengan yang ada di Barat, artinya nilai rasionalnya masih kurang dan tidak membawa kemajuan yang berarti pada masyarakatnya. Pada bagian pendahuluan bukunya nampak sekali Weber memuji rasionalitas masyarakat Barat pada bidang-bidang keilmuan, misalnya sejarah, kesenian, arsitektur, politik. Kekhasan pada terletak pada aplikasi rasionalitas pada tatanan ekonomi yang praktis, di mana segala sesuatunya diatur dan ditata dalam kerangka “rasional”. Inilah yang menciptakan masyarakat kapitalis pada masyarakat Barat. Kapitalisme Barat menurut Weber identik dengan pengendalian atau pengekangan, atau setidak-tidaknya identik dengan suatu watak rasional, dari suatu keinginan-keinginan rasional. Tetapi kapitalisme juga secara pasti identik dengan pencarian keuntungan (profit) dan keuntungan yang dapat diperbaharui untuk selamanya, dengan usaha-usaha kapitalis yang rasional dan yang dilakukan secara terus-menerus. Selanjutnya Weber ingin melangkah lebih jauh dengan meneliti pengaruh ide-ide keagamaan tertentu (terutama Protestan dan sekte-sektenya dan Katolik) terhadap perkembangan suatu semangat ekonomi yang disebutnya sebagai etos suatu sistem perekonomian. Ada suatu hubungan antara ekonomi modern dengan etika-etika rasional protestantisme asketis yang bergerak dalam suatu evolusi. Selanjutnya pada Bab I, Weber melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang kelompok Protestan dan Katolik dalam ekonomi. Weber mau menekankan bagaimana keunikan/kekhasan mental dan spiritual yang diperoleh dari lingkungan keagamaan mempengaruhi cara berlaku (realitas sosial) masyarakat Barat. Dari sudut sosiologi terdapat perbedaan yang menyolok antara kaum Protestan dan katolik pada tempat yang tertentu dalam perilaku ekonominya, misalnya sebagian besar pelaku bisnis adalah Protestan. Jadi “peculiarities” dalam buku Weber memang mengacu pada kekhasan budaya tempat di mana obyek penelitian Weber dilakukan (Barat) yang dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan lain (Cina, India, babbilon dan Mesir). Ide kapitalisme adalah khas Barat yang membara dan –juga membakar- masyarakatnya, yang mungkin debu-debunya menyebar ke luar. Bagian bab II bukunya, Weber menguraikan tentang arti semangat Kapitalisme bukan dengan suatu definisi konseptual tetapi melalui deskripsi sementara. Menurutnya usaha untuk menjelaskan arti semangat kapitalisme adalah dengan suatu individual historis, yaitu suatu struktur elemen yang berhubungan dengan realitas historis, yang disatukan menjadi suatu keseluruhan konseptual dari suatu pandangan mengenai pentingnya kebudayaan di dalamnya. Dalam menguraikan tentang semangat kapitalisme Weber menggunakan ilustrasi dari Benyamin Franklin yang baginya merupakan dokumen yang merangkum semangat kapitalisme, sebagai elemen-elemen esensial sikap kapitalisme dengan cara yang khas. Ungkapan-ungkapan seperti, “waktu adalah uang”, “kredit adalah uang”, “pembayar gaji yang baik adalah tuan dari dompet orang lain”, adalah khas kapitalis. Yang diungkap dari pernyataan Benyamin Franklin bukanlah suatu cara untuk membuat jalan seseorang menuju kesuksesan di dunia, tetapi merupakan etika yang khusus, juga bukan suatu kecerdikan bisnis, tetapi suatu ETOS. Sikap moral Franklin adalah utilitarianme, yang diwarnai kejujuran (karena menjamin kredit), ketepatan waktu, sikap rajin dan hemat. Semua itu merupakan suatu kebajikan dalam menjalankan praktek ekonomi. Kebajikan itu diukur dari nilai manfaat atau gunanya. Superior good dari etika semacam ini menolak segala kenikmatan hidup yang spontan dan tidak eudaemonistik. Usaha untuk mengumpulkan uang dalam tatanan ekonomi modern sejauh hal itu dilakukan dengan cara-cara yang legal akan merupakan hasil dan ungkapan dari kebajikan atau kecakapan dalam menanggapi panggilan (calling). Pendapat Franklin ini menjadi semacam etika sosial kapitalistik yang merupakan dasar fundamentalnya. Ekonomi kapitalistik merupakan suatu wahana raksasa tempat manusia berpentas sebagai individu-individu yang berhadap-hadapan, yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan tindakan kapitalistik. Kapitalisme menyeleksi orang-orang dalam proses “survival of the fittest” dalam bidang ekonomi, mereka yang tidak ikut “bermain” dalam aturan main yang ada pasti tersingkir dari medan laga. Tetapi perlu ditekankan bahwa semangat kapitalisme di sini bukanlah penggunaan kebebasan secara sewenang-wenang (liberal arbritation) melainkan usaha yang rasional. Di sini Weber kembali menampakkan kekhasan dari semangat kapitalisme yaitu sisi rasionalnya. Ilustrasi Franklin menggambarkan suatu logika rasional yang matematis dalam bidang ekonomi. Jika diterapkan dalam praktek perekonomian jelas akan menggeser tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Musuh utama semangat kapitalisme adalah tradisionalisme ekonomi yang tidak rasional. Yang khas dalam uraian Weber adalah semakin berkembangnya nilai rasional manusia dalam perilaku ekonomi. Jadi hubungan antara kisah Franklin dengan semangat kapitalisme adalah semakin digesernya nilai-nilai yang tidak rasional dengan yang rasional. Adanya sebuah etos yang mewarnai tinndakan ekonomi seseorang yang semakin tertata rapi dan prosedural.
Hubungan antara asketisme Protestantisme dengan tingkah laku ekonomi dicari dalam praktek-praktek ministerial (kependetaan). Di sini kedudukan sosial orang kristen yang tergantung dari penerimaannya pada persekutuan (communion), clergymen, disiplin gereja dan khotbah, dapat memberikan suatu pengaruh pada pembentukan karakter atau watak nasional. Weber menyebut Richard Baxter sebagai penulis yang paling menonjol diantara penulis-penulis lain tentang etika-etika Puritan, karena sikapnya yang realistis dan praktis. Richard Baxter adalah sorang pendeta Presbyterian dan seorang apologis dari sinode Westminster, yang kemudian menjauhi dogma-dogma Calvinisme yang murni. Dia melayani bagian pemerintahan parlementer di Cromwell. Konsep kaum Puritan tentang panggilan (calling) sangat mempengaruhi perilaku ekonomi penganutnya. Makna kerja yang diakui sebagai sebuah panggilan untuk memuliakan Tuhan menjadi etos yang mempengaruhi kehidupan konkret kaum puritan. Membuang-buang waktu merupakan dosa pertama dan secara prinsip dosa yang mematikan. Kesalahan dalam menggunakan waktu dan kehidupan yang tidak teratur merupakan kesalahan moral yang absolut. Kehilangan satu jam secara percuma berarti kehilangan satu jam kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Kerja dengan demikian dinilai sebagai suatu sikap asketis yang disetujui, seperti yang dikatakan Santo Paulus, “yang tidak bekerja jangalah ia makan”. Richard Baxter misalnya berkhotbah berapi-api dan berulang-ulang tentang kerja yang baik, yang melibatkan keseluruhan mental dan badan secara terus-menerus. Kerja berlaku bagi siapa saja –karena itu menjadi suatu kewajiban- termasuk mereka yang kaya, karena merupakan takdir Ilahi (Providence) yang terungkap dalam panggilan. Konsekuensinya setiap orang kristen (puritan) di tuntut untuk ambil bagian secara aktif dalam panggilan Tuhan dalam kerja, dengan memanfaatkan segala keuntungan dari setiap kesempatan yang ada. Penekanan terhadap pentingnya asketis dari suatu panggilan (calling) yang bersifat pasti telah memberikan suatu pembenaran etis terhadap pembagian spesialisasi modern mengenai kerja. Interpretasi providential dari profit-making membenarkan aktivitas-aktivitas dari para pelaku bisnis. Tetapi perlu ditekankan bahwa asketisme protestan justru melawan kuat kenikmatan spontan akan kepemilikan harta benda duniawi, jadi mau membebaskan perolehan harta benda duniawi dari hambatan-hambatan etika tradisionalistis (melawan penggunaan irasionalitas dari kekayaan yang dimiliki). Menurut mereka yang rasional yang dikehendaki oleh Tuhan. Askese kaum Puritan seperti itu kemudian dibawa keluar dari tembok monastik ke dalam praktek nyata kehidupan setiap hari dan mulai mendominasi moralitas duniawi. Askese itu akhirnya berperan membangun kosmos yang luarbiasa dari tatanan perekonomian modern. Pendapat ini semakin dikuatkan oleh teologi Kitab Perjanjian Lama, yaitu tentang anugerah dan berkat bagi umat yang menuruti petunjuk-petunjuk Ilahi. Puritanisme membawa ETOS organisasi rasional mengenai kapital dan kerja serta menjadi tempat kelahiran manusia ekonomi modern. Salah satu dari elemen-elemen fundamental dari semangat kapitalisme modern adalah perilaku rasional yang didasarkan kepada panggilan (calling) yang lahir dari askese kristen (sebagaimana ditunjukkan Richard Baxter). Dengan demikian askese Protestan memang menyumbang bagi perkembangan kapitalisme melalui etos kerjanya.. Dan ini membenarkan tesis Weber tentang adanya hubungan antara faham keagamaan dengan realitas sosial.
Jubah iron-cage kapitalisme terjadi setelah kekuatan kapitalisme menjadi semakin solid dan menguasai kehidupan manusia. Kekuatan itu membentuk “sangkar besi” yang tidak lagi memerlukan dukungan askese keagamaan. Apa yang dulu dilahirkan dari askese protestan sekarang mengabaikan bahkan tidak memerlukannya lagi. Ketertarikan pada askese dan nilai-nilai keagamaan telah memudar daan bahkan terlepas sama sekali. Pemenuhan panggilan (calling) tidak dapat lagi dihubungkan dengan nilai spiritual, dilepaskan begitu saja dari makna etis dan keagamaan. Ironisnya lagi segala kemuliaan itu dihubungkan dengan keinginan besar yang murni duniawi, dan orang lebih suka tinggal di dalamnya. Arah peradaban Barat berutang pada asketisme Protestan tetapi harus berakhir dengan sangkar besi kapitalisme. Di sini terjadi proses rasionalisasi. Rasionalisasi dalam terminologi Weber-seperti yang telah dibahas pada tugas terstruktur sebelumnya- menyangkut tindakan prosedural, tatanan rapi yang birokratis. Nampaknya sikap rasional ini membawa orang pada “kepercayaaan diri” diri yang lebih penuh pada kemampuan dirinya. Realitas duniawi dipisahkan secara tegas dengan realitas Ilahi, keduanya mempunyai medan sendiri-sendiri. Inilah yang disebut sekularisasi yang meluruhkan pesona magi yang sebelumnya menguasai pemikiran Barat. Sekularisasi merupakan keniscayaan tetapi sekularisme patut disayangkan. Masyarakat ternyata lebih menyukai meminggirkan pesona spiritual dan memilih mengurus dunia dengan kebebasan yang lebih (tidak terikat yang Ilahi). Dalam arti tertentu Weber menangisi kenyataan ini.